BBPOM Sidak di Klungkung Temukan Takjil Mengandung Pewarna Tekstil

by -41 views
BBPOM Sidak di Klungkung Temukan Takjil Mengandung Pewarna Tekstil

SEMARAPURA – Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Denpasar melakukan pengawasan makanan berbuka puasa atau yang lebih dikenal dengan takjil di Kabupaten Klungkung, Kamis (22/4). Dari 33 sampel makanan yang diambil, satu positif mengandung rhodamin B atau pewarna tekstil.

Ketua BBPOM Denpasar, Ni Gusti Ayu Nengah Suarningsih, saat ditemui di sela-sela uji coba sampel makanan, mengungkapkan bahwa pengawasan buka puasa makanan dilakukan karena pemerintah memiliki kewajiban untuk menjamin keamanan makanan yang dimakan masyarakat.

Sehingga masyarakat merasa nyaman membeli makanan.

“Di Klungkung kami menyasar pedagang takjil yang berjualan di sekitar Desa Gelgel, Banjar Lebah dan Pasar Senggol Klungkung,” jelasnya.

Baca:  Telusuri Varian Baru Covid-19 di Bali, Kemenkes Obok-obok Sukawati

Dari tiga lokasi tersebut, kata dia, ada 33 sampel makanan yang diuji. Dimana, 20 sampel makanan diuji kandungan rhodamin B, 6 sampel makanan diuji kandungan boraksnya. Kemudian 11 sampel makanan diuji kandungan formalinnya, jelasnya.

Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan, ia mengungkapkan bahwa terasi pada bumbu rujak nanas yang dijual oleh salah satu pedagang ternyata positif mengandung rhodamin B atau pewarna tekstil. Terkait hal itu, pihaknya akan melakukan investigasi terhadap terasi tersebut. Karena rhodamin B tidak enak dikonsumsi apalagi terus menerus.

“Tadi kita tulis nama penjualnya. Nanti kita cari, di situ bisa dibeli. Kalau dijual di pasaran kita lihat ke pasar. Nanti kita telusuri ke hulu dan kita bimbing, ” dia berkata.

Baca:  Beroperasi Lintas Kecamatan, Pengedar Sabu Ecek-ecek Diciduk Polisi

Sementara itu, Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta yang saat itu sedang mengikuti proses pengambilan sampel makanan menilai para pedagang makanan di Klungkung tidak berniat menjual makanan yang mengandung zat berbahaya.

Hanya saja terkadang bahan baku pangan yang digunakan pedagang tidak menyadari bahwa di dalamnya mengandung zat berbahaya tersebut.

“Kami yakin mereka (pedagang makanan) punya niat baik, tapi terkadang bahan untuk bahan makanan seperti pasta udang mengandung bahan yang tidak sehat. Dan kita di kecamatan punya tugas memberikan pembinaan, ”ujarnya.

.

Komentar