Serba-Serbi

Potret Kemiskinan Pasutri Romdan-Rajemah

Kehidupan pasangan suami istri (Pasutri) Romdan-Rajemah yang tinggal di Dusun Krajan 003/001 Desa Paspan, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, merupakan potret kehidupan keluarga miskin di desa yang luput dari perhatian Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi.

Walau Pemkab Banyuwangi dalam sepuluh tahun terakhir mengalami kemajuan pesat dan mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur, pemerintah pusat bahkan pengakuan dunia. Tapi, kisah keluarga miskin masih menjadi catatan khusus bagi Pemkab Banyuwangi.

Rajemah, sang istri menuturkan, saat ini keluarganya tidak lagi mendapatkan bantuan sosial dari pemerintah pusat, provinsi, kabupaten maupun bantuan sosial dari Dana Desa (DD) yang diberikan bagi warga yang terdampak wabah Covid-19 di Banyuwangi. Yang masih diingat, keluarganya mendapatkan bantuan beras  sekitar bulan Idul Adha yang lalu.

”Saat ini yang menjadi beban kami adalah bagaimana melunasi tanggungan biaya sekolah sekitar satu juta rupiah agar bisa mengambil ijazah anak. Sedangkan untuk makan saja terkadang kami harus mencari utangan,”ucap Rajemah.

Pasutri yang bekerja sebagai buruh harian lepas tersebut mengaku, sempat terdaftar dan mendapat bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dengan nomor peserta 351017000600027 yang ditandatangani Menteri Sosial RI Bachtiar Chamsyah, untuk mendapatkan bantuan biaya sekolah putranya. Namun sejak kartunya diminta oleh aparat desa Paspan dan tidak dikembalikan lagi sampai dengan saat ini, dirinya tidak pernah  mendapatkan haknya.

Bahkan, pada saat menanyakan kepada perangkat desa tidak pernah mendapatkan jawaban yang memuaskan. Tidak jarang aparat desa menilai dirinya terlalu cerewet dan banyak menuntut.

Miris dan menyedihkan melihat kenyataan hidup pasangan yang tinggal tidak jauh dari kantor Pemerintahan Desa Paspan tersebut. Rumahnya berdinding anyaman bambu (gedhek-Jawa) yang sebagian dimakan rayap. Lantai rumah sebagian kecil sudah diplester karena mendapat program bantuan bedah rumah. Dapurnya masih beralas tanah dan tidak memiliki kamar mandi. Pasutri ini terkadang hatinya merasa perih melihat tetangga kiri kanannya yang kondisi ekonominya dinilai jauh di atas keluarganya pulang membawa beras atau mendengar mereka mendapatkan bantuan sosial yang lain.

Romdan, yang usianya sudah berkepala enam hanya mengandalkan upah sebagai buruh harian lepas dan tidak bisa lagi menjadi pemanjat kelapa. Pekerjaan yang pernah dijalani saat usia muda dan memberikan penghasilan yang lumayan untuk menghidupi istri dan empat anaknya.

Untuk mendapatkan tambahan penghasilan, pasutri tersebut merawat sapi milik orang yang selama ini berhubungan baik. Untuk mengamankan sapi dikandangkan di belakang rumah gedhek-nya. Tanpa ada tembok, hanya beberapa lembar plastik yang tidak mampu menutup penuh untuk menutup tubuh mereka pada saat harus mandi.

”Untuk anak-anak saya minta terus sekolah. Supaya jangan bodoh seperti bapaknya yang memang tidak mendapatkan pendidikan karena kondisi keluarganya melarat. Apapun cara kami lakukan yang penting anak-anak bisa sekolah. Bahkan tidak jarang harus utang untuk memenuhi kewajiban sekolah,” tuturnya Romdan.

Menyadari kondisinya saat ini, Romdan bersama istri tercinta tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidupnya setiap hari yang terkadang upahnya sebagai buruh tidak cukup. Termasuk masalah bantuan sosial yang seharusnya mereka lebih layak menerima, namun tidak pernah didapatkan.

Hanya doa ikhtiar dan pasrah yang dilakukan dengan tetap berharap ada orang baik yang tergerak dan rela membantunya untuk mendapatkan bantuan yang memang menjadi hak mereka sebagai warga miskin.

Sementara Riza Pahlevi, Kepala Desa (Kades) Paspan, ketika ditemui di kantornya hanya menjawab singkat dan menerangkan apabila pasutri Romdan -Rajemah sudah mendapatkan bantuan sosial dari Dana Desa (DD).  (nj/dn)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close
%d bloggers like this: