Ki Ageng Gribig, Ulama Besar yang menyebarkan Islam di Desa Jatinom

by -36 views
Ki Ageng Gribig, Ulama Besar yang menyebarkan Islam di Desa Jatinom

KLATEN – Ki Ageng Gribig adalah salah satu tokoh yang menyebarkan agama Islam di daerah Jatinom, Klaten. Setelah kematiannya, dia dimakamkan di Jatinom. Makam ulama besar bernama asli Wasibagno Timur ini terletak tepat di belakang Masjid Agung Jatinom.

Ada beberapa tempat yang menjadi peninggalannya, antara lain Masjid Alit, Masjid Gedhe (sekarang Masjid Agung Jatinom), ranteyan (tempat penyebaran apem), Oro-oro Tarwiyah, dan beberapa tempat lainnya.

Selain tempat-tempat tersebut, ada beberapa budaya yang masih dianut oleh masyarakat sekitar yaitu tradisi s happi.

Tradisi Saparan atau Yaqowiyyu merupakan kegiatan menyebarkan apem yang dilakukan setiap bulan Safar (dalam penanggalan Jawa). Kegiatan ini rutin digelar di kompleks pemakaman Ki Ageng Gribig setiap tahun.

Baca:  TKI Jumantono Langsung Dimakamkan

Awal tradisi persalinan adalah saat Ki Ageng Gribig kembali dari menunaikan ibadah haji tepatnya di bulan Safar. Kyai Ageng Gribig saat itu membawa tiga jenis oleh-oleh yaitu air, tanah dan makanan. Suvenir inilah yang digunakannya untuk media dakwah.

Oleh Ki Ageng, makanan tersebut dibagikan kepada siswa yang datang untuk mendengarkan dakwah. Seiring berjalannya waktu, siswa sering datang untuk mendapatkan makanan yaitu apem.

Menurut pengurus makam, Daryanta, nama apem muncul karena Ki Ageng sering membagikan makanan berupa kue manis. Di sela-sela pembagian makanan, ia mengajak siswa untuk berdoa “Ya Allah, Ya Afuww”.

“Karena lidah jawa, jadi apem sudah muncul,” ujarnya.

Dalam penanggalan Jawa, tradisi Saparan biasanya dilaksanakan antara pukul 12 hingga 20, yang jatuh pada hari Jum’at. Tahun ini, tradisi syariah sudah mencapai 402 tahun.

Baca:  Abdul Kharis Al Masyhari Gencar Sosialisasi Empat Pilar MPR RI

Di tengah wabah penyakit tersebut, Saparan tetap ada namun belum digelar untuk masyarakat umum. “Saparan tetap kita rayakan tapi hanya sebarkan apem dengan cara yang terbatas kepada masyarakat sekitar,” ucap Daryanta. (mg6 / bendungan)

.

Komentar