Olahraga

Ex Garuda Indonesia Agus Yuwono Berbagi Kisah di Dunia Sepakbola Tanah Air

Siapa yang menyangka, legenda Arema Agus Yuwono ternyata mampu menjadi pemain Timnas Indonesia hanya gara-gara celana pramuka miliknya tidak ditemukan saat akan berangkat ke sekolah.

Mantan dirigen Aremania, Yosep El Kepet yang kini menjadi salah satu Youtuber kenamaan di Kota Malang mengupas tuntas perjalanan karir seorang Agus Yuwono yang dulunya merupakan pemain Arema, Persema hingga Timnas Indonesia. Semuanya dikupas dalam akun YouTube El Kepet Kelab Henam.

Berawal dari rutinnya para legenda Arema yang melakukan pertemuan dengan para bermain bola di wilayah Malang Raya, El Kepet mencoba mendatangi salah satu lapangan di wilayah Sempal Wadak Kabupaten Malang.

Di sana, El Kepet bertemu salah satu legenda Arema yang mengawali karir dari tim hingga bisa menembus Timnas Indonesia, dia adalah Agus Yuwono.

Ya, jika Aremania dekade tahun 90an sudah pasti hapal dengan sosok legenda sepakbola satu ini. Dan mungkin melalui tulisan ini, Aremania milenial mampu mengenal dan mengenang bagaimana perjuangan legenda Arema yang membawa nama baik Singo Edan kala itu.

Kembali ke pembahasan Agus Yuwono yang bisa menembus Timnas Indonesia karena celana pramuka yang akan digunakan ternyata tidak ketemu saat dicari pagi hari ketika akan berangkat sekolah.

“Kebetulan waktu mau berangkat sekolah hari Jumat, itu kan waktunya pakai baju pramuka, saya cari celana itu lho tidak ketemu, lama sekali. Kala itu masih SMP, di SMP 4 Malang di Kepanjen,” kenang Agus Yuwono.

“Karena celana ketlisut (terselip), saya dijemput Alm. Setyo Budiarto (mantan Arema juga). Di situ saya diberi tahu ada seleksi (sepak bola) di Malang, tidak berpikir dua kali saya ganti baju ambil sepatu langsung berangkat, tidak jadi berangkat sekolah. Karena waktu itu seleksi PSSI, kan kesempatan dan seleksinya di Stadion Gajayana,” imbuhnya.

Saat itu, Agus Yuwono berangkat bersama rekannya sesama legenda Arema yakni Aji Santoso dan Alm. Setyo Budiarto. Ketiga legenda Arema ini diberi kesempatan mengikuti seleksi karena saat itu yang melatih Timnas Indonesia adalah Alm. Solekan atau pelatih dari tim Galatama Arseto Solo.

Singkat cerita, Agus Yuwono ternyata memiliki keberuntungan ketimbang dua rekannya. Seleksi Timnas Indonesia saat itu memang disiapkan untuk bermain di ajang Kualifikasi Olimpiade Barcelona tahun 1992.

“Jangka waktu beberapa bulan itu ada pengumuman, kalau tidak salah anak Malang itu ada 24an (yang ikut seleksi) tapi yang lolos aku saja. Itu disiapkan untuk pra Olimpiade Barcelona 1992,” ujarnya.

Namun di tengah sudah diterimanya menjadi pemain Timnas Indonesia, Agus Yuwono harus menerima kenyataan bahwa ia sebagai pelajar juga harus mengikuti kegiatan sekolah yakni Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas) atau saat ini dinamakan ujian akhir.

“Tapi di Jakarta juga seleksi, dan kurang satu bulan lagi itu Ebtanas. Lha namanya orang tua mungkin khawatir ya, karena anak mau Ebtanas ya harusnya belajar, tapi saya tidak pernah belajar karena main bola terus, tapi Alhamdulillah lulus. Setelah Ebtanas saya kembali dipanggil untuk persiapan, itu tahun 1987 waktu itu Arema ya masih baru berdiri,” kata mantan pelatih Persis Solo ini.

Singkatnya, Timnas Indonesia yang diberi nama Garuda II tidak bisa lolos di penyisihan kualifikasi Olimpiade Barcelona 1992. Tapi saat itu karena Garuda I berprestasi di ajang turnamen di Bangkok, Thailand, akhirnya Garuda II diundang untuk bermain di sana.

“Garuda II diundang bermain King’s Cup di Bangkok, Thailand. Sebelumnya Garuda I prestasi, lalu diundang lagi yang keluar ya Garuda II ini. Tiga pertandingan itu, kita sama Korea Utara kalah, sama Kenya kalah karena waktu itu Kenya setelah TC di Jerman langsung ikut di Bangkok itu, waktu itu kalah 3-2,” kenangnya lagi.

Setelah proyek Garuda II itu selesai. Agus Yuwono kembali mengikuti serangkaian agenda Timnas Indonesia yang melakukan training center di Cekoslowakia selama dua bulan.

“Setelah itu empat pemain bermain di sana, saya sama Nil Maizar itu gabung di Benesova, latihannya di Sparta Praha,” ucap Agus bangga.

Setelah pulang dari Timnas Indonesia, Agus Yuwono yang saat itu sudah tanda tangan bersama Arseto Solo ternyata menerima pinangan dari Persema yang bermain di Perserikatan dan Arema yang bermain di Galatama.

Namun pada akhirnya, Agus menerima pinangan Persema karena tergiur tawaran menjadi pegawai PDAM Kota Malang saat itu. Tapi tak lama kemudian, Agus pindah ke Arema karena sadar passion sebagai pesepakbola.

“Memang, orang itu harus fokus. Tidak bisa dua sekaligus dijalani. Kalau sepak bola ya sepak bola, kalau kerja ya kerja, kalau dua-duanya ya kayak saya, terima kerja tapi akhirnya karir sepak bola meredup gara-gara cedera waktu itu,” tutupnya.(Hs/Lnr)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close