Delapan Kapal Feri Hengkang dari Ketapang

by -20 views
Delapan Kapal Feri Hengkang dari Ketapang

RadarBanyuwangi.id Wabah korona melanda bisnis angkutan laut di Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk. Pada Hari Raya tahun ini, ada delapan kapal motor penumpang (KMP) yang “pindah” ke pelabuhan lain karena pendapatan yang rendah.

Sejak akhir Desember 2020, baru 48 kapal yang beroperasi di Pelabuhan ASDP Ketapang. Kapal-kapal tersebut berlayar bergantian sesuai jadwal yang ditetapkan oleh Balai Angkutan Darat (BPTD) Wilayah XI Provinsi Jawa Timur. Padahal, pada Lebaran tahun lalu masih ada 56 kapal yang beroperasi di pelabuhan penghubung Jawa-Bali itu. “Mungkin pemilik kapal sudah menghitung kerugiannya. Saat bisnis sepi, mereka memilih memindahkan kapal ke pelabuhan lain,” kata koordinator Unit Pelabuhan Penyeberangan BPTD Ketapang Rocky Surentu.

Baca:  Uji Kir Kendaraan Barang Banyak Yang Mati

Pergerakan kapal-kapal ini ke pelabuhan lain mungkin terkait dengan pengoperasian bahan bakar minyak (BBM) dan peraturan uji cepat wajib ke Bali yang berdampak pada pelabuhan yang tenang. Rata-rata kapal yang pindah ke pelabuhan lain berjenis KMP.

Sedangkan tipe Landing Craft Tank (LCT) masih berjalan dengan aman. Pasar LCT sangat besar sehingga kendaraan logistik dan truk tidak terlalu terpengaruh selama wabah. Delapan kapal yang bergerak ke pelabuhan lain dibawa ke Pelabuhan Kayangan, Lombok Timur, Pelabuhan Palembang, dan beberapa pelabuhan di Indonesia Timur. “Karena faktor rendah yang berlanjut saat wabah, banyak perusahaan pelayaran yang tidak mampu membayar awaknya. Daripada di-PHK, jalan keluarnya adalah pindah ke pelabuhan lain dengan lalu lintas normal,” jelas Rocky.

Baca:  Terdampar Sampai di Hutan, Banyak Jeritan Tangis dan Azan

Jika kondisi tidak berubah atau pelabuhan tetap sepi, ada kemungkinan kapal lain akan bergerak. Keputusan ini dinilai lebih rasional daripada mempertahankan kapal di tengah lalu lintas pelabuhan yang sepi. Rocky berharap ada perubahan setelah dilakukan screening Covid berbasis GeNose di Pelabuhan Ketapang sejak Sabtu (1/5), terutama dari jumlah penumpang kapal yang datang ke pelabuhan. Biaya tes GeNose yang hanya Rp 40.000 masih sangat terjangkau bagi calon penumpang.

Biaya ini jauh lebih murah dibandingkan rapid antigen testing yang mencapai Rp 160 ribu hingga Rp 180 ribu untuk sekali tes. “Kami sudah melihat ada calon penumpang yang ingin menyeberang, tapi dibatalkan karena uangnya hanya cukup untuk membeli tiket kapal. Padahal orang itu ingin bekerja ke Bali. Ini yang membuat kami menyesal, semoga dengan GeNose ada perubahan menjadi lebih baik, “Harap mantan atlet. judo. (fre / aif)

Baca:  Kepala Dinas Harus Merangkap Jadi PPK

.

Komentar