Kualitas Daerah Irigasi di Sukoharjo Mengalami Penurunan 

by -23 views
Kualitas Daerah Irigasi di Sukoharjo Mengalami Penurunan 

SUKOHARJO – Daerah irigasi di Kabupaten Sukoharjo mengalami penurunan kualitas yang kini hanya 29 persen. Bupati Sukoharjo mengatakan, pihaknya akan segera melakukan pembenahan untuk mempertahankan Sukoharjo sebagai gudang beras di Jawa Tengah.

Dari data rancangan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2021-2026 Kabupaten Sukoharjo, penatausahaan sumber daya air baku memiliki beberapa kewenangan.

Antara lain status daerah irigasi (DI) yang menjadi kewenangan dan tanggung jawab pemerintah pusat meliputi DI Colo Barat dan DI Colo Timur. DI Trani adalah DI yang menjadi kewenangan dan tanggung jawab Pemerintah Provinsi. Dengan demikian, status DI yang menjadi kewenangan dan tanggung jawab Pemerintah Kabupaten termasuk 70 DI.

Baca:  Perhutani Hentikan Izin Pembukaan Ekowisata di Hutan Gunung Lawu

Kemudian, daerah irigasi di bawah yurisdiksi pusat dan kabupaten masing-masing adalah 10.556 hektar, 4.210 hektar dan 6.364 hektar. Dari 70 DI yang ada di wilayah kabupaten tersebut, terjadi penurunan kualitas daerah irigasi di Kabupaten Sukoharjo. Daerah irigasi dalam kondisi baik turun dari 59 persen menjadi 29 persen dalam dua tahun terakhir.

“Kita akan tingkatkan mulai tahun 2021. Kita juga akan koordinasikan dengan Balai Besar DAS Bengawan Solo,” kata Etik Suryani, Jumat (11/6).

Diharapkan dengan peningkatan kualitas daerah irigasi, produksi padi dan padi di Kabupaten Sukoharjo juga akan meningkat. Oleh karena itu, Kota Makmur tetap menjadi lumbung Jawa Tengah.

“Potensi produktivitas padi tertinggi di Jawa Tengah selama lima tahun terakhir, dengan surplus beras tidak kurang dari 119.792 ton. Selain itu, pada tahun 2020 Kabupaten Sukoharjo dapat memberikan kontribusi produksi beras sebesar 310.778,” katanya.

Baca:  Lagi, Buruh Migran Asal Sragen Meninggal di Malaysia: Sakit Mendadak

Ketua Asosiasi Petani Air Bendungan Colo Timur Jigong Sarjanto mengatakan, saluran irigasi primer dan sekunder di sepanjang saluran Colo Timur dari Nguter hingga Palur, Mojolaban telah rusak. Menurut Jigong, situasi ini sangat mengkhawatirkan karena saluran irigasi merupakan tulang punggung petani untuk memenuhi kebutuhan air di lahan pertaniannya.

“Belum lagi masalah kewenangan. Ada kewenangan pusat, provinsi, dan kabupaten. Masing-masing punya wilayah sendiri. Banyak pusat yang dipecah menjadi wilayah tersier. Apalagi kabupaten,” katanya.

Terdapat juga permasalahan sedimentasi berupa tanah dan batuan di beberapa lokasi saluran irigasi dan bendungan atau dam. Bahkan ada tambak yang sedimennya menjadi lahan budidaya oleh petani.

“Sedimentasi di saluran irigasi sekunder sudah ada sejak beberapa tahun lalu. Sampai saat ini belum ada penanganan lebih lanjut dan sepertinya dibiarkan begitu saja. Padahal, keadaan ini akan berdampak besar pada terganggunya suplai air ke lahan pertanian. ,” dia berkata. (kwl / adi / bendungan)

Baca:  Di Tengah Pandemi, BMW Group Bukukan Rekor Angka Penjualan Tertinggi

.

Komentar