Hasil Ujian Diusulkan Dikoreksi Ulang

by -27 views
Hasil Ujian Diusulkan Dikoreksi Ulang

TOROH,- Puluhan warga Desa Katong, Kabupaten Toroh yang tidak lolos uji perangkat desa mengunjungi markas desa pada Kamis (10/6) kemarin. Mereka meminta koreksi ulang tes alat pedesaan.

Kemarin, puluhan warga menyatakan tidak percaya dengan pelaksanaan uji coba alat Desa Katong yang bekerja sama dengan Piliteknik Negeri (Polines) Semarang.

Perwakilan peserta pemilu pemeriksaan alat Desa Katong, Suprapto mengatakan, hasil pemeriksaan alat desa pada 7 Juni 2021 disinyalir tidak transparan. Karena ada indikasi nilai ujian yang dikeluarkan oleh Polines, karena penyelenggaraan ujian alat Desa Katong hanya berdasarkan nilai akhir dan tidak mengikutsertakan hasil keseluruhan penguji.

“Tuduhan menyontek ini karena Polisi tidak mengoreksi lembar jawaban di tempat ujian. Tapi dilakukan di tempat lain secara tertutup tanpa pengawasan dari pengawas independen di luar panitia ujian,” kata Suprapto.

Baca:    Mudahkan Masyarakat dengan Inovasi Layanan Kependudukan

Jika dilakukan di tempat tersendiri, kata dia, banyak peluang kecurangan yang dilakukan oleh penyelenggara ujian alat desa untuk mengubah, mengganti atau mengganti lembar jawaban soal kepada individu tertentu.

“Kami menuntut agar hasil tes Desa Katong ditingkatkan dengan membawa lembar jawaban peserta seleksi aparat desa,” ujarnya.

Ketua Panitia Pemeriksaan Perangkat Desa Katong, Nurrochim mengatakan, pelaksanaan pengisian perangkat sudah sesuai ketentuan dan terbuka serta transparan.

“Untuk panitia, mereka hanya menjalankan tugasnya sebagai pelaksana. Untuk hasil skor, pertanyaan, dll berasal dari Polines. Jadi kita sederhanakan saja. Poline akan melakukan koreksi,” jelasnya.

Kepala Kampung Katong Sukarsono mengatakan jika ada AC dan masalah lainnya, itu jelas tidak benar. Pasalnya, nilai yang keluar berasal dari tes seleksi alat desa yang diikuti serentak se-Kabupaten Grobogan.

Baca:    Vaksinasi Lansia Jauh dari Target

Menurutnya, hasil seleksi perangkat desa memilih skor tertinggi dengan urutan satu dan dua. Kemudian hasil tes kuliah diserahkan kepada panitia. Kemudian diserahkan kepada kepala desa dan selanjutnya kepada camat untuk diseleksi. “Dua dipilih karena jika ada yang meninggal posisi kedua bisa menggantikan mereka,” jelasnya.

Banyak calon yang keberatan, katanya, karena salah satunya mendapat sertifikat paket C. Sementara banyak sarjana yang ikut ujian tapi tidak lulus. Peserta lain juga mengklaim bahwa skor keluar tidak sesuai dengan prediksi jawaban tertulis.

Ada tiga formasi kosong untuk aparat Desa Katong. Yaitu formasi Kepala Dusun Katong, Kepala Dusun Jetis, dan Kepala Dusun Pembangunan. Dari tiga formasi tersebut, ada 21 pendaftar.

Baca:  Ada Perubahan Pengelolaan Keuangan, Bupati: Tolong Menyesuaikan Diri

.

Komentar