Daya Tampung Sungai Merosot hingga Hutan Gundul Jadi Penyebab Banjir

by -93 views
Daya Tampung Sungai Merosot hingga Hutan Gundul Jadi Penyebab Banjir

KUDUS – Kapasitas sungai di Kabupaten Kudus mengalami penurunan. Alhasil, saat hujan, banjir mudah terjadi. Akhirnya air meluap ke daerah pemukiman dan persawahan.

Koordinator Lapangan Banjir Aula PSDA Jratun Seluna Nor Cholis mengatakan, penurunan kapasitas sungai disebabkan sedimentasi. Salah satu penyebabnya adalah erosi di lereng Gunung Muria sejak tahun 2000 hingga sekarang. Ini semakin buruk. Karena perubahan penggunaan lahan di kawasan hutan.

Selain itu, terjadi pula penyempitan sungai. Karena beberapa daerah di sepanjang sungai sekarang menjadi pemukiman. Dan beberapa diubah menjadi lahan pertanian.

Dia mencontohkan, kasus sungai Gelis yang proses normalisasinya di hilir dibatalkan. Karena kendala tanah. Terakhir, normalisasi dilakukan dari hulu. “Harusnya dimulai dari hilir dulu, sampai air mengalir lancar,” jelasnya.

Baca:  PDM dan BPN Rembang Kerja Sama Percepat Proses Sertifikasi Tanah

Akibat penyempitan dan pendinginan ini, kapasitas sungai mengalami penurunan. Diantaranya adalah Sungai Wulan yang turun dari 1.100 m³ per detik menjadi 725 m³ per detik. Sementara itu, kapasitas Sungai Juana turun drastis dari 500 m ³ per detik menjadi 150 m ³ per detik. Sedangkan SWD I 160 m3 per detik hanya berkurang 100 m3 sesaat. Sungai Gelis dari 215 m3 per detik sampai 150 m3 sesaat.

Hal yang sama terjadi di hampir semua sungai di Kudus. Bahkan 50 persen sungai di Kudus rusak, katanya.

Selain faktor pemborosan, faktor lain seperti perubahan tata guna lahan juga berdampak. Karena pesatnya pertumbuhan industri dan perumahan di Kudus.

Sehingga lahan yang bisa dijadikan daerah resapan air kini sudah tidak bisa diandalkan. Karena sudah berubah menjadi pabrik dan gedung. Akibatnya daerah resapan air semakin menurun. Akibatnya saat hujan air langsung mengalir ke sungai. Tidak terserap ke dalam tanah, terangnya.

Baca:  Pembangunan Mal Pelayanan Publik Telan Rp 12 M

Selain itu, adanya pengambilan airtanah yang juga mempengaruhi tata kelola air. Apa yang dilakukan perusahaan. Baik swasta maupun regional. Misalnya PDAM yang memiliki 50 sumur dalam.

Sederet permasalahan seperti penipisan daerah resapan air, peningkatan drainase, dan penurunan kapasitas sungai, pada akhirnya meningkatkan potensi banjir.

Masalah banjir tidak berakhir di Kudus, Pati, dan Jepara. Namun, ada juga peningkatan jumlah air yang masuk ke laut. Akibatnya, wilayah pesisir seperti Semarang dan Demak juga terkena imbasnya. “Selain karena naiknya permukaan air laut, hal itu juga disebabkan oleh perubahan iklim. Salah satunya peningkatan curah hujan,” terangnya.

Kombinasi dari berbagai masalah ini kemudian disebut sebagai perubahan keadaan lingkungan perairan. Efeknya, selain bisa mengakhiri banjir, juga memungkinkan terjadinya longsor.

Baca:  Pelaku Pernah Check In di Hotel dengan Wanita Lain

Di Kota Kretek, penelitian tentang reklamasi lahan menurut Nor Cholis belum ada. Jadi, itu sudah pasti. Namun, beberapa daerah di Jawa Tengah mengalami hal tersebut. Antara lain kabupaten pesisir Semarang, Tegal, Pekalongan, dan Demak. (lima tinggi)

.

Komentar