Semua Rumah di Cluster Karangjati Disita

by -30 views
Semua Rumah di Cluster Karangjati Disita

BLORA, – Bareskrim Polri kembali menyita puluhan rumah KPR Bank Jateng Blora. Kemarin (10/6) 24 rumah KPR di Perumahan Grand Cluster Klusjati, Blora disita. Saat ini ada total 8 perumahan dimana beberapa rumah disita.

Penyitaan ini merupakan lanjutan dari proses penyitaan pertama pada Rabu (9/5) lalu. Sebelumnya, tim Bareskrim menyita rumah di beberapa perumahan. Mulai dari Perumahan Bangeran, Desa Kamolan, Blora. Perumahan Pakis, Perumahan Beran, dan Perumahan Blingi, di Desa Tunjungan, Blora. Rumah tersebut disita karena terkait kasus korupsi di Bank Jateng Cabang Blora 2018-2019.

Joko, salah satu penghuni Perumahan Grand Cluster Klusjati, Blora mengaku kecewa dengan pihak pengembang dan Bank Jateng Blora. Karena tidak ada penjelasan tentang nasib pelanggan di masa depan. Apalagi saat ini mereka juga belum mengetahui status sertifikat rumah tersebut.

Baca:  Bom Bunuh Diri Lukai Semua Umat Beragama

TUTUP: Dua dari 24 rumah di Perumahan Grand Cluster Karangjati disita Bareskrim Polri.
(SUBEKAN / RADAR SUCI)

“Tinggal menunggu saja. Karena tidak ada kejelasan dari pihak perbankan, pengembang, dan penyidik. Saya kira berjalan lancar. Ternyata begini (sita, red),” imbuhnya.

Diakuinya, selama ini pembayaran berjalan lancar. Melalui pengembang. Dalam hal ini, PT Gading Mas Property. “Dari segi kenyamanan, saya dan seluruh warga di sini kurang beruntung. Semuanya melekat pada sita tersebut,” ujarnya.

Begitu pula dengan warga lainnya. Ahmad Setyo mengaku penyidik ​​tiba pada pukul 13.41 WIB. Tujuannya adalah untuk menyita rumah hipotek. “Penyitaan itu terkait Tindak Pidana Korupsi di BPD Blora Cabang Jateng 2018-2019. Saya lihat, baca berita, baca media sosial seperti itu,” imbuhnya.

Baca:  Satu Periode Kepemimpinan Bupati Sri: Infrastruktur Baik, Ekonomi Naik

Menurutnya, total penduduk Perumahan Grand Cluster Karangjati, Blora adalah 10 KK dari 25 rumah dan 28 kavling. Sedangkan sita berjajar dengan 24 rumah. Sebab, satu rumah dibangun sendiri. “Saya sendiri sangat terganggu. Sayang sekali. Ada pembatasan sosial seperti ini,” katanya.

Ia pun protes ke Bank Jawa Tengah. Karena rumahnya ditempel stiker pengawasan Bank Jawa Tengah. Bahkan kemarin diamankan Bareskrim Polri. “Saya tidak terima dan saat itu saya membeli rumah ini dengan uang muka Rp 50 juta dengan jaminan 250 juta sebagai jaminan,” tambahnya.

Ahmad Setyo mengaku menjadi korban hipotek. Ia merasakan kerugian sekitar Rp 150 juta. “Rumah saya disita. Padahal saya sebenarnya korban KPR. Kerugiannya sekitar Rp 150 juta dari awal sampai sekarang,” jelasnya.

Baca:  Mangkal di Zona Merah Didenda Setengah Juta

Untuk itu, pihaknya akan meminta hak dan kewajiban kepada BPD Blora. Artinya, dengan audiensi ke DPRD atau pemerintah daerah. Sekaligus sebagai uji coba dan meminta pihak bank untuk memberikan kejelasan kepada nasabah.

“Karena Rp 50 juta, Rp 100 juta itu uang yang banyak. Itu sangat berarti bagi kami. Uang besar. Dengan bank ingin kami membayar Rp 500 ribu sebagai dana bantuan Covid. Rumah saya disita hari ini,” keluhnya.

Pj Kepala Cabang Bank Sentral Blora Tri Nugroho mengaku tidak mengetahui berapa jumlah rumah yang disita. “Tanyakan saja ke Bareskrim, agar lebih akurat,” jelasnya singkat.

Sementara itu, penyidik ​​dari Satuan Reserse Kriminal Polri menolak memberikan keterangan kepada media terkait penyitaan tersebut.

.

Komentar