Profil

Kisah Sang Juru Selamat di Perlintasan KA Tanpa Palang Pintu, Bertahan Hidup dari Pemberian Pengendara

Kecelakaan kereta api (KA) yang menyeruduk Pickup Grandmax nopol AG 8590 RJ di Desa Pulosari, Kecamatan Ngunut, Kabupaten Tulungagung, Senin (12/10/2020) malam kemarin, masih menjadi perbincangan. Selain peristiwa tabrakan, warga juga sebelumnya ramai memperbincangkan pengemudi dan penumpang mobil yang menghilang. Tapi, kemudian terungkap, kedua pengemudi bernama Komarudin dan Nur Kolik (37) warga Desa Sukodono, Kecamatan Karangrejo, selamat dari kejadian.

Selamatnya kedua penumpang pickup yang ringsek dihajar KA, tak lepas dari peran relawan penjaga perlintasan. Yaitu Aris Trianto yang mengingatkan kedua penumpang terkait datangnya KA yang semakin mendekat.

Peran Aris ini yang membuat media ini, Selasa (13/10/2020), ingin menemui sang pahlawan yang telah berhasil menyelamatkan dua orang yang dimaksud. Namun, Aris tidak dapat ditemui di tempat biasanya menjaga perlintasan itu.

Wartawan akhirnya bertemua dengan pria yang bernama Matukin (50) warga lingkungan 9 Ngunut, Tulungagung, yang menggantikan Aris jika siang hari. Dirinya mengatakan, Aris baru saja datang ke tempat dia beraktivitas, namun meski satu profesi Matukin tidak tahu di mana rumahnya.

“Yang saya tahu, alamatnya dia di Desa Sumberejo Wetan. Rumahnya yang mana saya tidak tahu,” kata Matukin.

Dari Mutakin yang juga seprofesi dengan Aris, yaitu relawan penjaga perlintasan KA, mengalir kisah ‘biru’ selama menjalankan kerjanya. Darinya, diketahui bahwa sudah 3 tahun bekerja menjaga perlintasan itu. Setiap hari, dikatakannya, terkait pendapatan dirinya memperoleh dari pengguna jalan yang memberi seikhlasnya untuk menyambung hidupnya.

“Tidak pasti, namanya rezeki. Di sini tidak dibayar, kecuali yang ikhlas memberi,” ujarnya.

Jika ramai, dirinya membawa pulang uang hingga Rp 140 ribu, namun sebaliknya, jika pas sepi uang yang didapat hanya cukup untuk makan dirinya saja.

Mutakin juga menceritakan, bahwa menjadi relawan penjaga perlintasan KA bukan karena diminta oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI). Tapi, karena keikhlasan dan kepedulian akan keselamatan pengguna jalan.

“Sering sekali saya marah, bahkan membentak pengguna jalan yang ngeyel melintas saat kereta api sudah dekat,” katanya.

Diakui, kata-kata kotor pernah dilontarkan pada pengguna jalan yang tak mempedulikan keselamatan dirinya sendiri. “Itu karena saya tak ingin terjadi kecelakaan. Itu saja tujuan saya,” ungkapnya.

Karena keikhlasan dan seringnya dia berada di perlintasan itu, Matukin mengaku sering mendapatkan rezeki yang ditaruh di kardus yang dia letakkan di kursi.

Semenjak dirinya menjadi relawan, hanya sekali dikumpulkan di kecamatan dan diberikan rompi, lampu dan bendera untuk digunakan saat menjalankan tugasnya sebagai relawan.

Tampak di saku Matukin beberapa kali terdengar suara handy talky, menurutnya, alat itu dibelinya sendiri untuk komunikasi antar relawan sesamanya.

“Jika kereta mau lewat, teman-teman memberi tahu dan ini juga terhubung dengan stasiun terdekat,” pungkasnya. (ab/dn)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close
%d bloggers like this: