Duh! Tiga Bulan, 13 Bayi di Rembang Melayang, Ini Dia Penyebabnya

by -30 views
Duh! Tiga Bulan, 13 Bayi di Rembang Melayang, Ini Dia Penyebabnya

REMBANG – Angka Kematian Bayi (AKB) Neonatal sampai Maret tahun ini mencapai 13 kasus. Jika melihat data tahun lalu, rata-rata bayi meninggal karena asfiksia. Atau keadaan saat kadar oksigen dalam tubuh menurun.

Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. R Soetrasno Rembang Agus Setiyo Hadipurwanto mengatakan kasus AKB memang menurun. Pada 2018 terdapat 94 kasus, kemudian menurun pada 2019 dengan total 86 kasus. Dan tahun lalu ada 60 kasus. Sedangkan per Maret tercatat 13 kasus.

Pada tahun 2020, penyebab kematian bayi terbanyak adalah karena asfiksia sebanyak 42 anak, sepsis 9 anak, kelainan kongenital 6 anak, BBLR 1 anak dan aspirasi 2 anak. Di sisi lain, Angka Kematian (AKI) ibu di Rembang menunjukkan peningkatan. Tahun 2019 tercatat 6 kasus, tahun lalu 11 kasus.

Baca:  Polsek Grobogan Sumbang Semen untuk Masjid Lebak

Penyebabnya karena penyakit penyerta, perdarahan, eklamsia dan sepsis. “Beberapa dari mereka tertular Covid-19 dari kematian ini.” Ia mengatakan, pada tahun 2020 terdapat 11 kasus kematian ibu. Ada beberapa di antaranya yang diketahui positif Covid-19.

Beberapa waktu lalu, Agus sempat menghadiri rapat online soal ini. Yang membahas tentang hasil audit program kematian ibu di daerah dengan angka kematian tinggi. Hasil asesmen tersebut, kata Agus, kematian ibu terjadi karena faktor pra rumah sakit dan rumah sakit.

Salah satu faktor pra rumah sakit adalah keterlambatan rujukan. Diantara faktor rumah sakit tersebut, karena hasil klinis yang tidak akurat, pemantauan yang tidak akurat, kematian enam jam setelah rawat inap, dan pengobatan yang terlambat.

Baca:  Gas RME Belum Diminati Industri Lokal

“Ini hasil dari POGI (Perhimpunan Kebidanan dan Kandungan). Review ini tidak termasuk di Kabupaten Rembang. Semoga saja. Mungkin sebagai refleksi penilaian bagi kita,” terangnya.

Menurut Bupati Rembang Abdul Hafidz, penurunan AKI dan AKB tidak bisa hanya ditanggung oleh tenaga kesehatan. Peran ibu hamil dalam berobat ke fasilitas kesehatan juga penting. Setidaknya empat kali selama kehamilan.

Meski angka kematian bayi mengalami penurunan, menurut orang nomor satu di Rembang ini tetap menunjukkan tren yang tinggi. Di Jawa Tengah, lanjutnya, Rembang berada di peringkat ke-10.

“Angka ini bisa turun dari tahun ke tahun. Kita sadari itu tidak mudah. ​​Karena ini domain operasi. Karena kita ini tenaga kesehatan, tapi faktor lain. Faktor maternal, faktor eksternal juga ikut berpengaruh,” ujarnya.

Baca:  2.236 Rumah di Blora Akan Dialiri Listrik

Untuk menekan AKI dan AKB, program dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dapat dilaksanakan. Yaitu gayeng jawa tengah nginceng orang hamil. Melalui posyandu atau ketua RT / RW, mereka turut serta memantau dan memantau kondisi ibu hamil dalam empat tahap. Mulai sebelum kehamilan, kehamilan, persalinan dan fase nifas.

.

Komentar