Rela Bermalam di Pasar demi Dapat Banyak Pembeli

by -38 views
Rela Bermalam di Pasar demi Dapat Banyak Pembeli

RadarBanyuwangi.id – Tong anyaman bambu kurang diminati masyarakat. Bahkan seringkali tidak ada pembeli. Seperti Hosin yang berpengalaman. Untuk mencari pembeli, dia harus bermalam di pasar.

Hosin tidak ingat berapa tahun ia menggeluti profesinya. Yang pasti, sudah puluhan tahun. Pria berusia 60 tahun ini hanya mengingat ketika mulai menjadi penjual tempat sampah masih banyak beroperasinya mobil di sekitar kota Situbondo.

Saat itu, ia berjualan dengan mengendarai sepeda ontel yang masih digunakannya hingga saat ini. Ia mengatakan, pembelinya juga sangat banyak. Dalam sehari, tempat sampah anyaman bambu yang dijualnya selalu habis. “Sekarang beda karena jarang ada pembeli,” ujarnya.

Hosin mengatakan, saat ini barang dagangannya sangat jarang dijual. Dalam sehari, paling banyak terjual lima buah. Karena jarang berjualan, ia tidak pulang ke rumahnya di Kecamatan Cerme, Bondowoso. “Saya tinggal di pasar,” katanya.

Baca:  Sebanyak 59 Santri Al Mubarok Jalani Isolasi Mandiri

Pria dengan tiga anak dan dua cucu ini bermalam di Pasar Senggol. Dia biasanya tinggal di pasar selama dua malam. Setelah itu, dia pulang. Keesokan harinya Hosin kembali lagi untuk menjual. Pasar saya selalu Situbondo, tambahnya.

Ia selalu bermalam di pasar Senggol. Alasan memilih pasar di Jalan Pemuda karena lebih aman. Sejauh ini, dia tidak pernah mengalami pembobolan keamanan. “Pasar lain tidak berani,” kata Hosin.

Penghasilan dari profesi ini tidak seberapa. Dalam satu bin, keuntungannya Rp 5.000. Kalau sehari laku lima potong, dia bisa Rp 25 ribu. “Tapi jarang jualan sampai lima, biasanya cuma dua,” ujarnya.

Hosin tidak memiliki sumber pendapatan lain. Satu-satunya sumber pendapatan adalah dari menjual tempat sampah. Meski begitu, dia merasa tidak pernah kekurangan ekonomi. “Alhamdulillah saya bisa memenuhi kebutuhan keluarga,” imbuhnya.

Baca:  Warga Desa Kertosari Desak Kades Bentuk Pengurus Hippa

Bagi Hosin, rezeki bukanlah urusan manusia. Dia mengatakan manusia hanya diminta untuk mencoba. Selanjutnya, Tuhan yang menentukan. Dengan demikian, Hosin berserah sepenuhnya kepada Sang Pencipta. “Ada Pengaran yang mengatur rezeki saya,” pungkasnya. (bib)

.

Komentar