Lebaran, Desa Tlogoharjo Teraliri Air Bersih

by -34 views
Lebaran, Desa Tlogoharjo Teraliri Air Bersih

WONOGIRI – Program pengurangan kekeringan di Desa Tlogoharjo, Kabupaten Giritontro hampir selesai. Ditargetkan pada Lebaran tahun ini seluruh warga desa menikmati air bersih.

“Saat ini sekitar 80 persen rumah tangga menikmati air bersih dari sumur. Saat Lebaran, seluruh warga Tlogoharjo bisa menggunakan air bersih,” kata Kepala Desa Tlogoharjo Miyanto, Minggu (18/4).

Miyanto menjelaskan, program bebas kekeringan di desa dilakukan dengan pembuatan sumur. Lokasi danau tersebar di beberapa dusun. Setidaknya sekarang ada tujuh sumur yang dibor, semuanya menimba air.

“Letak sumurnya cukup dekat, sedangkan areal kebun di desa kita lumayan jauh. Dengan begitu butuh proses atau waktu dalam mengatur dan mendistribusikan air. Sistem perpipaan airnya paralel, setiap jalur pasti ada alirannya sendiri-sendiri. Jadi yang risiko kebocorannya minimal, “ucapnya.

Baca:  Larangan Mudik Berakhir, PO Bus di Wonogiri Masih Krisis Penumpang

Semua warga di beberapa dusun menikmati air bersih dari sumur bor. Sedangkan di sejumlah kebun lainnya, baru proses reorganisasi. Yaitu dengan memasang pralon, meteran air, memasang pipa dan infrastruktur pendukung.

“Ada 11 dusun di sini. Yang sudah menikmati air bersih 100 persen ada di Dusun Ginadewetan, Ginadekulon, Kelor, Kranggan, Sambirejo, Plareng dan Tlogo. Yang lainnya baru sekitar 59 persen. Ini masih proses,” ujarnya. menjelaskan.

Dalam pelaksanaan program air bersih, Miyanto dibantu oleh pelaksana teknis. Setiap warga didorong untuk membeli meteran air. Ini dilakukan untuk memudahkan pengendalian air. Ia dan pelaksana teknis membantu memasang dan membagi jatah air yang mereka terima.

Baca:  Organda Minta Aturan Mudik Juga Rambah Mobil Pribadi

Menurut Miyanto, pengelolaan air bersih akan ditangani oleh badan usaha milik desa atau BUMDes. Saat ini pemerintah desa sedang mempersiapkan pembentukan kepanitiaan. Dana dari pembangunan sumur dan infrastruktur pendukungnya berasal dari berbagai sumber, seperti instansi geologi, pemerintah provinsi, pemerintah daerah, APBDes dan lembaga swadaya masyarakat.

“Dari awal visi kami cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar hidup yaitu air bersih. Meski masih pandemi, kami upayakan untuk mewujudkannya. Ke depan, jika semua warga menikmati air bersih, kami akan memperbanyak air untuk sektor pertanian, “jelasnya.

Di sisi lain, waktu Ramadhan seperti sekarang berbeda dengan warga desa. Pasalnya, kebutuhan air bersih di masjid setempat sudah mencukupi. Miyanto mengatakan dari 10 masjid yang ada, tujuh di antaranya memiliki kebutuhan air yang memadai.

Baca:  Mobilitas Kaum Boro di Wonogiri Berangsur Normal

“Kalau dulu (sebelum pandemi, red) mau jamaah di masjid, di jalan batal wudhu harus pulang lagi, sekarang beda. Saya bisa berwudhu di masjid,” ujarnya.

Selama ini, kata Miyanto, kebutuhan air di masjid hanya bergantung pada penampungan air hujan. Jadi air harus dihemat, bahkan di musim kemarau tidak ada air di masjid. Jadi tempat wudhu dan kamar mandi hanya berfungsi saat musim hujan.

“Biasanya saat musim ini warga mulai membeli air tangki. Karena jarang hujan. Apalagi air di masjid sering pendek dan kosong. Alhamdulillah, sekarang kami bisa menyucikan diri di masjid,” ujarnya. (al / adi)

.

Komentar