Peristiwa

Sikap Kampus Terkait Mahasiswanya Diamankan Polisi

Aksi unjuk rasa tolak UU Omnibus Law Cipta Kerja di Balai Kota Malang, Kamis (8/10/2020) kemarin masih hangat diperbincangkan masyarakat. Demo berjalan tegang dan rusuh. Terjadi aksi lempar batu, botol plastik, botol kaca, hingga petasan. Bahkan, beberapa kendaraan ringsek dan terbakar. Polisi menyemprotkan water canon, melepaskan gas air mata, hingga mengamankan ratusan orang.

Sebanyak 129 orang diamankan oleh Polresta Malang Kota. Kapolresta Malang Kota Kombespol Leonardus Simarmata dalam konferensi persnya hari ini (Jumat, 9/10/2020) menjelaskan bahwa 129 orang tersebut terdiri dari berbagai kalangan namun didominasi oleh para mahasiswa.

Dari 129 tersebut, sebanyak 59 orang merupakan mahasiswa. Sementara yang lain yakni pelajar SMA 14 orang, pelajar SMK 15 orang, pelajar SMP dua orang, pengangguran 15 orang, lima orang yang berprofesi sebagai kuli, dan satu orang berprofesi sebagai buruh.

Di WhatsApp, beredar daftar nama mahasiswa yang diamankan Polresta Malang Kota. Namun, data tersebut masih belum sah kebenarannya. Untuk itu, media ini berupaya mengkonfirmasi ke kampus-kampus di kota Malang. Dari daftar tersebut, terdapat 3 nama mahasiswa dari Universitas Negeri Malang (UM).

2 Nama Mahasiswa Benar dari UM dan Sudah Dipulangkan

Saat dikonfirmasi ke pihak kampus, Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan Dr Mu’arifin MPd menyampaikan bahwa dari tiga nama itu, yang benar-benar mahasiswa UM hanyalah dua orang. Dua mahasiswa yang dimaksud Mu’arifin merupakan mahasiswa teknik dan sejarah. Sementara, satu yang lain bukan mahasiswa UM.

“Kita itu ada dua (mahasiswa). Sementara hasil validasi kami yang satu itu bukan mahasiswa kami,” ucapnya saat dikonfirmasi melalui telepon WhatsApp, Jumat (9/10/2020).

Pihaknya pun terus mengupdate data yang diterima sebab diakuinya informasi yang ia terima memang banyak dan masing simpang siur. Sementara, dua mahasiswa UM tersebut kata dia sudah dipulangkan.

“Sekarang kan sudah dipulangkan,” ucapnya.

Dikatakan Mu’arifin, ketika ia mendapatkan daftar nama mahasiswa yang diamankan itu, pihaknya memang langsung melakukan koordinasi internal dengan kepolisian. Diungkapkan, para mahasiswa itu dimintai keterangan dan di-rapid test.

“Alhamdulillah enggak apa-apa. Wong hanya ditanyain saja. Repotnya kalau sudah crowded seperti itu kan antara yang benar dan yang gak benar berbaur,” ungkapnya.

Mu’arifin pun yakin mahasiswa UM adalah mahasiswa santun yang tidak mungkin melakukan tindakan anarki. Sebelum para mahasiswa itu demo, pihak kampus sudah memberikan wejangan untuk mengkaji dulu apa yang mau didemokan. Pihaknya juga mempersilakan mahasiswa untuk menyampaikan pesan hanya saja ia berpesan agar hati-hati.

“Ya monggo, menyampaikan pesan kan macam-macam. Karena menggunakan demo ya ingat, yang demo tidak dari satu unsur saja, itu banyak unsur makanya saya wanti-wanti ke korlapnya untuk hati-hati,” paparnya.

Begitu ricuh, pihaknya pun meminta mahasiswa untuk menjauhi titik ricuh dan langsung pulang.

“Cuma ya saya nggak tahu kok tiba-tiba masih ada satu dua nama itu. Namun, informasi dari sumber yang kami percaya mereka sudah dipulangkan. Saya cek ke korlapnya juga katanya sudah pulang anak-anak,” pungkasnya.

UMM Masih Terus Pantau dan Tunggu Laporan dari Polisi

Dalam demo kemarin, juga banyak terlihat mahasiswa berjas almamater merah. Mereka adalah mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Nah, dalam daftar mahasiswa yang diamankan tersebut, cukup banyak yang tertulis sebagai mahasiswa UMM, yakni sekitar 10 orang.

Namun demikian, pihak UMM masih terus berupaya memvalidasinya. Seperti yang diketahui, data itu masih belum clear dan masih simpang siur.

“Masih didata. Temen-temen masih juga di polres. Memang ada sebagian yang sudah pulang. Tapi kan data terbaru belum dikasih tahu. Nama-nama juga belum clear. Sehingga kita tetap memantau dulu sambil menunggu juga laporan dari polisi,” ungkap Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan UMM, Dr Nur Subeki ST MT saat dihubungi melalui telepon WhatsApp sekitar pukul satu siang, Jumat (9/10/2020).

Apabila nantinya memang benar ada mahasiswa dari kampusnya, kata Subeki, pihaknya akan melakukan langkah persuasif ke kepolisian.

Sementara pada saat terjadi kericuhan di lokasi, Subeki sempat turun lapangan untuk mengamankan mahasiswa agar tidak sampai terprovokasi dan turut menjadi korban.

“Suasana sudah begitu kan kita juga nggak tahu ditangkap karena apa,” imbuhnya.

Sama halnya dengan UM, UMM juga mempersilakan mahasiswanya untuk menyampaikan aspirasi. Namun, dengan catatan dengan damai. Mahasiswa kata dia juga berupaya untuk bersama-sama. Hanya saja terjadi kericuhan yang tak diinginkan hingga akhirnya mereka bubar dan berpisah.

“Selalu kita nasehatin kalau yang mau turun menyampaikan aspirasi, pertama ya karena kondisi seperti ini, harus jaga protokol kesehatan, bawa jaket almamater, kemudian bawa KTM, selalu komunikasi dengan kepolisian, izin. Dan itu sudah dilakukan. Pun begitu ketika anak-anak sudah di sana kami pun juga memantau jangan sampai nanti ada tindakan-tindakan yang anarkis itu,” paparnya.

Ia menegaskan, saat ini pihaknya masih berupaya mengecek kebenaran informasi.

Mahasiswa UB Sudah Dibebaskan Siang Ini

Sementara itu, dalam daftar mahasiswa tersebut juga terdapat tiga mahasiswa yang tertulis dari Universitas Brawijaya (UB). Presiden Eksekutif Mahasiswa UB Muhammad Farhan Aziz menyampaikan bahwa informasi itu adalah benar.

“Kalau dari informasi itu benar,” katanya melalui chat WhatsApp.

Wakil Rektor (WR) Bidang Kemahasiswaan Prof Dr Drs Abdul Hakim MSi menyatakan bahwa mereka sudah dibebaskan siang ini.

“Sudah dibebaskan siang ini,” tukasnya. (iiz/dn)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: