Tanpa Wayangan, Langsung Tahlilan

by -31 views
Tanpa Wayangan, Langsung Tahlilan

JEPARA, Radar Suci – Peringatan Hari Kartini tahun ini kembali digelar di Kabupaten Mayong. Tapi seperti tahun lalu. Media bergulir. Karena itu masih epidemi. Tidak ada pertunjukan wayang atau festival Gebyar Mayong. Hanya sholat dan tahlilan bersama.

Doa bersama dilanjutkan dengan tahlilan yang dilaksanakan di Tugu Plasenta Kartini. Ini dimulai pada 12:30 dan selesai sekitar 13:30. Kegiatan berlangsung singkat dengan peserta yang terbatas. Hanya sekitar 20 orang. Terdiri dari forum kepemimpinan distrik.

Peserta mengikuti doa bersama mengelilingi replika tugu plasenta RA Kartini. Dengan duduk bersila di atas karpet biru.

Tugu plasenta RA Kartini terletak di sebelah barat Pendapa, Kabupaten Mayong. Kemarin terasa sepi. Padahal pada tahun-tahun sebelumnya, setiap tanggal 21 April dipenuhi oleh anak-anak, pelajar, dan masyarakat umum dari dalam dan luar daerah.

Baca:  Dewan Turun Gunung Kulakan Ide Pembangunan

Bupati Mayong M. Subkhan mengatakan, sebelum merebak, hari lahir RA Kartini dirayakan dengan meriah di Kabupaten Mayong. Tiga hari tiga malam. Dari 19 hingga 21 April. Kegiatan tersebut berupa Gebyar Mayong.

Isinya berkisar dari bazar hingga pemilihan Duta Besar Kartini. Malam puncak, 20 April, adalah pertunjukan boneka. Sementara itu, pada 21 April, dilaksanakan shalat berjamaah dan tahlil di balai kecamatan. “Tapi tahun ini dan tahun lalu tidak ada. Hanya shalat bersama dan tahlil,” terang Subkhan.

Ia menegaskan, peringatan Hari Kartini bisa dilakukan dalam rangkaian apa saja. Termasuk dengan menggelar sholat dan tahlil bersama. “Untuk memberi manfaat bagi semua orang,” harapnya.

Baca:  Pekerja TPA Terima Bantuan Beras dari Kapolres

RA Kartini, menurutnya, merupakan sosok yang luar biasa. Seorang wanita yang melampaui waktunya. Bisa menginspirasi dalam perjuangan. Juga dalam memberikan manfaat yang besar bagi orang lain.

Di Mayong, peninggalan RA Kartini merupakan monumen asal-usulnya dan sebuah rumah yang dipercaya sebagai rumah masa kecilnya. Pasalnya RA Kartini diperkirakan hanya hidup sampai usia sekitar dua tahun di sana. Kemudian dia pindah ke Pendapa Kabupaten Jepara. “Saat itu ayahnya diangkat menjadi Bupati Jepara,” imbuhnya. (ROM)

.

Komentar