Bupati I Gede Dana Pelit Dana Rekonstruksi Kesenian Uzur

by -75 views
Bupati I Gede Dana Pelit Dana Rekonstruksi Kesenian Uzur

AMLAPURA Pemerintah Kabupaten Karangasem melalui Dinas Kebudayaan gagal membangun kembali kesenian klasik atau kuno yang hampir punah. Kegagalan menata kembali kesenian lama ini karena Bupati Karangasem I Gede Dana rajin mengalokasikan dana untuk rekonstruksi ke Dinas Kebudayaan.

Padahal, rekonstruksi seni kuno ini cukup penting untuk disimpan untuk regenerasi di masa depan. Seperti tahun-tahun sebelumnya, upacara pencatatan seni dan budaya lainnya di Karangasem diselenggarakan secara rutin.

Ini untuk mencatat banyaknya kesenian yang terancam punah dan punah, serta beberapa kebudayaan yang masih ada. Biasanya budget yang disiapkan juga disesuaikan dengan jenis seni yang akan dipelajari.

Kepala Disbud I Karangasem Putu Arnawa mengungkapkan, perkiraan untuk rekonstruksi seni yang hampir punah atau hampir punah rata-rata mencapai puluhan juta.

Baca:  Dengan lebih dari 80.000 kematian, Argentina berjuang hadapii COVID-19

“Anggarannya disesuaikan. Tergantung jenis keseniannya. Seperti contoh seni wayang wong yang kurang lebih sama, karena pakaian penarinya tidak sama jika dibandingkan dengan asesorisnya,” ujarnya, Minggu (16/2). 16/5).

Arnawa menjelaskan, program rekonstruksi dan pencatatan upacara budaya juga mengacu pada undang-undang nomor 5 tahun 2017 tentang Pembangunan Kebudayaan. Pihaknya mengakui cukup sulit merekonstruksi seni yang langka dan punah dengan usia puluhan bahkan ratusan tahun.

Dalam proses rekonstruksi seni, lanjutnya, harus dilandasi kajian akademis. Selain studi akademis, yang dibutuhkan untuk merekonstruksi kesenian kuno ini juga mencari sumber data dan saksi yang masih hidup yaitu para seniman seni.

“Dari pendataan kami, jenis budaya yang paling punah atau hampir punah adalah kesenian tradisional, tari dan musik,” jelasnya.

Baca:  Tol Gilimanuk - Mengwi, Solusi Kesenjangan Bali Barat dan Bali Selatan

Sedangkan untuk upacara budaya punah jarang terjadi. Hal ini dikarenakan ritus tersebut tetap bertahan karena di dalamnya terdapat unsur sosiotologi.

“Beberapa kesenian tersebut masih ada karena berkaitan dengan prosesi upacara keagamaan. Hingga selama upacaranya dilaksanakan, kesenian sebagai salah satu unsur di dalamnya juga akan tetap ada,” imbuhnya.

Ia menambahkan, beberapa jenis kesenian yang sudah punah tersebut antara lain gambuh, arja, wayang wong, dan beberapa jenis seni lukis.

“Kami berkesempatan untuk membangun kembali gambuh, rejang berpusing di Desa Tradisional Purwayu, beberapa wayang wong. Untuk tahun ini tidak ada rekonstruksi karena tidak ada anggaran untuk itu,” pungkasnya.

.

Komentar