Jangan Lupakan Identitas Diri – Berita Madura

by -33 views
Jangan Lupakan Identitas Diri – Berita Madura

Perayaan Imlek hampir sama dengan Hari Raya di Indonesia. Para pekerja akan kembali ke desa masing-masing. Festival di pedesaan lebih semarak karena ikatan sosial masyarakat lebih erat.

RUKUN: Nur Musyafak (kiri) makan malam bersama pada malam perayaan Imlek di Kota Quanzhou, Februari 2013. (Nur Musyafak untuk RadarMadura.id)

Ching Ming atau qingmingjie FESTIVAL biasanya diadakan setiap bulan April. Festival ini didasarkan pada kalender tradisional Tiongkok. Oleh karena itu, tanggal dapat berubah setiap tahun. Festival ini juga dikenal sebagai festival ziarah kuburan untuk mengunjungi leluhur yang telah meninggal.

Padahal, nenek moyang yang mendahului kita memiliki peran yang sangat penting dalam mendidik dan membesarkan kita. Juga sebagai pribadi yang telah memperjuangkan kemerdekaan bangsa dan memelihara kebudayaan sebagai identitas bangsa. Dengan begitu, kita perlu selalu mengingat jasa nenek moyang kita dan selalu mendoakan yang terbaik untuk mereka.

Di Cina, selama Festival Ching Ming, orang-orang yang bekerja di kota akan kembali ke rumah untuk mengunjungi atau memberi penghormatan kepada leluhur mereka.

Hari Kemerdekaan Nasional atau disebut guoqingjie sama seperti di Indonesia yang merayakan hari kemerdekaan. Biasanya, pejabat negara, militer, polisi, dan elemen lainnya berkumpul di Tian’anmen di Kota Beijing untuk mengadakan upacara kemerdekaan.

Baca:  Tidak Bisa Langsung Eksekusi - Berita Madura

Warga sekitar pun sangat antusias menyaksikan prosesi upacara tersebut. China merayakan hari kemerdekaannya setiap 1 Oktober. Untuk memperingati kemerdekaan ini, semua institusi dan perusahaan ditutup selama 7 hari. Namun, di China ada budaya make-up class atau kelas tambahan di akhir pekan selama satu hingga dua hari untuk menggantikan liburan panjang.

Festival Musim Semi atau juga dikenal sebagai Chunjie. Di Indonesia dikenal dengan Tahun Baru Imlek. Ini adalah salah satu hari libur Cina yang paling ramai. Di hari yang spesial ini, mereka akan menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah. Orang yang bekerja di kota rata-rata akan pulang untuk merayakan Imlek sehingga ada momen chunyun sebelum Imlek.

Di Indonesia, seperti pulang berlibur. Merayakan Tahun Baru Imlek di kota dan di pedesaan akan sangat berbeda. Tentunya perayaan Imlek di pedesaan akan lebih semarak karena rasa sosial yang semakin kuat. Suasana Tahun Baru Imlek di pedesaan lebih semarak daripada di perkotaan. Suasana kekeluargaan masih sangat kental.

Pada Malam Tahun Baru Imlek di bulan Februari 2013, saya dan dua orang teman dari Indonesia merayakan acara Tahun Baru Imlek ini di rumah salah satu teman Tionghoa kami bernama Liu Zhiping. Rumahnya terletak di Kota Quanzhou (sebuah kota yang berbatasan dengan Xiamen). Susana kurang lebih sama dengan malam Idul Fitri di rumahnya, tepatnya di Pulau Garam, Madura.

Baca:  Atasi Jerawat agar Tak Timbulkan Bekas Hitam - Berita Madura

Pertama-tama, kami menghabiskan waktu makan bersama keluarga besar kami. Kemudian sembari menunggu tengah malam, kami menghabiskan waktu menonton televisi sambil menyantap jajanan yang tak kalah pentingnya di festival Imlek yaitu kembang kol, kacang-kacangan, dan kacang almond.

Tepat pukul 12 malam kami naik ke lantai dua untuk menyalakan petasan yang menandakan bahwa Tahun Baru Imlek telah dimulai. Hampir sejauh mata memandang Anda akan melihat petasan atau kembang api di mana-mana. Hampir setiap rumah ada.

Keesokan harinya, saya menemani teman-teman saya untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan tetangga, mengucapkan Selamat Tahun Baru Imlek; Saya berharap Anda kesehatan yang baik, umur panjang dan keberuntungan. Dan jangan lewatkan angpao. Tetapi karena bungkusan merah itu untuk anak-anak, saya dan teman saya tidak menerima bungkusan merah sama sekali.

Baca:  Realisasi Anggaran Penanganan Covid-19 Tahun 2020 - Berita Madura

Selanjutnya, kami menuju ke kuil untuk beribadah. Di sekitar candi juga banyak dibakar petasan yang membuat telinga riuh. Sebab, menurut kepercayaan mereka, petasan ini bisa mengusir hantu jahat. Sambil menunggu teman-teman beribadah, saya berfoto selfie sambil melihat pemandangan yang indah. Itulah kemeriahan Imlek di salah satu desa di China.

Dari beberapa perayaan kemeriahan tersebut, kita bisa belajar tentang negara yang terus maju dan berkembang, namun jangan lupakan jati diri. Sebab, identitas bangsa ini akan terus diusung dan dikenal.

Mengutip Presiden Soekarno, “Jika Anda seorang Hindu, jangan menjadi orang India. Jika Anda seorang Muslim, jangan menjadi orang Arab. Jika Anda seorang Kristen, jangan menjadi seorang Yahudi. Teruslah menjadi orang Indonesia dengan kekayaan budaya nusantara ini. ”

NUR MUSYAFAK lahir di Bangkalan, Rabu, 29 Desember 1993. Saat ini sedang menempuh pendidikan doktor di bidang Linguistik dan Linguistik Terapan di Central China Normal University, Wuhan. Ia mengenyam pendidikan dan menjadi guru di Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo. Ketua Umum Perhimpunan Pelajar Tionghoa Indonesia (PPI) Cabang Wuhan (2018–2019) dan wakil ketua PPI Tiongkok Tengah (2019 – sekarang).

Versi cetak dimuat di Indonesiaonline.co.id Sabtu, 5 Juni 2021

Komentar