Agama

Waspadai Fenomena Munculnya Agama Muslim, Bukan Islam, Adakah di Kabupaten Malang?

Bukan Islam, sebuah agama baru datang dari Kota Solok, Sumatra Barat, penganut agama ini mengaku agamanya adalah Muslim. Diduga, agama Muslim ini telah berkembang sejak tahun 1996 dan mulai dikembangkan oleh salah seorang bernama Usman yang menetap di Padang setelah ia belajar dari Kota Surabaya, Jawa Timur.

Konon, agama ini dinamakan ‘Agama Muslim’ karena mereka mengakui Tuhannya adalah Rabbi, yang berarti yang menciptakan. Kemudian nabinya bukan Nabi Muhammad SAW, melainkan Nabi Ibrahim AS.

Sementara itu, melihat ajaran agama tersebut didapatkan setelah Usman belajar dari kota Surabaya, Jawa Timur, tak ayal jika ajaran agama itu juga berpotensi akan merambah ke sejumlah masyarakat yang ada di Kabupaten Malang.

Umar Usman, Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) pihaknya selama ini belum mengendus ihwal keberadaan ajaran atau agama Muslim itu di Kabupaten Malang. “Ajaran agama Muslim seperti yang dimaksud, di Kabupaten Malang belum ada, dan belum terdeteksi keberadaanya,” kata Umar.

Menurutnya pandangannya, menilik fenomena adanya ‘Agama Muslim’ ini sangat tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist. Ke depannya, pihaknya bersama pengurus Cabang NU Kabupaten Malang akan mengidentifikasi lagi, sebab Kabupaten Malang memiliki wilayah yang luas, namun menurut sepengetahuannya belum ada ajaran agama Muslim itu berkembang. “Kita akan identifikasi lagi, karena Kabupaten Malang sangat luas,” imbuhnya.

Mursidi, Ketua Pengurus Daerah (PD) Muhammadiyah Kabupaten Malang kini pihaknya mengonfirmasi bahwa keberadaan agama tersebut informasinya belum jelas. Namun, meski keberadaannya yang belum jelas, ia mengaku nampaknya ajaran tersebut konon pernah ada di Kabupaten Malang. “Saya belum ada informasinya jelas, Pak. Nampaknya, dulu juga pernah,” kata Mursidi.

Menurut pandangan Mursidi, fenomena keberadaan agama Muslim ini sangat sensitif, biasanya hal-hal tersebut PD Muhammadiyah mengikuti kajian dan hasil fatwa menurut Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.

(Foto)

Sebagai informasi, mereka meyakini hanya wajib berpedoman kepada Alquran, dan tidak berpedoman kepada hadis Nabi Muhammad, tetapi berpedoman kepada ajaran Nabi Ibrahim.

Serta tidak ada kewajiban melakukan salat lima waktu, yang ada hanya mengingat Rabbi. Kemudian, tidak wajib berpuasa Ramadan, karena puasa bisa dilaksanakan setiap hari, sebab inti dari puasa ialah mengendalikan hawa nafsu.

Lalu tidak ada kewajiban melakukan haji atau hanya perlu disucikan oleh guru. Terakhir, tidak mengenal Idulfitri dan Iduladha, berkurban tidak ditentukan waktu dan jumlahnya.(anf/yah)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close