Heboh Fenomena Waterspout di Pantai Boom

by -9 views
Heboh Fenomena Waterspout di Pantai Boom

Radar Banyuwangi.INDO – Angin puting beliung melanda kawasan pantai Pantai Boom, Desa Kampung Mandar, Kabupaten Banyuwangi, pukul 16.15 kemarin. Angin puting beliung yang dikenal dengan sebutan DAS ini sempat membuat heboh warga. Sejumlah pengunjung Pantai Boom ketakutan. Mereka berlari menyelamatkan diri dari badai.

Beberapa warga berhasil mengabadikan momen ketika angin berputar-putar di lautan selama kurang lebih 20 menit. Beberapa perahu nelayan tersapu angin. Sedikitnya dua rumah dan satu perahu milik warga rusak.

Kedua rumah tersebut masing-masing milik Heru Hermawan dan Dulah. Kedua rumah mengalami kerusakan atap. Sementara itu, salah satu kapal Prayoga membobol tiang dan tenda. Salah seorang warga, Tulus, mengaku melihat angin puting beliung di tengah laut sekitar pukul 16.20 WIB di sekitar Pantai Boom.

Baca:  Biaya Perbaikan Jembatan Paraaman Rp 5,3 Miliar

Melihat angin yang mendekati bibir pantai, Tulus segera berlari menyelamatkan diri. “Saya kaget, karena anginnya lumayan kencang dari timur ke barat,” kata pria 47 tahun itu.

Angin, jelas Tulus, terlihat dari timur ke barat. Angin, awalnya muncul di tengah laut. “Awalnya hanya terlihat awan mendung, tapi tiba-tiba ada badai yang melintasi laut,” katanya.

Prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Banyuwangi I Gede Agus Purbawa mengatakan kepada RadarBanyuwangi.id bahwa puting beliung disebabkan oleh perbedaan suhu udara di darat dan di laut. Kondisi ini menyebabkan angin puyuh. Pemicu lainnya adalah awan cumulonimbus (CB) yang dapat menyedot udara. Peristiwa ini biasanya disebut daerah aliran sungai. “Fenomena ini biasanya tidak berlangsung lama, perairan ini disebut juga batang air. Kejadian itu awalnya muncul dari Selat Bali,” jelasnya.

Baca:  Lagi, KH Astro Junaidi Pimpin LDII Banyuwangi

Dia meminta nelayan atau warga pesisir untuk lebih berhati-hati karena angin puting beliung bisa saja terjadi lagi. “Pemadaman air bisa kapan saja. Kalau ada nelayan yang masih melaut, lebih baik segera bersandar,” ujarnya.

Gede menambahkan, terjadinya fenomena ini juga akan mempengaruhi perubahan suhu. Fenomena tersebut sebenarnya mirip dengan puting puting. Hanya jenis awan yang berbeda dan di mana itu terjadi. “Kalau kerusakan terjadi di darat, tapi aliran air terjadi di atas air. Itu pasti berbahaya,” pungkasnya. (rio/ aif / c1)

.

Komentar