Sengketa Lahan di Desa Pakel Masuk Ranah Hukum

by -1 views
Sengketa Lahan di Desa Pakel Masuk Ranah Hukum

RadarBanyuwangi.id – Sengketa tanah antara warga Desa Pakel, Kecamatan Licin dengan kebun swasta PT Bumi Sari Maju Sukses, akhirnya masuk ranah hukum. Salah seorang warga yang menggugat pemilik lahan, Musanef, 40, warga Dusun Durenan, Desa Pakel, Kabupaten Licin, melapor ke Polres Banyuwangi, Selasa (6/7).

Musanef melaporkan lima orang yang dianggap sebagai pencetus konflik di negaranya. Kelimanya adalah tiga pejabat di Pemerintah Desa Pakel, yakni Kepala Dusun Durenan, Desa Pakel, Suwarno, 54; Kepala Desa Pakel, Mulyadi, 56, dan staf Desa Pakel, Romli, 52. Dua lainnya adalah warga setempat. “Ada unsur politiknya,” kata Musanef, 40 tahun.

Menurut Musanef, saat pemilihan kepala desa (Pilkades) 2018, kepala desa Pakel Mulyadi saat kampanye mengatakan akan menyita lahan di PT Bumi Sari Maju Sukses dan mensertifikasi lahan untuk kepentingan warga. “Peminatnya banyak, sehingga terjadi kekacauan di Desa Pakel,” ujarnya.

Baca:  Melawan Arus, Pengendara Vario Meninggal Tertabrak APV

Agar masalah tidak berlanjut, ia melaporkan lima orang yang diduga sebagai dalang konflik ke Polres Banyuwangi. Kelima orang tersebut adalah Ketua Dusun Durenan, Desa Pakel, Suwarno, 54; Kepala Desa Pakel, Mulyadi, 56, dan Staf Desa Pakel Romli, 52. “Ada dua orang lagi dari warga,” jelasnya.

Selain itu, Musanef juga menuntut agar akta 1929 yang dipegang Suwarno itu segera dikembalikan. Sebab, dia berhak atas ulah 1929. “Saya sudah lapor ke Polres Banyuwangi, sekarang menunggu proses selanjutnya,” ujarnya.

Musanef menduga kelima anggota polisi itu mengancam warga akan menempati perkebunan PT Bumi Sari Maju Sukses. Selain itu, banyak warga di luar Desa Pakel yang merusak kebun dan membangun gubuk di taman PT Bumi Sari Maju Sukses. “Saya juga tidak kenal mereka, saya curiga mereka diundang oleh lima orang itu,” katanya.

Baca:  40 Penghafal Alquran Dapat Tunjangan Kehormatan

Kepala Dusun Durenan, Desa Pekel, Suwarno mengaku tidak masalah melaporkannya ke polisi. Sebelumnya, dia pernah dilaporkan terkait masalah serupa oleh Musanef. Namun, laporan itu ditarik. “Tidak apa-apa, lanjutkan saja, itu benar Musanef,” katanya.

Suwarno mengakui, akta 1929 memang ada di tangannya, dan disimpan sejak 1999. Akta itu dijaga dengan baik agar tidak disalahgunakan oleh orang yang tidak berwenang. “Tujuan saya satu-satunya adalah untuk mendapatkan UU 1929, itu kehendak para pemimpin Desa Pakel,” katanya.

Isi akta 1929, jelasnya, adalah izin pembukaan lahan yang diperuntukkan bagi warga Desa Pekel, dan tidak ada tulisan atas nama ahli waris. “Kalau Musanef mengaku sebagai ahli waris atas tanah sengketa, itu sama sekali tidak benar, dan menyimpang dari isi akta. Dalam akta itu yang disebut warga Desa Pakel dan bukan orang perseorangan,” ujarnya.

Baca:  Ini Momen Kebersamaan Kru KRI Nanggala 402 di Banyuwangi Setahun Lalu

Kepala Desa Pakel Mulyadi, saat dikonfirmasi, mengaku tidak mengetahui bahwa Musanef telah dilaporkan ke Polres Banyuwangi. Jika ada panggilan resmi dari Polres Banyuwangi, akan dipenuhi. “Saya akan patuh jika itu proses hukum. Nanti saya juga akan laporkan kembali ke Musanef tentang kasus ini,” katanya.(kri / abi)

.

Komentar