Desa Damai Upaya Pemerintah Tangkal Intoleransi dengan Pembangunan

by -28 views
Desa Damai Upaya Pemerintah Tangkal Intoleransi dengan Pembangunan

SUKOHARJO – Mengantisipasi perkembangan ideologi radikal, Bupati Sukoharjo Etik Suryani mendeklarasikan Desa Damai di Desa Telukan, Kabupaten Grogol, Senin (3/5). Deklarasi Desa Damai dipimpin oleh Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid dan sejumlah organisasi nirlaba internasional.

Kegiatan tersebut ditandai dengan memukul karung dan merpati terbang sebagai simbol perdamaian. Dalam sambutannya Bupati Etik Suryani mengucapkan terima kasih kepada Direktur Yayasan Wahid, Kepala Desa Telukan, Kelompok Kerja (pokja) Desa Telukan Damai dan semua pihak yang telah menyelenggarakan kegiatan ini.

Menurut Bupati, tren intoleransi dan radikalisme di Indonesia cenderung meningkat. “Situasi tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain persaingan politik, pembicaraan, pidato, dan unggahan ujaran kebencian di media sosial,” ujarnya.

Lebih lanjut, kata Etik, kebebasan berpendapat kerap dijadikan alat propaganda untuk melemahkan kewibawaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Banyaknya aksi penghasutan yang dapat menggugah kemarahan publik dilatarbelakangi oleh intoleransi dan paham radikal.

Baca:  Petasan Balon Udara Meledak Empat Kali Kejutkan Warga Delanggu

“Intoleransi dan radikalisme dalam bentuk ujaran kebencian massa, jika tidak segera dihentikan, pada akhirnya akan mengganggu stabilitas politik dan keamanan nasional. Untuk itu, saya sangat mengapresiasi Yayasan Wahid yang telah menyelenggarakan Program Desa Damai, seperti yang dideklarasikan siang tadi,” jelas Etika. .

Ia berharap program ini dapat melindungi masyarakat dari bahaya yang dapat memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa, khususnya di Kabupaten Sukoharjo.

Di tempat yang sama, melalui pidato virtual, Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengatakan bahwa Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa kesejahteraan umat berawal dari perdamaian. Oleh karena itu toleransi, saling menghormati, bisa saling melaksanakan ibadah dengan baik, sehingga bisa menciptakan suasana damai.

Baca:  Sragen 96 Persen Zona Hijau, Sekolah Siap Simulasi PTM Pekan Depan

Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid menjelaskan bahwa Desa Damai merupakan program inisiatif Wahid Foundation yang didukung oleh Wanita PBB.

Ada beberapa desa yang telah mendeklarasikan desa damai di Indonesia. Program Desa / Kelurahan Damai telah berjalan selama dua tahun terakhir, dan telah dilaksanakan di sembilan desa dan kecamatan yang tersebar di tiga provinsi yaitu Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Kesembilan desa tersebut antara lain Desa Nglinggi dan Desa Gemblegan di Klaten, serta Desa Guluk-Guluk dan Desa Prancak di Sumenep, Jawa Timur. “Sukoharjo paling jauh. Semoga bisa menjadi contoh bagi desa lain,” kata Yenny.

Putri presiden keempat Republik Indonesia, Abdurrahman Wahid ini mengatakan gejala intoleransi dan radikalisme telah menyebar hingga ke pelosok desa. Pembangunan ekonomi pedesaan dan pemberdayaan perempuan adalah kunci untuk menangkal intoleransi dan radikalisme.

Baca:  SE Gibran Soal Larangan Mudik, Hanya Kategori Ini Boleh Masuk Solo

Lebih lanjut Yenny mencatat bahwa program Desa Damai mencakup dua hal, pertama, memberikan akses permodalan dan pelatihan kewirausahaan melalui pelatihan bagi perempuan. Kedua, melatih masyarakat desa untuk melihat potensi konflik yang bersumber dari intoleransi.

Program Desa / Kelurahan Damai memiliki sembilan indikator, antara lain pendidikan, perdamaian, kesetaraan gender, praktik nilai-nilai persaudaraan, toleransi, dan keberadaan lembaga bersama yang dapat memantau pelaksanaan desa / kelurahan yang damai.

“Misalnya salah satu bentuk wujudnya adalah pembentukan kelompok kerja (pokja) untuk memantau pelaksanaan desa damai di tingkat desa yang anggotanya minimal 30 persen perempuan,” pungkas Yenny. (kwl / wa)

.

Komentar