Kasus Melonjak, Rencana Bali Buka Pariwisata Juli Terancam Ditunda

by -14 views
Kasus Melonjak, Rencana Bali Buka Pariwisata Juli Terancam Ditunda

DENPASAR-Keinginan masyarakat untuk bisa kembali hidup normal dengan dibukanya kembali pariwisata Bali, Juli 2021, sepertinya harus dibatalkan.

Hal ini diikuti dengan tren peningkatan kasus dan peningkatan jumlah pasien Covid-19 di sejumlah rumah sakit di Bali.

Demikian disampaikan Guru Besar Virologi dan Biologi Molekuler Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana (FKH Unud) Prof Dr drh I Gusti Ngurah Kade Mahardika.

Saat dikonfirmasi, Selasa (22/6) ia juga menyetujui rencana penundaan tur yang rencananya akan dibuka pada Juli 2021.

Penarikan bukaan pariwisata mengacu pada perkembangan terkini terkait tingkat hunian rumah sakit di Bali yang mulai meningkat.

Selain itu, tren kasus di tingkat nasional juga terus meningkat. “Oleh karena itu, pembukaan pariwisata harus ditunda,” katanya.

Baca:  Kota Denpasar jadi tuan rumah rangkaian GMAEA

Namun, pemerintah diminta tidak gegabah.

Pemerintah, kata Prof Mahardika, harus meningkatkan vaksinasi hingga 70 persen, atau minimal 50 persen penduduk Bali.

Sebelum 50 persen, sangat berisiko untuk membuka pariwisata.

Menurut data yang diperoleh surat kabar ini, dari 4,3 juta orang di Bali, hanya 1.874.213 orang yang menerima vaksin dosis pertama dan 706.089 orang mendapatkan dosis kedua.

“Artinya pemerintah harus mempercepat proses vaksinasi. Setidaknya 50 persen penduduk di Bali sudah divaksinasi,” jelas salah satu anggota Tim Spesialis Medis Gugus Tugas Nasional Covid-19.

Mahardika juga meminta pemerintah, khususnya Pemerintah Provinsi Bali, membuat regulasi baru tentang siapa saja yang boleh masuk ke Bali. Jika ingin aman, setidaknya ada dua syarat yang harus dipenuhi.

Baca:  Pogba antar MU lewati Milan ke perempat final Liga Europa (video)

Syarat pertama, orang yang masuk ke Bali harus divaksinasi.

Syarat kedua, lanjut Mahardika, orang yang masuk ke Bali harus negatif Covid-19 berdasarkan hasil swab tes PCR.

“Negatifnya harus diuji dengan PCR, bukan tes antigen cepat, apalagi G-nose,” katanya.

Dia mencontohkan, Piala Eropa yang bisa disaksikan langsung oleh penonton. Panitia Piala Eropa hanya memberikan izin masuk stadion bagi penonton yang sudah divaksinasi.

Jika belajar dari Piala Eropa, Mahardika menilai penanganan Covid-19 di Bali seharusnya mudah.

Karena Bali adalah pulau kecil. Mahardika meminta pemerintah menunggu dua pekan setelah Piala Eropa berakhir.

Jika dua minggu setelah Piala Eropa tidak ada wabah kasus di Eropa, maka vaksinasi menjadi syarat mutlak bagi orang yang ingin masuk ke Bali.

Baca:  TNI AL akan evakuasi KRI Nanggala-402 di perairan Bali

Profesor Unud juga mengingatkan pemerintah untuk menambah jumlah tempat tidur di rumah sakit yang dilengkapi oksigen dan ventilator. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan kasus.

Langkah selanjutnya adalah memaksimalkan pengujian dan pencarian sampel. Semakin banyak yang diuji dan dilacak, semakin menjadi target pengobatan.

Sama pentingnya, isolasi harus dilakukan secara terpantau. Orang-orang yang terisolasi harus dipantau pergerakannya.

Mahardika mengaku tidak menyalahkan masyarakat karena tidak peduli. Sebab, selama 1,5 tahun tidak ada kepastian wabah akan berakhir.

“Semua capek, kram bawah capek (semua capek). Harapan terbesarnya adalah mempercepat vaksinasi,” pungkasnya.

.

Komentar