Serba-Serbi

Kisah Indekos Angker di Tulungagung, Bikin Merinding Penghuni

Menjamurnya indekos atau rumah sewa di Tulungagung membuat persaingan harga berlangsung ketat. Banyak pemilik usaha indekos banting harga di saat adanya pandemi Covid-19 ini.

Meski harga murah dengan berbagai fasilitas mulai AC, kamar mandi dalam hingga akses kendaraan masuk serta kebebasan membawa tamu, penyewa harus melihat sisi lain sebelum ditempati. Sebab, tidak jarang ada kejadian mistis yang dialami oleh penghuni.

Kejadian mistis itu, seperti halnya dialami oleh Heri, asal Kediri penghuni indekos di Tulungagung. Bagaimana kisahnya? Berikut cerita yang dialami oleh Heri.

“Awalnya saya sangat tertarik, harga murah dan fasilitas meski bukan AC tapi kamar mandi di dalam,” kata Heri, pria asal Kediri yang beberapa kali pindah indekos ini.

Tak berpikir lama, Heri kemudian bersepakat dengan pemilik indekos untuk membayar sekaligus dua bulan. Begitu masuk, Heri mulai membeli sejumlah barang kebutuhan. Dari 16 kamar, saat itu sudah terisi 10 dan dirinya menjadi penghuni ke 11. “Seperti biasa, saya paling tak suka diam. Saya berkenalan dengan penghuni yang lain biar tidak sepi,” cerita Heri.

Setelah tinggal sepekan lamanya, Heri mulai menikmati pergaulannya dengan sesama penghuni yang lain. Namun, setiap kali dirinya di dalam kos sendiri di malam hari, dia mendengar ada suara jeritan dari kamar sebelah. “Saya kira ada masalah pribadi, mereka bertengkar sama siapa gitu,” jelasnya.

Lama-lama, ia tak betah juga karena tiap pertengkaran itu sejak sore hingga menjelang pagi hari. “Saya sering tak bisa tidur, tapi saya belum tau siapa penghuni kamar sebelah,” imbuhnya.

Masih menurut Heri, meski mayoritas kenal dengan kamar sebelah yang diduga asal suara pertengkaran tiap malam itu dirinya tak kenal. Pasalnya, kamar selalu tertutup dan hanya ada suara orang membuka pintu malam hari saja.

Karena penasaran dan kesal, Heri mendobrak pintu kos kamar sebelah saat suara pertengkaran itu terdengar olehnya. Alhasil, Heri terkejut karena tak menemukan penghuni di kamar yang sudah terlanjur didobraknya itu. “Saya emosi, namun setelah tau kamar itu ternyata kosong saya jadi takut,” imbuhnya.

Dirinya berusaha membangunkan penghuni lain, namun tak ada respons apapun. Akhirnya, Heri melarikan diri dan berusaha meninggalkan indekos itu.

Begitu malam berlalu, siangnya dia berniat kembali ke indekos tempatnya itu. “Yang saya heran, di kos seperti tak terjadi apapun. Namun, setelah saya tanya penghuni yang di sana semua pada diam seakan tak terjadi apapun,” ungkapnya.

Tak mau memperpanjang masalah tersebut, Heri memilih pergi dari tempat kosnya dan pindah ke kos lain. “Saya kasihan sama pemilik kosnya, nanti jika saya cerita sama penghuni lain tempat kos itu sepi. Saya hanya ingin berbagi pengalaman saja. Banyak rumah kos angker yang bukan membuat nyaman namun justru membuat ketakutan,” tandasnya.

Di tempat angker apapun, sebenarnya menurut Heri bisa diatasi jika penghuninya rajin berdoa dan beribadah pada Tuhan.

Menurut Heri, pengalaman serupa juga banyak terjadi pada orang lain. Kemudian Heri menunjukkan group WhatsApp dari orang-orang yang punya pengalaman sama. “Kebetulan saya kenal di rumah Kyai, eh ternyata yang punya pengalaman begini bukan hanya saya saja,” terangnya.  (ab/yah)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close
%d bloggers like this: