Profil

Videografer Muda Jovian asal Malang Ini Pernah Garap Project Adidas Indonesia dan Puma

Kota Malang terus menelurkan pemuda kreatif. Salah satunya yakni Jovian Fraaije yang sudah menorehkan banyak prestasi di dunia videografi. Dirinya menjadi sosok penting dan pusat perhatian para perusahaan besar, Production House (PH) dan musisi di tanah air. Bahkan brand sekelas Adidas Indonesia dan Puma pernah menggarap project iklan kepada pria berusia 23 tahun itu.

Pria kelahiran 1997 asal Malang ini mempunyai pemikiran yang liar dalam mengemas sebuah visual dan menjadikan dirinya sebagai Pioneer dalam Project iklan seperti Brand olahraga dan banyak video klip dari musisi tanah air.

“Aku awal masuk industri kreatif itu di salah satu PH di Jakarta, namanya White Wood Visual. Di situ aku ngerjain banyak hal mulai Music Video, Brand Addidas dan juga Puma,” ujar Jovian.

Jovian mengaku bahwa konsep yang di usungnya adalah Urban dan Street. Bukan visual lewat ucapan, melainkan melalui eksperimental dan keliarannya untuk mengemas sebuah visual yang menarik pandangan mata dan makna yang mendalam. “Aku bersama PH ini hampir 2 tahun berjalan dan sekarang aku jadi editor lepasan. Karena mereka kadang juga masih membutuhkan aku kalau ada Project lagi,” ungkapnya.

Saat ini Jovian sedang mengerjakan Project Music video dan juga Clothing Line. Dia menjadi Pioneer Visual yang menggarap Clothing Line metropolitan seperti Thanksinsomnia, Shining Bright dan juga Cosmonout.

“Kira-kira sejak 2018 aku mulai mengerjakan visualisasi dari Clothing Line itu, apalagi Thanksinsomnia. Aku diberi kebebasan di sana mau pecahin TV mau bakar sepatu, baju terserah aku dan itu dibayar loh. Itu eksperimenku dalam bervisual. Liar banget dan malah itu yang di-Notife masyarakat Indonesia,” terangnya.

Sementara itu, Jovian sendiri belum tahu bagaimana karakter yang ia bawa bisa melekat kepada dirinya. Justru, orang lain yang melihat karakter dan potensi yang dia miliki. Sehingga dalam hal ini banyak Project yang masuk melalui suara orang yang sudah pernah melihat karyanya.

“Clothing Line, PH, musisi mereka yang malah melihat karakterku. Dan apa yang ada di diriku di-Notife sama mereka. Kalau ini dibilang baru, menurutku Nothing is New. Aku cuma menggabungkan dari apa yang pernah aku lihat. Yang aku pegang ini Taste, Taste itu Beyond Everything. Gak bisa dibeli. Kalau Skill bisa dipelajari dan aku menjual Taste-ku bukan Skill-ku,” tandanya. (hs/yah)

Powered by WPeMatico

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: