INDONESIAONLINE – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan Indonesia kini telah memasuki fase El Nino kuat yang berpotensi menurunkan curah hujan di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut diperkirakan masih akan menguat hingga akhir tahun sehingga berbagai langkah antisipasi mulai disiapkan pemerintah.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengungkapkan, berdasarkan pemantauan terbaru, Indeks Nino 3.4 dasarian tercatat sebesar +2,26 dengan nilai Southern Oscillation Index (SOI) mencapai -28,2. Angka tersebut menunjukkan fenomena El Nino telah berada pada kategori kuat. “Untuk saat ini kondisinya sudah masuk ke El Nino kuat,” ujar Teuku di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Menurut BMKG, menguatnya El Nino dapat menghambat pembentukan awan hujan sehingga memperbesar potensi penurunan curah hujan di berbagai daerah di Indonesia.
Temuan tersebut juga sejalan dengan laporan National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) Amerika Serikat. Lembaga itu menyebut fenomena El Nino mengalami penguatan dalam satu bulan terakhir yang ditandai kenaikan suhu permukaan laut lebih dari 1 derajat Celsius di atas normal pada sebagian besar kawasan Pasifik khatulistiwa bagian tengah dan timur.
NOAA juga mencatat peningkatan suhu bawah permukaan laut di sepanjang garis khatulistiwa akibat pergerakan gelombang Kelvin yang memperdalam lapisan termoklin dan meningkatkan suhu air di wilayah Pasifik timur. “Fenomena El Niño masih berlanjut dan akan semakin menguat hingga akhir tahun ini dengan kemungkinan sebesar 97 persen bahwa fenomena ini akan terus berlangsung hingga awal musim semi 2027,” demikian keterangan NOAA.
Menghadapi kondisi tersebut, BMKG memprioritaskan upaya menjaga ketersediaan air di waduk serta mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Salah satu langkah yang akan dilakukan adalah operasi modifikasi cuaca bersama sejumlah instansi terkait.
“Pengisian waduk dengan modifikasi cuaca dan lain sebagainya juga untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan melalui pembasahan dari lahan-lahan yang mudah terbakar ini melalui modifikasi cuaca,” kata Teuku.
Ia menjelaskan, operasi modifikasi cuaca akan difokuskan di enam provinsi yang selama ini memiliki tingkat kerawanan karhutla tinggi, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. “Itu juga dilakukan secara berkala operasi modifikasi cuaca untuk menjenuhkan tanah di sana, tanah gambut di sana, agar dia tidak mudah terbakar,” ujarnya.
Sementara itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi El Nino 2026 berpotensi menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah. Profesor Riset Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Erma Yulihastin mengatakan intensitas fenomena tahun ini telah melampaui El Nino 2023 dan diperkirakan mencapai kategori Super El Nino apabila pemanasan suhu melebihi 2 derajat Celsius pada Agustus mendatang.
Menurut Erma, dampak El Nino tahun ini diperkirakan lebih berat dibandingkan 2023 karena intensitasnya sudah lebih tinggi dan masih menunjukkan tren peningkatan. (rds/hel)
