Beranda

Bonggol Arum: Sulap Limbah Jagung Jadi Cuan, Santri Malang Juara

Bonggol Arum: Sulap Limbah Jagung Jadi Cuan, Santri Malang Juara
Santri Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar yaitu Farrell Syatir Wafi Al-Ghani bersama Athaya Khalfani Arham Prihantoro dan Maulana Malik Ibrahim saat menunjukkan Bonggol Arum yang menyabet perak Olympicad VIII (jtn/io)

Santri PPI AMF Malang ubah limbah jagung jadi Bonggol Arum. Inovasi penyerap bau alami ini raih perak Olympicad VIII dan solusi polusi indoor.

INDONESIAONLINE – Di hamparan ladang pertanian Kabupaten Malang, bonggol jagung sering kali berakhir tragis. Setelah bulir manisnya dipanen untuk kebutuhan pangan atau pakan ternak, tongkol keras sisa pipilan itu biasanya hanya menumpuk di tepi ladang, membusuk, atau yang lebih buruk: dibakar. Asap pembakarannya mengepul ke angkasa, menambah jejak karbon yang memperparah pemanasan global.

Namun, di tangan tiga remaja visioner dari Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) Malang, nasib “sampah” pertanian itu berubah total. Tidak ada lagi asap pembakaran yang menyesakkan. Sebaliknya, bonggol jagung itu kini hadir di ruang tamu, kamar tidur, hingga interior mobil sebagai Bonggol Arum, sebuah inovasi penyerap bau dan pelembap udara yang ramah lingkungan.

Farrell Syatir Wafi Al-Ghani, Athaya Khalfani Arham Prihantoro, dan Maulana Malik Ibrahim adalah otak di balik transformasi ini. Tiga siswa SMA Abdul Malik Fadjar ini berhasil membuktikan bahwa santri milenial tidak hanya piawai mengaji kitab kuning, tetapi juga mampu menjawab tantangan krisis iklim dan kesehatan lingkungan melalui riset sains terapan.

Resah Melihat Paradoks Lumbung Jagung

Inovasi ini tidak lahir di ruang hampa. Ia bermula dari keresahan empiris saat Farrell dan timnya mengamati lingkungan sekitar. Jawa Timur, khususnya Kabupaten Malang, adalah lumbung jagung nasional.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, produksi jagung di provinsi ini konsisten berada di angka jutaan ton per tahun. Pada tahun-tahun sebelumnya, produksi jagung pipilan kering di Jawa Timur bahkan menembus angka lebih dari 7 juta ton.

Kabupaten Malang menjadi salah satu kontributor utamanya. Namun, tingginya angka produksi ini membawa residu yang sering luput dari perhatian: limbah biomassa.

Secara teoritis, untuk setiap kilogram jagung yang dihasilkan, terdapat sekitar 15-20% berat yang merupakan bonggol jagung. Jika dikalkulasikan dengan total produksi, terdapat ribuan ton bonggol jagung yang terbuang sia-sia setiap tahunnya.

“Kami melihat limbah bonggol jagung ini sangat melimpah, namun sering dibakar atau dibuang. Padahal, di sisi lain banyak orang mengalami masalah bau apek dan kelembapan ruangan yang berdampak pada kesehatan pernapasan. Dari situ kami berpikir untuk mengubah limbah ini menjadi solusi,” ungkap Farrell saat ditemui di laboratorium sekolahnya, Kamis (26/2/2026).

Paradoks inilah yang memantik ide mereka. Di satu sisi ada limbah yang mencemari jika dibakar, di sisi lain masyarakat urban membutuhkan solusi udara bersih di dalam ruangan (indoor air quality).

Sains di Balik Arang Berpori

Kunci dari Bonggol Arum terletak pada proses transformasi kimiawi sederhana namun efektif yang disebut pirolisis. Farrell dan tim tidak sekadar menghancurkan bonggol jagung, mereka melakukan pembakaran minim oksigen (tanpa oksigen langsung) pada suhu tertentu untuk mengubah selulosa bonggol jagung menjadi biochar atau arang hayati.

Mengapa bonggol jagung? Secara ilmiah, bonggol jagung memiliki kandungan hemiselulosa dan lignin yang unik. Ketika dipirolisis, material ini membentuk struktur karbon dengan pori-pori mikroskopis yang sangat banyak. Pori-pori inilah yang bertindak seperti spons raksasa dalam skala molekuler.

Mekanisme kerjanya adalah adsorpsi (penyerapan permukaan), bukan absorpsi (penyerapan ke dalam). Bau tak sedap, molekul air berlebih (kelembapan), dan polutan ringan di udara akan “terperangkap” di permukaan pori-pori arang tersebut.

“Struktur ini membuatnya efektif menyerap bau, kelembapan, dan polutan ringan di udara,” jelas Athaya, anggota tim lainnya yang fokus pada pengembangan produk.

Untuk meningkatkan nilai estetika dan fungsi, tim ini tidak membiarkan produknya hanya berupa arang hitam legam. Mereka memadukannya dengan kearifan lokal berupa ekstrak pewangi alami. Varian seperti serai (lemongrass), kayu manis, dan daun jeruk ditambahkan.

Hasilnya adalah produk hibrida: menyerap bau apek sekaligus menyebarkan aroma terapi yang menenangkan. Ini adalah antitesis dari pengharum ruangan sintetis yang sering kali hanya “menutupi” bau dengan aroma kimia yang menyengat.

Melawan Bahaya Polusi Dalam Ruangan

Relevansi Bonggol Arum semakin kuat jika disandingkan dengan data kesehatan lingkungan. Environmental Protection Agency (EPA) Amerika Serikat menyebutkan bahwa polusi udara di dalam ruangan bisa 2 hingga 5 kali lebih tinggi dibandingkan di luar ruangan.

Penyebab utamanya sering kali adalah akumulasi Volatile Organic Compounds (VOCs) yang berasal dari cat dinding, perabot, dan—ironisnya—pengharum ruangan kimia. Banyak pengharum ruangan konvensional mengandung phthalates, zat kimia yang dicurigai dapat mengganggu sistem hormon manusia.

Inovasi santri PPI AMF ini menawarkan jalan keluar yang lebih sehat. “Keunggulan Bonggol Arum bukan hanya fungsional, tetapi juga aman dan berkelanjutan karena tidak menggunakan bahan kimia berbahaya seperti desikan sintetis,” tambah Farrell.

Dengan menggunakan kantong kain ramah lingkungan sebagai kemasan, produk ini sepenuhnya mendukung gaya hidup zero waste. Jika masa pakainya habis, arang bonggol jagung tersebut dapat dikembalikan ke tanah sebagai pembenah tanah (soil amendment) yang menyuburkan, menutup siklus ekonomi sirkular dengan sempurna.

Jalan Terjal Menuju Panggung Nasional

Perjalanan mengubah limbah menjadi medali tidaklah instan. Di bawah bimbingan guru pendamping, Rachmadanti Chairatul Nisa, ketiga siswa ini harus melalui serangkaian trial and error. Mulai dari menentukan suhu pembakaran yang pas agar bonggol tidak menjadi abu, hingga meracik konsentrasi pewangi alami yang tahan lama namun tidak menyengat.

Rachmadanti menekankan bahwa proses pendidikan di PPI AMF mendorong santri untuk peka terhadap lingkungan. “Selamat untuk tim. Saya sangat bangga karena mereka mampu melihat potensi sederhana di sekitar menjadi produk bernilai tambah dan eco friendly,” ujarnya dengan mata berbinar.

Kerja keras berbulan-bulan itu diuji di panggung bergengsi: Olympicad VIII tingkat nasional. Ajang olimpiade yang digelar oleh Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah Pimpinan Pusat Muhammadiyah ini berlangsung di Makassar pada Februari 2026. Kompetisi ini mempertemukan ribuan siswa terbaik dari seluruh sekolah Muhammadiyah di Indonesia untuk beradu gagasan dan inovasi.

Di hadapan dewan juri yang kritis, Farrell, Athaya, dan Maulana mempresentasikan Bonggol Arum dengan data yang solid dan prototipe yang meyakinkan. Mereka tidak hanya menjual produk, tetapi menjual gagasan tentang keberlanjutan (sustainability).

Hasilnya manis. Tim SMA Abdul Malik Fadjar ini berhasil menyabet medali perak dengan nilai impresif 84,7. Mereka sukses menembus sepuluh besar nasional, menyisihkan ratusan inovasi lain dari berbagai daerah di Indonesia.

Potensi Ekonomi Kreatif Berbasis Pesantren

Kemenangan di Makassar bukanlah garis finis. Justru, ini adalah awal dari potensi pengembangan ekonomi kreatif berbasis pesantren. Bonggol Arum memiliki potensi pasar yang luas, mengingat tren masyarakat modern yang semakin sadar akan produk hijau (green product).

Jika dikembangkan dalam skala produksi yang lebih besar, inovasi ini bisa memberdayakan masyarakat sekitar pesantren. Petani jagung di Malang tidak perlu lagi bingung membuang limbah, atau mengambil jalan pintas dengan membakarnya. Limbah tersebut bisa disetor ke unit produksi santri untuk diolah menjadi komoditas bernilai ekonomi.

Harga bahan baku yang murah (karena berupa limbah) menjadikan margin keuntungan produk ini potensial cukup tinggi, sementara harga jualnya bisa tetap kompetitif dibanding produk penyerap lembap (desikan) komersial yang ada di pasaran.

Apa yang dilakukan oleh Farrell dan kawan-kawan juga membawa pesan sosiologis yang kuat. Mereka mendobrak stereotipe usang bahwa santri hanya berkutat pada ilmu agama dan gagap teknologi.

Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar (PPI AMF) membuktikan bahwa kurikulum integratif yang menggabungkan nilai-nilai spiritual dengan wawasan sains global mampu melahirkan inovator muda. Mereka adalah wajah baru generasi Z Indonesia: relijius, peduli lingkungan, dan solutif.

Inovasi Bonggol Arum mengajarkan kita satu hal penting: solusi atas masalah besar seperti perubahan iklim dan kesehatan, terkadang tersembunyi di benda yang kita anggap paling tidak berharga. Di tangan yang tepat, sebuah bonggol jagung yang kotor bisa berubah menjadi permata yang mengharumkan nama sekolah, dan kelak, mungkin menyelamatkan paru-paru kita.

Kini, tugas selanjutnya bagi Farrell, Athaya, dan Maulana adalah memastikan api semangat inovasi ini tidak padam setelah kompetisi usai. Tantangan berikutnya adalah hilirisasi—bagaimana membawa Bonggol Arum dari meja laboratorium sekolah ke etalase pasar, agar manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat luas secara nyata (ir/dnv).

Exit mobile version