Duh, Tabanan Stop Karantina Pasien OTG, Kontrak Tracer Jadi Korban

by -20 views
Duh, Tabanan Stop Karantina Pasien OTG, Kontrak Tracer Jadi Korban

TABANAN -Tugas Satgas Covid-19 Tabanan mengambil keputusan yang tidak biasa di tengah upaya meredam penyebaran wabah Covid-19 di Tabanan.

Selain menghentikan pendanaan karantina hotel untuk pasien dengan status orang tanpa gejala (OTG) dan gejala ringan (GR),

Gugus Tugas Covid-19 memutuskan untuk tidak memperbarui kontrak relawan yang bertanggung jawab untuk melacak kontak.

Di Tabanan, ada ratusan relawan yang bertugas melacak kontak. Pemutusan kontrak kerja diputuskan sebagai berikut

Kebijakan BNPB adalah tidak memperpanjang masa jabatannya dengan alasan perkiraan dana kehormatan tidak lagi tersedia.

Praktis tanpa bantuan ini, petugas kesehatan di Puskesmas Tabanan akan kebingungan karena tidak ada petugas lagi yang bisa dideteksi.

Baca:  Setelah divaksinasi COVID-19, Lansia merasakan tenang

Kepala Dinas Kesehatan Tabanan, Dr. Nyoman Suratmika, tak memungkiri petugas kesehatan Tabanan berupaya mendeteksi pasien yang dinyatakan positif Covid-19.

Ia mengakui, petugas penghubung pasien yang positif yang direkrut langsung oleh BNPB tidak lagi dipekerjakan pada 31 Maret lalu.

“Di Tabanan saja sudah ada 100 tenaga kesehatan yang sudah tidak bekerja lagi untuk mendeteksi pasien Covid-19,” kata dr. Suratmika.

Dia mengatakan bahwa tenaga kesehatan sukarela telah bekerja selama lima bulan terakhir. Mereka mulai bekerja sebagai pelacak sejak 1 November 2020.

Menurutnya, keberadaan relawan petugas kesehatan BNPB sangat membantu kinerja petugas kesehatan di puskesmas saat menangani pasien Covid-19.

Mereka berusaha memantau kemajuan setiap pasien Covid-19 yang diisolasi, mencari rujukan ke rumah sakit dan tempat karantina.

Baca:  Listibya Bela Koster Soal Proyek PKB Rp2,5 T dari Utang di saat Covid

dipusatkan untuk pasien yang tidak mampu mengisolasi diri dan melakukan pencarian terhadap warga yang pernah berhubungan dekat dengan pasien Covid-19. Serta data pelaporan.

“Jujur mereka sangat membantu kami di lapangan karena tugas pelacakan sangat berat. Mulai dari pendataan, edukasi dan lain-lain,” jelas dr. Suratmika.

Ia melanjutkan, dengan pemutusan kontrak bagi 100 liaison guard praktis beban berat dikembalikan ke Puskesmas masing-masing di Tabanan.

Hanya mereka yang akan dibantu oleh Bidan Desa dan Bhabinkamtibmas yang telah mendapatkan pelatihan sebelumnya.

“Jadi, tugas yang sulit kedepannya adalah pencarian kasusnya diambil alih oleh petugas supervisi Puskesmas, Bidan Desa, Perangkat Desa, dan unit layanan masyarakat di seluruh desa yang ada.

Baca:  Pabrik Limbah B3 di Jembrana Jalan Terus, Ratusan Warga Demonstrasi

Ia berharap pemerintah pusat dapat melanjutkan program tersebut karena sangat membantu pendeteksian di lapangan.

Mereka yang berprofesi sebagai petugas pelacak, meski masih baru, telah tamat fakultas kesehatan minimal lulusan fakultas kesehatan, kebidanan atau s1 fakultas kesehatan.

“Kalau tidak ada (relawan) saya kira tugas petugas di Tabanan akan cukup berat,” pungkasnya.

.

Komentar