Ternyata, Puluhan Napi Wanita Ngaku Tak Tahu Kalau Disinfektan Oplosan

by -28 views
Ternyata, Puluhan Napi Wanita Ngaku Tak Tahu Kalau Disinfektan Oplosan

Hasil penelusuran sementara menunjukkan puluhan perempuan tahanan kasus narkotika yang saat ini menjalani perawatan intensif di RSUP Sanglah Denpasar, tidak mengetahui bahwa yang mereka minum adalah disinfektan.

Teka-teki kronologis pesta desinfeksi maut di Lapas Wanita Kelas II Denpasar akhirnya terungkap.

Di tengah penyelidikan dan penyidikan oleh pihak kepolisian, lapas dan rumah sakit, terungkap bahwa disinfektan yang merenggut nyawa korban berawal dari warga Radita alias RT (korban yang meninggal),

Ella Nira Kencana (sedang cuci darah dan masih kritis) bersama Cahyani Aprilia Santoso Angraeni alias Feli nongkrong di depan blok tahanan.

Entah saran siapa, tiba-tiba mereka mengambil sekitar tiga botol cairan yang masih berisi limbah disinfektan tanpa sepengetahuan petugas di gudang penyimpanan, Rabu malam (9/6).

Diduga akibat kecanduan narkoba, desinfektan tersebut diminum.

Namun, sebelum diminum, salah satunya menyarankan agar cairan tersebut dicampur dengan bubuk Nutrisari sebagai penyedap dan pewarna buah.

“Untuk sementara, mereka mengalami halusinasi karena kecanduan. Mereka menganggap biasa minum disinfektan yang dicampur Nutrisari, sedangkan orang normal melihat ini sebagai keanehan,” kata sumber dari petugas Lapas yang ditemui di RS Sanglah.

Baca:  Bupati Klungkung tanam 150 bibit pohon di Desa Wisata Besan

Sumber yang merahasiakan namanya mengatakan, mereka diracun dengan meminum obat kimia (disinfektan) untuk membasmi penyakit, yang dicampur dengan minuman sari buah (Nutrisari).

“Nutrisari bisa dinikmati dingin atau hangat menggunakan air mineral, tapi dicampur dengan cairan desinfektan. Kotor,” canda sumber tersebut.

Singkat cerita, aksi nekat 21 tahanan itu terungkap saat Radita, Cahyani Aprilia Santoso, Ella Nira Kencana, dan Angraeni alias Feli mengadu sakit dan mendatangi klinik di Lapas Wanita Kelas IIA, Denpasar, Kamis (10/10). 6) sekitar pukul 10.00 WITA.

Kepada dokter Lapas, mereka mengaku mengalami pusing, nyeri dada, perut panas, lemas, nyeri perut, dan sesak napas.

Selanjutnya, setelah menerima keempat WBP tersebut, dokter di poliklinik lapas kemudian berkoordinasi dengan Kapolres untuk merujuk mereka ke RS Sanglah.

“Mereka dirujuk ke RS Sanglah karena keluhannya sangat parah. Pagi-pagi sudah diberi obat pereda nyeri, tapi sampai sore masih mengeluh sakit,” jelasnya.

Baca:  Kapolresta Denpasar: Ada sanksi tegas bagi pemudik

Untuk mencegah peredaran narkoba, keempat tahanan tersebut diamankan saat dibawa ke RS Sanglah, sekitar pukul 15.30. Selain itu, mereka juga dilarang membeku.

Sementara itu, setelah mereka berempat dibawa ke RS Sanglah, di Klinik Lapas, jawab napi perempuan itu.

Diantaranya Thalia Akritiani Sualang, Mella Apriliani, Neng Dian Nopitasari, Amalia alias Jesica dan Vian Indah Sari.

Disusul lagi, Emah Sopiah, Rina Novianti, Bunga Erita Septya Putri, Nurul Khoerunissa, Intan Ratnasari, Eka Kusumaningtyas, Dewa Ayu Bella Evita, Endah Supiyanti, Ni Komang Susilawati dan Fenny Yanthi Esmindar.

“Kelompok kedua terdiri dari 15 orang. Pengaduannya sama dengan kelompok pertama. Bahkan ada yang muntah-muntah. Pengaduan dari narapidana membuat Kepala Lapas Wanita Kelas IIA Denpasar, Lili dan petugas panik setelah mendapat informasi bahwa 1 meninggal dan saya hampir mati untuk berobat. .dialisis,” tambah sumber tersebut.

Ke-15 tahanan tersebut kemudian dibawa ke RS Sanglah pada Jumat (11/6) sekitar pukul 07.00.

Baca:  Kasus peredaran narkoba Sumatera-Bali - ANTARA News Bali

Kemudian, setelah ada yang meninggal, lanjut sumber itu, muncul kelompok ketiga bersama dua orang tahanan, Anggita Vina Astianingrum dan Ita Purnamasari.

“Informasi terakhir dari pihak rumah sakit, jenazah Radita sudah berada di kamar mayat dan akan dibunuh secara otomatis.

Ella Nira Kencana sudah berada di ruangan untuk cuci darah. Kemudian, ada beberapa lagu yang sudah ada di dalam ruangan. Beberapa masih di UGD,” ujar sumber tersebut.

Sementara itu, Kepala Lapas Wanita Kelas II Denpasar, Lili menyatakan, dari hasil awal diketahui Radita dan Ella Nira Kencana sebagai pelaku pencampuran disinfektan.

“Yang meninggal dan yang kritis ditemukan bahan peledak. Pengakuan narapidana sebenarnya diundang. Mereka dianggap minuman beralkohol (mikol) biasa. Belakangan diketahui yang mereka minum adalah campuran Disinfektan dan Nutrisari,” kata Kalapas yang lahir di Jambi, 27 November 1971.

.

Komentar