Meski risiko kredit naik, bank meyakini NPL tahun ini tetap terjaga

by -47 views
Meski risiko kredit naik, bank meyakini NPL tahun ini tetap terjaga

ILUSTRASI. Nasabah melakukan transaksi di bank swasta di Jakarta, Senin (5/10). ./pho KONTAN / Caarolus Agus Waluyo / 05/10/2020.

Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang | Editor: Tendi Mahadi

Indonesiaonline.co.id – JAKARTA. Perlambatan ekonomi akibat pandemi Covid-19 membuat risiko kredit perbankan semakin tinggi. Meski begitu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) telah memberikan keringanan bagi debitur terdampak Covid-19 melalui program restrukturisasi kredit.

Namun tetap saja, di tengah kondisi yang serba tidak menentu trennya meningkat kredit macet (NPL) terus berlanjut. OJK mencatat pada akhir tahun 2020 NPL perbankan berada di level 3,06%. Meski masih rendah, posisi ini meningkat dari level tahun sebelumnya yang sebesar 2,53%.

Merujuk pada Statistik Perbankan Indonesia (SPI) per Desember 2020, beberapa sektor besar juga mengalami peningkatan. Misalnya di industri pengolahan atau manufaktur, NPL naik menjadi 4,57% di akhir tahun 2020. Meningkat dari akhir 2019 yang masih dipertahankan di kisaran 3,77%.

Baca:  Maybank bukukan laba bersih sebesar RM 6,48 miliar sepanjang 2020

Baca juga: OJK mencabut izin usaha BPR Sewu Bali

Kemudian, sektor pertambangan dan penggalian juga masih memiliki NPL yang tinggi yaitu 7,26%, meningkat drastis dari 3,57% pada tahun sebelumnya. Sedangkan NPL pada sektor dengan jumlah kredit terbesar yaitu perdagangan berada pada level 4,43%. NPL sektor perdagangan juga meningkat dari posisi 2019 sebesar 3,45%.

Meski begitu, sejumlah bank yang dihubungi Kontan.co.id mengatakan hingga saat ini NPL masih stabil. Meski dilanda peningkatan risiko akibat pandemi.

PT Bank Central Asia Tbk (BCA) misalnya pada Desember 2020 masih mencatatkan rasio NPL yang terjaga di level 1,8%. Direktur Keuangan BCA Vera Eve Lim mengatakan sektor perdagangan, restoran dan hotel memiliki NPL tertinggi sebesar 3,8 persen. Sementara itu, sektor industri pengolahan berada pada level yang rendah di 1,8% dan pengangkutan di 0,9%.

Baca:  Simak jadwal pemblokiran kartu ATM lama Bank Mandiri, BNI, dan BCA

Ia menambahkan, perbankan, termasuk BCA, telah mengantisipasi peningkatan risiko kredit. Salah satu bentuk upayanya antara lain melalui peningkatan biaya pencadangan. “BCA telah membukukan reserve fee sebesar Rp 11,6 triliun pada 2020,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Rabu (3/3).

Baca juga: Bank Syariah Indonesia bertemu dengan CEO Dubai Islamic Bank untuk menjalin kerjasama

Ke depan, BCA menilai tantangan NPL akan terus ada. Untuk itu, pihaknya akan terus berupaya menjaga NPL di level aman.

Senada dengan bank menengah seperti PT Bank Woori Saudara Tbk (BWS), tren peningkatan NPL masih bisa ditekan. Sementara itu, Direktur BWS Sadhana Priatmadja menjelaskan saat ini NPL tertinggi ada di sektor konstruksi dan perdagangan besar.

Baca:  Cek kurs dollar rupiah di BRI jelang tengah hari ini, Selasa 6 April 2021



Komentar