Advertorial

Melalui Peace Education, Dosen Hubungan Internasional FISIP UB Promosikan Budaya Damai 

Di tengah pandemi Covid-19, tak menyurutkan beberapa dosen di Program Studi Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) Malang, untuk mengabdi kepada masyarakat melalui program-program yang dicanangkannya.

Salah satu program yang telah dicanangkan dan sudah terlaksana setiap tahunnya ini terkait pemaparan “Peace Education”.

Salah satu dosen yang telah melaksanakan program tersebut yakni Dian Mutmainah, S.IP.,M.A mengatakan, bahwa pada tahun ini, program tersebut dikemas lebih berbeda yakni dengan menggunakan konsep webinar atau seminar online.

“Pada gelaran Peace Education tahun ini kita mengangkat tema mempromosikan budaya damai dengan konsep webinar, karena pertimbangan pandemi Covid-19,” ungkapnya kepada indonesiaonline.co.id, Rabu (16/9/2020).

Acara yang berlangsung pada hari Rabu (16/9/2020) sejak pukul 09.00 – 11.30 WIB ini berlangsung lancar dan tertib. Dian -sapaan akrabnya- menyebutkan bahwa pada tahun ini gelaran “Peace Education” melibatkan 43 siswa dari SMA Al-Ma’hadul Islami, Bangil, Kabupaten Pasuruan.

Disampaikan oleh Dian, bahwa di tahun-tahun sebelumnya, gelaran “Peace Education” melibatkan para siswa SMP (Sekolah Menengah Pertama, red). Tetapi kali ini Dian bersama timnya menyasar kepada para siswa SMA (Sekolah Menengah Atas, red) agar memunculkan sudut pandang yang berbeda.

“Karena siswa SMA memiliki dinamika pemikiran yang luar biasa, sehingga pemikiran tentang pendidikan perdamaian bisa menjadi lebih dinamis,” ujar perempuan yang memiliki keahlian di bidang peace education ini.

Dalam gelaran webinar mengenai “Peace Education” ini, Dian mengatakan, bahwa salah satu poin penting yang disampaikan salam webinar tersebut yakni pemberian pengetahuan tentang pentingnya pendidikan perdamaian dan dampak besarnya yang kurang disadari oleh masyarakat.

Poin utama tersebut dikemas sedemikian rupa oleh Dian agar para siswa lebih mudah memahami dengan pemaparan materi “12 Nilai Perdamaian”. Dalam materi yang disampaikan berisi tentang tahapan proses perdamaian yang idealnya diawali dengan berdamai dengan diri sendiri.

Kemudian masuk ke dalam hambatan perdamaian yang di mana seseorang selaku dihadapkan dengan persepsi orang lain yang kerap kali memunculkan sebuah prasangka.

“Lalu bagaimana kita bisa mengelola prasangka tersebut hingga akhirnya dapat menemukan jalan menuju perdamaian,” katanya.

Selain itu, diterangkan oleh Dian bahwa terdapat beberapa poin penting lagi, bahwa sebuah pemikiran tentang perdamaian bisa dimulai dari hal-hal kecil yang ada di lingkungan sekitar.

“Dari lingkungan tersebut kita dapat mengaplikasikannya ke tingkat yang lebih tinggi seperti perdamaian dunia,” terang perempuan berkacamata ini.

Selain materi mengenai “Peace Education: Mempromosikan Budaya Damai” juga terdapat materi kedua mengenai “Memahami Perbedaan Masyarakat” yang disampaikan oleh Dosen Program Studi Hubungan Internasional FISIP UB, Abdullah, S.Sos.,M.Hub.Int.

Abdullah -sapaan akrabnya- dalam penyampaian materi kepada puluhan siswa yang telah tergabung dalam webinar tersebut mengatakan, bahwa perbedaan merupakan suatu keniscayaan yang ada di lingkungan sekitar.

Untuk menghindari sebuah kebingungan atau yang lebih parah lagi mengarah ke sebuah perpecahan dalam memahami sebuah perbedaan harus menekankan kepada dua hal. Yakni perbedaan secara vertikal dan perbedaan secara horizontal.

“Perbedaan secara vertikal disebut juga stratifikasi sosial yang lebih bersifat perbedaan kelas sosial secara hirarki yang ada di masyarakat,” katanya.

Sedangkan perbedaan secara horizontal dipahami dengan sebuah istilah yakni deferensi sosial yang didasari adanya pemikiran bahwa manusia berbeda berdasarkan suku, agama dan ras.

Berbagai macam pemaparan materi oleh Abdullah mengenai pemahaman tentang perbedaan dapat diterima oleh puluhan siswa yang mengikuti webinar tersebut. Dan di akhir pemaparan materi, Abdullah mengatakan, bahwa perdamaian dapat ditempuh dengan prinsip toleransi.

“Dengan prinsip toleransi diharapkan dapat menciptakan perdamaian dan keharmonisan antar umat manusia,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Sekolah SMA Al-Ma’hadul Islami, Dr. Abdul Mu’min merespon positif kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh dosen-dosen Program Studi Hubungan Internasional FISIP UB.

“Dengan adanya kegitan ini dapat menambah wawasan dan pengetahuan siswa SMA Al-Ma’hadul Islami, Bangil,” tuturnya.

Hal itu pun dapat terlihat ketika sesi penyampaian materi telah usai dan memasuki sesi diskusi serta tanya jawab. Meskipun pandemi Covid-19 menghalangi puluhan siswa tersebut bertatap muka secara langsung dengan para pemateri, akan tetapi tidak meredupkan semangat dan keaktifan para siswa dalam berdiskusi.

Dengan keaktifan tersebut, para siswa juga diberikan project mengenai “Peace Education” yang berkaitan tentang perbedaan secara vertikal dan horizontal.

“Dengan adanya webinar ini, para siswa dapat mengidentifikasi perbedaan atau konflik yang ada di lingkungan sekitar mereka. Serta bagaimana usaha mereka untuk mencapai sebuah perdamaian dari konflik tersebut,” pungkasnya (Adv). (ta/dn)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: