Surut, Air Sumur Keruh dan Amis, Korban Banjir Kesulitan Air Bersih

by -31 views
Surut, Air Sumur Keruh dan Amis, Korban Banjir Kesulitan Air Bersih

SEMAAPURA – Air luapan dari Sungai Candi Gara, Desa Kusamba yang menenggelamkan puluhan rumah di desa tersebut, sejak Rabu (9/6) sekitar pukul 06.00 akhirnya surut.

Meski begitu, ada sejumlah warga yang memilih untuk terus dievakuasi karena rumahnya masih kotor berlumpur, bahkan tempat tidurnya basah.

Apalagi ada warga yang kesulitan mendapatkan air bersih karena air sumurnya keruh dan berbau amis setelah tenggelam di banjir.

Seorang warga Banjar Anyar, Desa Kusamba yang rumahnya terendam banjir, Ni Wayan Eden, 40, mengatakan,

Hujan deras yang melanda Desa Kusamba pada Rabu (9/6) sekitar pukul 05.00 menyebabkan luapan Sungai Candi Gara hingga menyebabkan banjir mulai pukul 06.00.

“Suami saya dan saya adalah satu-satunya yang tidur di rumah di atas meja. Saat bersama anak dan cucu, saya minta pindah ke rumah saudara, katanya.

Baca:  Koster Terbitkan Pergub Lagi, Kali Ini untuk Pekerja Migran

Meski air surut, menurut dia, kondisi rumahnya saat itu sudah tidak layak huni. Selain berbau harum, lantai rumah juga licin sehingga berbahaya bagi anak, cucu dan tentunya menantunya yang sedang hamil.

“Karena di lingkungan ini ada produksi biji sirih. Jadi saat banjir tadi malam, airnya berbau amis,” jelasnya.

Lebih lanjut, dia mengaku kesulitan air bersih sejak banjir melanda hingga kemarin. Pasalnya, sumur yang memenuhi kebutuhan air bersih sehari-hari di rumahnya kebanjiran.

Saat banjir surut, air sumur keruh dan berbau harum, sehingga tidak layak untuk dimakan. “Saya hanya menggunakan air sumur untuk mandi.

Untuk minum, saya membeli air mineral. Saya juga tidak masak karena perabotannya masih kotor, jadi saya beli makanan,” ujarnya.

Kepala Bengkel Kusamba, Nengah Semadi Adnyana membenarkan, banjir surut pada Rabu (9/6) sekitar pukul 19.00.

Baca:  UPDATE! Buka Kelas Orgasme di Ubud, Bule Kanada Diciduk Imigrasi

Ia juga menegaskan warga yang menggunakan air sumur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tidak bisa menggunakan air sumurnya karena berbau amis dan berwarna keruh.

“Namun, tidak banyak warga yang menggunakan air sumur. Mereka yang menggunakan air sumur, untuk sementara meminta air dari tetangganya, yang menggunakan air PDAM untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta kemarin malam meninjau pengerukan yang dilakukan petugas.

Daerah Aliran Sungai (BWS) Bali-Penida Tengah pada material sedimen penyebab lumpur di muara Sungai Candi Gara.

Pengerukan dilakukan oleh pegawai Balai Besar Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida bersama dengan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Klungkung dengan mengerahkan satu unit alat berat.

Berdasarkan informasi dari warga sekitar, Suwirta mengungkapkan hampir setiap pagi sungai itu seperti tong sampah yang mengalir.

Baca:  Alat Terlambat Datang, Pelabuhan Gilimanuk Tunda Penggunan GeNose C19

Sampah-sampah tersebut terbawa arus hingga tersangkut di dahan pohon di sepanjang bantaran sungai di kawasan hilir Candi Gara.

Sampah kemudian mengendap membuat alur sungai menjadi dangkal. “Hari ini kami dan BWS melihat pengerukan sungai Candigara.

Menurut penduduk setempat, hampir setiap pagi sungai itu seperti tempat sampah berjalan. Artinya masih banyak masyarakat yang membuang sampah ke sungai,” ujarnya.

Menurut Bupati Suwirta, Pemkab Klungkung telah membuat peraturan untuk memisahkan sampah dari rumah dan setiap desa diminta menyiapkan tempat untuk mengolah sampah yang akan ditampung di sumbernya.

Melihat apa yang terjadi di Sungai Candi Gara, ia mengajak semua pihak untuk bersama-sama menyelesaikan masalah sampah ini.

“Mari kita bekerja sama, karena ini bukan hanya urusan pemerintah tetapi untuk semua orang,” katanya.

.

Komentar