Peristiwa

Disertai Tulisan “Pemimpin Datang dan Pergi”, Eks Politikus Demokrat Posting Foto Jokowi Menunduk ke SBY

Mantan politikus Partai Demokrat Ferdinand Hutahaean mendadak mengunggah foto Joko Widodo (Jokowi) dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Diketahui, SBY merupakan presiden ke-6 Republik Indonesia (RI. Sementara Jokowi saat ini masih menjabat sebagai presiden RI hingga 2024 mendatang.

Foto tersebut dibagikan Ferdinand melalui akun Twitter-nya, @FerdinandHaean3, Selasa (20/10/2020). Menariknya, foto itu diambil saat Jokowi masih menjabat sebagai gubernur DKI Jakarta.

Dalam foto itu, Jokowi tampak menunduk saat bersalaman dengan SBY di Istana Negara.  Foto diambil pada 10 Desember 2012 saat Jokowi menerima DIPA 2013.

Dalam cuitannya, Ferdinand menuliskan bahwa kelak pemimpin negara ini akan ada masa datang dan perginya.  Ia pun tak menyangka kala itu Jokowi bisa menggantikan SBY sebagai kepala negara.

“Pemimpin akan datang dan pergi, takdir manusia tidak ada yang tau. Demikian jg dgn pak @jokowi tdk ada yg tau dgn gesturnya tertunduk di hadapan SBY sprt ini ternyata kemudian jd Presiden,” cuitnya.

Lebih lanjut, Ferdinand mengatakan dia pernah berada di “sebelah” keduanya. Kendati demikian, ia hanya mengutamakan NKRI dan Pancasila.

“Sy pernah berada disebelah kedua Presiden ini, tp bg sy  NKRI dan PANCASILA ttp yg utama,” cetus Ferdinand.

https://twitter.com/FerdinandHaean3/status/1318377371242655744

Terkait unggahan foto itu, Ferdinand pun lantas memberikan penjelasan.  Dia mengatakan  ada dua pesan yang ingin disampaikan ke publik dari foto itu.

“Saya mengenal keduanya dekat. Pernah berada di sebelah keduanya pada masanya dan paham karakter keduanya,” jelas Ferdinand.

Lebih lanjut, ia mengaku sengaja mengunggah foto tersebut sebagai pengingat untuk publik. Ferdinand ingin menggugah kesadaran banyak pihak bahwa pemimpin akan datang dan pergi atau berganti.   Sehingga tak baik jika ada sekelompok orang yang karena kebenciannya kepada seorang pimpinan jadi ikut merusak bangsa.

“Saya ingin mengajak semua pihak lebih mencintai negara daripada mencintai pemimpin pada masanya karena mereka akan berlalu, sedangkan bangsa tak akan berlalu,” cetusnya.

Di sisi lain, Ferdinand ingin publik merenungi jika takdir akan bergulir dan semua ada masa di setiap kepemimpinannya. (dk/hel)

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: