Sidak Takjil di Tabanan Temukan Pepes Mengandung Pengawet Mayat

by -25 views
Sidak Takjil di Tabanan Temukan Pepes Mengandung Pengawet Mayat

TABANAN – Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Denpasar tiba-tiba memeriksa makanan buka puasa atau takjil di Kelurahan Banjar Tunggal Sari, Desa Dauh Peken, Tabanan, Selasa sore (20/4).

Pemeriksaan yang dilakukan oleh BPOM Denpasar dibantu Dinas Perindustrian dan Perdagangan serta Dinas Keamanan Pangan Tabanan memastikan bahwa makanan takjil yang dijual pedagang di Tabanan aman dikonsumsi.

Dari pemeriksaan yang dimulai pukul 16.00 tersebut diambil 17 sampel makanan. Mulai dari snack basah, kue kering, kerupuk, semua rasa es minuman kemasan termasuk lauk dan lauk pauk. Seperti ikan yang diolah menjadi pepes ikan dan berbagai makanan lainnya.

Sampel makanan kebanyakan menargetkan makanan yang dicurigai mengandung zat berbahaya. Diantaranya adalah kuning metilen, rhodamin B (merah) yang banyak ditemukan pada terasi dan jajanan merah.

Baca:  Dipicu Hujan Angin, Tembok Pagar dan Dapur Warga Melaya Ambruk

Kemudian formaldehida biasa digunakan dalam pembuatan ikan dan tahu. Serta makanan yang juga diduga mengandung boraks pada kerupuk.

Koordinator Infokom BBPOM Denpasar, Luh Putu Witariathi mengatakan, dari 17 sampel pangan yang diuji langsung oleh petugas BPOM, satu tepung ikan olahan yang telah dikemas dalam bentuk pepes bungkus daun ternyata mengandung formaldehida. Camilan lainnya aman dari bahan makanan berbahaya.

“Ini baru hasil awal kami setelah kami uji langsung. Yang pasti pepes ikan positif mengandung formaldehida yang biasa digunakan untuk mendisinfeksi dan mengawetkan jenazah. Kami akan cek lagi di Laboratorium Denpasar dan hasilnya akan keluar dalam waktu dekat. seminggu, “jelasnya Luh Witariathi saat ditemui di Tabanan, Selasa lalu.

Baca:  Belasan Pengemis dari Karangasem dan Banyuwanyi Ditangkap di Jembrana

Ikan pepes, pihaknya menduga mengandung formaldehida. Setelah menguji ikan dengan pepes, ternyata lebih keras karena dagingnya mudah hancur dan warna ikannya terlalu cerah.

“Kecurigaan kami dari bahan bakunya, yaitu ikan yang sebelumnya dipelihara oleh nelayan,” ujarnya.

Terhadap pedagang yang menjual pepes ikan sebelumnya didapatkan hasil pengujian lebih lanjut bahwa pepes positif mengandung formalin. Pihaknya akan memberikan arahan. Panduan bagi para pedagang ini terkait dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan dan Dinas Keamanan Pangan Tabanan.

Ia berharap pedagang dan pembeli terus memperhatikan makanan yang dijual agar memperhatikan cara pengerjaannya. Cara pengiriman tidak boleh terbuka dan harus ditutup.

“Mari kita bekerja sama untuk menjaga kebersihan dan kualitas pangan sehingga aman untuk dikonsumsi,” ucapnya.

Baca:  Denpasar Masih Juara dan Badung Runner Up Kasus Covid-19 di Bali

Seperti di Tabanan, Luh Witariathi mengaku juga pernah melakukan pengawasan di Kabupaten Gianyar, Badung, dan Denpasar. Untungnya, dari belasan sampel yang diuji, hasilnya aman dari zat berbahaya dan pengawet.

“Selama ini dari semua sampel yang kami teliti, hanya ikan yang diolah menjadi pepes yang berformalin. Sedangkan di daerah lain hampir semua makanan takjil berkualitas. Tidak ada makanan atau minuman yang mengandung zat berbahaya,” pungkasnya.

.

Komentar