Keluarga Iis Indrayati Kecewa Sopir Penabrak Divonis Ringan

by -18 views
Keluarga Iis Indrayati Kecewa Sopir Penabrak Divonis Ringan

SRAGEN – Keluarga korban kecelakaan Iis Indrayati yang tewas tertabrak bus pada akhir November 2020 kecewa dengan putusan Pengadilan Negeri (PN) Sragen. Eka S 7810 Sopir bus AS Wardhana, 49 hanya dijatuhi hukuman 3 tahun penjara. Selain itu, pihak keluarga mengaku tidak mendapat belas kasihan dari perusahaan bus tersebut.

Sidang putusan kasus kecelakaan lalu lintas pada 28 November 2020 digelar pada Senin (3/5). Dalam persidangan yang dipimpin oleh Hakim Agung Henny Trimira Handayani, dia menjatuhkan hukuman penjara tiga tahun dikurangi masa tahanan. Vonis tersebut lebih ringan dari gugatan Jaksa Penuntut Umum (JPU), yakni empat tahun. Perwakilan keluarga korban, Ahmad Joko Suyanto, mengatakan penuntutan menuntut empat tahun, namun majelis hakim memutuskan tiga tahun.

Baca:  Jelang Uji Coba PTM 5 April, 370 Guru di Klaten Divaksin

Bahkan keluarga korban kecewa, baik kinerja kepolisian, kinerja pengadilan maupun kejaksaan. Padahal sudah tiga tahun sejak diputuskan, ”kata Joko usai persidangan kemarin.

Dia menjelaskan, polisi belum melakukan upaya mediasi. Pihak keluarga juga sudah mengadu ke Kejaksaan Negeri (Kejari). Namun, tanggapan jaksa hanya normatif. Apalagi di persidangan pada saat proses persidangan. Joko mengaku pihak keluarga sudah pasrah atas keputusan tersebut.

“Kami menyayangkan hukum yang ada, terutama hukum yang ada di Indonesia,” keluhnya.

Ia mencatat bahwa hasil tiga tahun tidak optimal. Karena itu merenggut nyawa seseorang. “Selain dikatakan tidak disengaja, anak-anak taman kanak-kanak juga tahu kalau lampu merah adalah waktu kendaraan berhenti. Keluarga pengemudi baru minta maaf sebulan setelah kejadian,” ujarnya.

Baca:  Pemkab Boyolali Jamin Keamanan Makanan dan Minuman Jelang Lebaran

Ia menyayangkan pihak perusahaan tidak senang dengan insiden pengemudi yang menabrak masyarakat. Informasi yang didapat, pengemudi tersebut dipecat.

“Dari PO sampai bawa ganti rugi itu tidak diperlihatkan kepada kita, kita minta Rp 10 juta itu pantas?” PO mengatakan itu tidak sesuai, jika tidak sesuai, harap dipikirkan kembali. Setelah uang kompensasi masuk, tidak ada tindak lanjut. “Dia berkata.

Kepala Seksi Tindak Pidana Umum (Pidum) Kejaksaan Agung Sragen Wahyu Saputro membenarkan adanya pengadilan yang memutus terjadinya kecelakaan di jalan raya. Dia menjelaskan pelanggaran Pasal 310 ayat (4) UU No. 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

“Klaim kami empat tahun dan diputuskan tiga tahun. Padahal maksimal bisa sampai enam tahun,” jelasnya.

Baca:  Masih Ada Driver Batik Solo Trans Tak Patuh Rambu Lalu Lintas

Wahyu menambahkan, hasil persidangan belum dirilis dalam sistem informasi pelacakan kasus (SIPP). Pihaknya juga belum menerima kutipan dari keputusan tersebut. (din / adi)

.

Komentar