Gaya Hidup

Dalbo Lagi Tren di Kalangan Anak Muda, Pakaian Bekas Laris Manis

Saat ini, pakaian bekas sedang digilai oleh banyak anak muda. Mereka senang memburu pakaian bekas -biasa disebut dalboan atau thrift shopping- karena harganya sangat murah dan desainnya bukan pasaran.

Apabila pintar memilih, maka mereka akan mendapatkan baju-baju yang masih sangat layak pakai. Mulai dari dress, kaus, celana, rok, topi, vest, dan masih banyak lagi.

Banyak anak muda yang melihat tren ini sebagai peluang usaha. Mereka memburu pakaian bekas untuk dijual lagi. Di Instagram, cukup banyak akun-akun yang menjual barang second. Tak kalah menarik dengan akun online shop pada umumnya. Konsep feed dan pemotretan mereka juga kreatif dan menarik.

Tanpa disadari, dengan menjual serta membeli pakaian bekas ini, mereka memberi kesempatan kedua agar baju-baju bekas itu hidup lagi. Serta, tak kalah penting, berkontribusi meminimalisasi limbah fashion.

Kita tahu, saat ini industri fast fashion sangat berkembang pesat. Apa sih fast fashion itu? Fast fashion adalah konsep yang digunakan oleh industri tekstil yang menghadirkan pakaian ready-to-wear dengan konsep pergantian mode yang cepat dalam kurun waktu tertentu. Lantaran diproduksi besar-besaran dan instan ini, industri fast fashion berkontribusi besar dalam merusak alam karena limbahnya.

Contoh brand fast fashion yang kita kenal yakni seperti Uniqlo, H&M, Zara, dan Forever 21. Banyak orang Indonesia menyenangi brand-brand itu lantaran mereka menawarkan produk yang “berkelas” dengan harga cukup terjangkau dan sesuai minat pasar.

“Fast fashion itu baju yang diproduksi lebih cepat, 3 bulan memang ganti-ganti. Mereka memilih Indonesia karena pasarnya bagus. Indonesia paling boros untuk baju,” terang pengamat mode asal Malang Hermina Andreyani kepada MalangTIMES saat ditemui di Quinna School of Fashion, Jumat (16/10/2020).

Hermina menambahkan, sampah pakaian karena limbah fashion atau limbah tekstil memang tak bisa disepelekan. Limbah tekstil telah mendominasi tumpukan sampah di laut. “Limbah tekstil adalah pencemar terbesar kedua setelah minyak,” ungkapnya.

Untuk itu, lanjut Hermina, sekarang terdapat gerakan slow fashion. Slow fashion merupakan sebuah gerakan untuk mendukung penciptaan dan pembuatan pakaian yang didasarkan pada kualitas serta daya tahannya sehingga lebih memperhatikan lingkungan. Slow fashion didasarkan atas pemakaian pakaian yang lebih lama ketahanan lebih baik, kualitas lebih tinggi, produksi beretika, serta ramah lingkungan.

“Slow fashion itu baju-baju timeless. Jadi, baju-baju yang bisa dipakai dalam jangka waktu panjang. Contohnya kayak yang menjahit sendiri,” terang dia.

Yuk berkontribusi mengurangi limbah tekstil dengan membeli pakaian bekas dan memilih pakaian slow fashion!  (iiz/hel)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close
%d bloggers like this: