Hujan Es Sebesar Batu Kerikil Terjang Wilayah Kubu Bangli Bali

by -68 views
Hujan Es Sebesar Batu Kerikil Terjang Wilayah Kubu Bangli Bali

BANGLI-Fenomena hujan es atau Salam pembuka bertempat di Kecamatan Kubu, Kabupaten Bangli, Bali, Jumat sore (26/2) sekitar pukul 13.00 WITA.

Meski ini fenomena umum, banyak warga yang dikejutkan oleh jatuhnya es batu sebesar kerikil.

Terkait fenomena hujan es yang terjadi di Kubu, Kepala Bidang Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bangli Agus Sutapa membenarkan hal tersebut.

“Benar, di Kubu ada fenomena hujan es,” kata Agus Sutapa.

Ia menambahkan, saat hujan es di Kabupaten Kubu, awan terlihat sangat gelap.

Kemudian, hujan deras disertai angin kencang.

Menurut Agus Sutapa, saat hujan es tersebut, banyak warga di kawasan Desa Kubu yang menyaksikannya.

Baca:  Dua Tahun, Perpustakaan Karangasem Tak Menambah Koleksi Buku

Bahkan, beberapa warga memotret es batu berbentuk es tersebut.

“Astungkara, saat hujan es, tidak ada hal buruk yang terjadi,” katanya.

Sementara itu, masih terkait fenomena hujan es, Agus Sutapa juga menyatakan bahwa BPBD Bangli sendiri telah berkoordinasi dengan Balai Besar Meteorologi Geofisika Klimatologi (BMKG).

Berdasarkan penjelasan Humas BMKG yang diterima BPBD, Agus Sutapa mengatakan bahwa sehari sebelumnya (sebelum fenomena hujan es), atau tepatnya pada Kamis malam (25/2) cuaca di Kabupaten Kubu terasa lebih panas dan panas dibanding hari-hari sebelumnya.

Warga bahkan merasakan cuaca panas dari malam hingga Jumat pagi ini.

Terkait hawa panas yang dirasakan warga, Agus Sutapa menjelaskan dari informasi BMKG, hal ini disebabkan kuatnya sinar matahari.

Baca:  Angka Kematian Covid-19 Tinggi, Buleleng Merosot ke Zona Merah

Bukti kuatnya radiasi matahari ditunjukkan dari nilai perbedaan suhu udara antara pukul 10.00 dan 07.00 LT (> 4,5 ° C) dengan nilai kelembaban udara pada lapisan 700 mb (> 60%).

“Mulai pukul 10.00 WIB sudah bisa melihat awan kumulus (awan berlapis putih) yang tumbuh. Di antara awan tersebut terdapat jenis awan yang memiliki batas berwarna abu-abu sangat jernih, menjulang tinggi seperti kembang kol,” jelas Agus.

Tahap awan selanjutnya akan berubah warna dengan cepat menjadi abu-abu atau hitam yang dikenal dengan awan Cb (Cumulonimbus).

Biasanya hujan pertama yang turun adalah hujan deras yang tiba-tiba. Kalau turun hujan ringan, maka ada angin kencang jauh dari tempat kita berada, ”jelasnya.

Baca:  Vaksinasi COVID-19 secara massal di Ubud

Jika tidak turun hujan selama 1-3 hari berturut-turut selama musim pancaroba, kata Agus, maka ada indikasi potensi hujan lebat yang akan turun lebih dulu diikuti angin kencang. Baik mereka yang termasuk dalam kategori tornado maupun yang bukan.

Penjelasan lebih lanjut, jarak hujan es antara 5-10 km, dengan waktu kurang lebih 10 menit.

Ini lebih sering terjadi pada transisi musiman (transisi). Ini terjadi lebih sering pada siang atau malam hari, dan terkadang larut malam.

.

Komentar