Profil

Perjuangan Wening di Tengah Pandemi Covid-19, Berjualan dan Bersedekah

Seorang mahasiswi asal Lampung, Yesi Wening Sari, memilih bertahan di tengah pandemi Covid-19. Disela-sela waktunya mengajar sebagai guru les privat, untuk menghidupi kebutuhan sehari-harinya, ia pun mulai berpikir untuk lebih produktif.

Impitan kondisi ekonomi yang juga banyak dirasakan masyarakat Indonesia di tengah pandemi Covid-19. Serta membuat banyak masyarakat tak produktif karena terkena pemutusan kerja dan lainnya membuat Wening pun berpikir keras.

Kerja keras, misalnya berjualan seperti di era normal sebelum adanya wabah, pun tak lagi cukup menghadapi kondisi tersebut. Pun, untuk mulai beralih dengan memanfaatkan teknologi.

“Orang kecil yang jualan sistem antar susah keluar masuk, selalu disorot Pak Dukuh. Tapi mau bagaimana lagi ya, tidak bisa hanya mengandalkan jualan lewat online secara dadakan,” ucap Wening yang juga disela kesibukannya berjualan keripik tempe melalui online maupun sistem konvensional.

Berangkat dari hal itu pula, Wening yang tak bisa mudik dan berdomisili sementara di Balong Donoharjo, Sleman, pun berusaha untuk keluar dari impitan ekonomi dengan tetap berjualan keripik tempe.

Bersama 2 orang ibu-ibu PKK di tempatnya, Wening pun membuat terobosan baru dalam berjualan keripik tempenya. Di mana di bungkus keripik tempenya itu ia beri kalimat dan doa penggugah semangat hidup bagi seluruh masyarakat Indonesia.

“Do’a khusyuk untuk Indonesia, pesan cinta semangat sembuh, semangat Indonesia,” tulisnya di luar kemasan keripik tempe yang dijualnya Rp15.000 per bungkus.

Tak hanya sekedar doa. Wening yang dapat keuntungan dari menjual keripik tempenya tak dipakai untuk dirinya sendiri. Doa di bungkus keripik tempe diwujudkan dengan memberikan keuntungan dari jualannya melalui Baznas.

“Ini untuk melatih mental, kemandirian, dan untuk belajar bersedekah. Karena hasil dari jualan ini dijadikan sebagai bentuk kegiatan sosial  yang berorientasi filantropi Islam,” ujar Wening.

Kegigihan Wening tersebut menurut Mizan Habibi, Ketua Prodi Pendidikan Agama Islam (PAI) Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta adalah sebuah keniscayaan.

Menurutnya, seorang mahasiswi di perguruan tinggi, memang seharusnya memiliki mental yang tangguh. Hal ini karena sesungguhnya mahasiswa dan mahasiswi tidak hanya sedang belajar bidang ilmu, namun juga belajar tentang kemandirian hidup.

“Semoga banyak Wening-Wening yang lain,” harapnya.(aw/dn)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close