Hiburan, Seni dan Budaya

Isyana dan Rara Sekar Beri Apresiasi ke Trio Audiovisual Malang Monohero

Trio audiovisual “Monohero” baru-baru ini mendapat sorotan karena diapresiasi oleh kakak beradik Isyana Sarasvati dan Rara Sekar. Dalam sesi Taste Test ++ & Punggung Panggung dari Sounds from the Corner & Agordiclub, mereka memberikan kekagumannya kepada musisi asal Malang tersebut usai mendengarkan single “Lonely”.

Rara mengaku, saat mendengarkan Lonely, keinginannya untuk memvisualkan sangat tinggi. Terlebih lirik dalam single tersebut menggunakan bahasa Jawa yang menurut Rara memperkaya imajinasi.

“Aku ngerasa lagu ini imajinatif. Salut juga karena dia pakai bahasa Jawa, tidak mengurangi sama sekali emosi yang ingin dia sampaikan. Meskipun aku nggak ngerti sepenuhnya, tapi feel-nya dapat dan kaya dengan kearifan lokal,” komentarnya.

Dijelaskan Rara, bit minimalis dalam lagu ini justru memberi ruang untuk berimajinasi, mengisi di antara kekosongan-kekosongan itu.

Sementara, Isyana berkomentar, Monohero adalah musisi yang berani lantaran mengawinkan dua jenis musik yang berbeda.

“Salut banget karena aku sendiri merasa ini orang berani untuk mengawinkan dua jenis musik yang bisa dibilang cukup berbeda, tapi rasanya tetap dapat. Nggak tahu kenapa,” ungkapnya.

Kata dia, Monohero bisa menjadi pelajaran bagi musisi yang ingin berkarya namun takut duluan. Sebab, menurutnya seni itu seharusnya memang bebas.

Tentunya, musik Monohero yang mendapatkan apresiasi dari dua figur ini menunjukkan bahwa musik sidestream, bahkan yang dibilang segmented sekalipun, bisa survive dan diapresiasi.

Keberanian dua figur yang terkenal itu juga adalah buktinya. Bisa didengar dari single Isyana yang terbaru “UNLOCK THE KEY” dan seisi album LEXICON dengan genre Symphonic Metal-nya. Di sini, musiknya semakin eksploratif dan sidestream. Bukan Isyana yang dikenal banyak orang dengan genre pop seperti di lagu “Keep Being You” atau “Tetap Dalam Jiwa”.

Sementara, dari dulu Rara memang konsisten di jalur arus pinggir. Entah pada saat di Banda Neira, Daramuda (proyeknya dengan Sandrayati Fay & Danilla), hingga Hara (proyeknya sekarang).

Meski banyak orang yang menganggap notice dari Isyana dan Rara adalah suatu pencapaian besar, Monohero cukup santai menanggapinya.

“Biasa, ya senang pasti. Tapi kan mereka belum tahu apa isi sebenernya di lagu itu,” ujar Wafy selaku komposer sekaligus frontman Monohero.

Mengutip pernyataannya beberapa waktu yang lalu, musik Monohero muncul atas keresahan. Segala sesuatu yang tidak bisa mereka ceritakan langsung akhirnya dijadikan karya-karya audio dan visual.

“Lagu ini salah satunya. ‘Lonely’ mungkin bisa menjadi bahan dengar dan diresapi kala merasa sendirian, di tengah masalah, dan dinamika kehidupan,” ucapnya.

Sesuai judulnya, “Lonely” merupakan ungkapan kegelisahan Monohero tentang kesendirian, pemaknaan eksistensi diri, dan peran seorang manusia di dunia. Setiap manusia pada dasarnya adalah dirinya sendiri: Ia lahir dan hidup sebagai sebuah individu tunggal, bahkan mati dan lalu hilang sendirian.

“Katanya, bersama-sama membuat kita lebih kuat, tetapi apakah kebersamaan itu, relasi itu, hubungan itu akan abadi? Tidak. Pada dasarnya, kita akan dan selalu sendiri,” kata Wafy tentang lagu ini.

Tak jauh berbeda dengan Wafy, Alfian Kebeb (sepertiga Monohero yang bertanggung jawab dalam departemen visual) dan Omen (vokalis) juga biasa saja menanggapi komentar dari Isyana dan Rara. Namun, Omen berterima kasih Monohero dipilih dan diperdengarkan dalam Taste Test Sounds from the Corner.

“Sebenernya, masuk di Taste Test-nya SFTC tuh udah nyenengno banget sih gawe aku. Entah siapapun yang mendengar. Soalnya aku tahu mereka kurasinya ketat. Jadi aku penasaran siapa yang rekomendasiin Monohero. Matursuwun pol,” katanya.

Tentunya, luasnya ruang pendengar untuk menginterpretasi karya Monohero membuat mereka memaknai lagu ‘Lonely’ berbeda-beda. Pemilik akun YouTube Pak Zam dalam komentarnya di video lirik Lonely, misalnya. Ia mengaku mengingat hari kiamat saat mendengar lagu ini.

“di bagian ini

Lemah lemah podho mumbul

Sliwar sliwer ngalor ngusulin

tiba-tiba ingat hari kiamat,” komentarnya.

Ada juga Wulan Ramdhani yang sempat merasa depresif di awal lagu ini.

“pertama dengar terasa agak depresif, selanjutnya nenangke jiwa ayem nemen wuenak!”

Apresiasi akan Monohero ini membuktikan jika musisi-musisi sidestream ternyata terus bisa hadir dan bertahan. Lebih daripada itu, ia bisa menjadi alternatif di luar kemapanan industri musik yang konon terpusat di ibukota. Pertanyaannya, apakah kita sebagai pendengar, mau mencari, menemukan, dan mendengarkan mereka atau tidak? (Iiz/dn)

Powered by WPeMatico

Tags
Show More

Related Articles

Back to top button
Close
%d blogger menyukai ini: