Agama

Peringati Maulid Nabi, Kiai Lik Ingatkan Menjaga Candi

Semarak peringatan maulid Rasulullah SAW masih terasa hingga kini. Seperti yang dilakukan takmir masjid Syuhada’ di Dusun Unggahan, Desa Banjar Agung, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto (07/11/2020) malam.

Acara ini dihadiri oleh beberapa tokoh NU, di antaranya adalah Sekretaris PCNU Kab. Mojokerto, K.H. Abdul Hafidz Busry salah satu cucu wakil Rais ‘Am pertama NU yakni K.H. Dahlan Peneleh dan K.H. Falaqul Alam. Sedangkan tausiah diisi oleh K.H. Muslihuddin Abbas al-Hafidz.

Dalam tausiahnya, tokoh yang akrab dipanggil dengan sebutan Kiai Lik ini menjelaskan betapa pentingnya meneladani kehidupan Rasulullah dalam membangun peradaban. “Peradaban itu berasal dari kata adab, tata-krama. Adanya peradaban itu dikarenakan adab yang tertata. Sesuai dengan misi Rasulullah dalam hadis bahwa ‘Aku (Rasul) diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak. Jadi yang dibangun pertama adalah sumberdaya manusianya, akhlaknya.” Ujarnya.

Lebih lanjut Kiai Lik yang juga menjadi salah satu Imam Besar Masjid Sunan Ampel Surabaya ini menekankan pentingnya merawat jejak-jejak peradaban masa lalu. Beliau mencontohkan bahkan Nabi Musa as. ketika sudah mengalahkan Firaun, jejak peradaban yang sudah dibangun tidak begitu saja dihancurkan.

Demikian pula Rasulullah SAW., berhala-berhala yang ada di dalam Kakbah pada awalnya masih dibiarkan. “Oleh karena itu, kita tidak boleh merusak begitu saja peninggalan masa lalu seperti candi-candi dan lainnya.” Begitu pesannya.

Dalam hal mencontoh perilaku beradab, Kyai Lik juga mencontohkan untuk belajar dari perilaku semut. “Saat manusia belum bisa membuat rumah susun, semut sudah bisa. Semut itu jika ada kawanannya yang membelot dari barisannya, pasti akan ada yang menata sehingga akan kembali ke haluannya, jika ada yang mati pasti ada kawannya yang menggotong.” Begitu kompak semut yang dicontohkan oleh Kiai Lik dan dikomentari seraya berseloroh oleh Kiai Hafidz dengan sebutan “Pasukan Semut.”

Bertepatan dengan sedang berjalannya proses Pilkada di Kabupaten Mojokerto, Kyai yang mengasuh Pondok Pesantren Salafiyyah Fatchul Ulum di Pacet Mojokerto ini menekankan agar masyarakat lebih arif dalam menentukan pilihannya. “Jangan karena uangnya lebih banyak, kemudian itu yang dipilih. Lihatlah kebijakan-kebijakan apa yang sudah dibuat, bagaimana rekam jejaknya dan bagaimana program-program yang ditawarkan. Utamakan yang berorientasi pada pembangunan sumberdaya manusia.” Demikian penjelasannya saat ditemui di luar acara.

Saat menutup tausiah dengan do’a, salah satu tokoh NU Mojokerto ini berdo’a “Semoga siapapun yang terpilih memimpin adalah manusia, sehingga bisa memanusiakan manusia.” Setelah acara Kiai Lik mempertegas, bahwa salah satu ciri manusia yang bisa memanusiakan manusia sebagaimana Nabi, “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikan makan, sambunglah silaturrahim, salatlah di waktu malam ketika orang-orang tertidur,” pungkasnya. (is/yah)

Powered by WPeMatico

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: