Rowo Jombor Dikembalikan ke Fungsi Irigasi dan Pengendali Banjir

by -6 views
Rowo Jombor Dikembalikan ke Fungsi Irigasi dan Pengendali Banjir

KLATEN – Sebagai daerah penyangga pangan nasional, Klaten didukung oleh keberadaan air Rowo Jombor. Melalui program revitalisasi lahan basah seluas 198 hektar, Rowo Jombor akan dikembalikan ke fungsi dasarnya sebagai infrastruktur irigasi untuk mendukung pasokan air bagi lahan pertanian.

Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang Klaten, Harjaka, saat dikonfirmasi kemarin (14/6) menjelaskan, revitalisasi Rowo Jombor yang berlokasi di Desa Krakitan, Bayat, bertujuan untuk mengembalikan fungsi dasarnya yang telah menurunnya fungsi bangunan, ekonomi dan sosial.

“Sebagai fungsi irigasi dan pengendalian banjir, kini beralih ke kepentingan lain. Sekarang Rowo Jombor telah menjadi objek budidaya ikan karamba, warung terapung dan pariwisata. Kami berharap ke depan Rowo Jombor dikembalikan ke fungsi semula dengan revitalisasi,” jelas Harjaka.

Baca:  Perajin Batik Sukoharjo Berharap Pemkab Mau Beli Batik Lokal

Mengenai situasi saat ini, Harjaka menjelaskan bahwa situasi Rowo Jombor saat ini telah mengalami banyak sedimentasi. Penyebabnya banyak, salah satunya adalah eceng gondok yang membusuk.

“Kondisi lahan basah saat ini perlu mendapat perhatian serius. Dekomposisi eceng gondok, keramba dan keramba ditengarai menjadi faktor penting terjadinya sedimentasi. Selain itu juga menyebabkan peninggian atau pengurangan tutupan permukaan air,” tambahnya.

Tentu saja pencemaran sampah dari air yang masuk ke Rowo juga berdampak pada sedimen. Hal ini akan mempengaruhi jumlah waduk. Inilah yang perlu dipahami masyarakat tentang pentingnya revitalisasi.

Sementara itu, aktivis sungai Arif Fuad Hidayat menjelaskan, kondisi Rowo Jombor sangat tercemar. Faktor sedimentasi, serasah dan eceng gondok berkontribusi terhadap penurunan kualitas hidup di Rowo Jombor.

Baca:  Bulog Terjunkan Tim Penyerapan

“Kami bersama para relawan terus bersinergi membersihkan Rowo Jombor baik dari sampah maupun eceng gondok. Saya yakin dengan dukungan banyak pihak, jalur terbesar di Klaten ini bisa menjadi destinasi wisata utama di Klaten,” imbuhnya.

Revitalisasi Rowo Jombor Klaten tahap kedua sendiri menelan biaya Rp 50 miliar dari APBN melalui Balai Besar Aliran Sungai Bengawan Solo (BBWS). Proyek ini akan diprioritaskan untuk memperkuat bendungan, fasilitas pejalan kaki lintasan Joging, pengelolaan lingkungan termasuk stand dan keramba jaring apung. (ren / oh)

.

Komentar