Pendidikan

Disdikbud Kota Malang Libatkan UMKM dan Penyandang Disabilitas dalam Pekan Kebudayaan Daerah

Kegiatan Pekan Kebudayaan Daerah (PKD) Kota Malang ditutup dengan kemeriahan penampilan guest star Denny Caknan dan Cak Percil, Kamis (1/10/2020). Penampilan sanggar-sanggar dan Paguyuban Peminat Seni Tradisi (PPST) juga tak kalah spektakuler.

Di sisi lain, pameran produk-produk kesenian dari para UMKM dan penyandang disabilitas juga tak kalah menarik.

“Sebenarnya kami melakukan pameran kriya budaya. Jadi anak-anak berkebutuhan khusus itu ternyata melakukan hal yang luar biasa membuat kriya budaya,” ucap Kabid Kebudayaan Disdikbud Kota Malang Andayun Sri A.

Berbagai produk yang dipamerkan, di antaranya kain batik, payung lukis, kaos lukis, busana kain lurik, wayang suket, gambar hasil karya anak-anak, dan masih banyak lagi.

Pameran yang juga menampung orang-orang berkebutuhan khusus ini dilakukan Disdikbud Kota Malang untuk memberikan motivasi kepada mereka. “Jelas kami memberikan motivasi. Memotivasi bahwa ada kondisi yang sulit kita jangan pantang menyerah. Ada kondisi di mana kita kekurangan ternyata mereka punya kelebihan. Ini inspiring sekali,” katanya.

Sebagai bentuk keseriusan Disdikbud Kota Malang dalam hal kebudayaan, kata Andayun, pihaknya juga akan mengadakan pelatihan keterampilan yang mengarah ke budaya.

“Kebetulan kami juga ada giat lagi yang mengarah pada pelatihan keterampilan, ke arah budaya tentunya. Seperti pelatihan destinasi budaya, kriya budaya juga akan kami lakukan,” ungkapnya.

Wali Kota Malang Sutiaji pun mengapresiasi langkah Disdikbud merangkul para penyandang disabilitas. “Orang yang berkebutuhan khusus juga diajak. Ini memberikan ruang,” ucapnya.

Dikatakan Sutiaji, Tuhan telah memberikan kekuatan dan potensi yang luar biasa kepada manusia untuk di-explore. Dan orang lain bisa menghargainya, salah satunya dengan cara membelinya.

Ia pun memberi contoh satu produk yang dipamerkan yakni miniatur becak-becak hingga Harley Davidson. Produk itu dibuat dari bahan-bahan limbah yang disulap menjadi karya seni yang memiliki nilai seni yang tinggi.

“Mungkin bahan bakunya tidak sampai Rp 100 ribu, tapi harga jualnya sampai Rp 1,3 juta. Ini memberikan semangat kepada anak-anak. Ini lo Nak asal kamu mau bisa,” pungkasnya. (iiz/dn)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: