Rapper Drake kembali pasang taruhan jumbo Rp26,8 miliar untuk Argentina di final Piala Dunia 2026. Mengapa ‘kutukan Drake’ kembali jadi sorotan tajam?
INDONESIAONLINE – Di tengah gemerlapnya ajang olahraga terakbar, Piala Dunia 2026, sebuah drama di luar lapangan hijau kembali mencuri perhatian global. Rapper kondang asal Kanada, Drake, baru saja menggelontorkan dana sebesar 1,5 juta dollar AS atau setara sekitar Rp26,8 miliar untuk mendukung kemenangan Timnas Argentina atas Spanyol di laga final.
Aksi ini bukan sekadar hobi, melainkan bagian dari fenomena budaya pop yang memadukan selebritas, judi daring, dan psikologi massa. Melalui unggahan di Instagram, pelantun lagu “God’s Plan” tersebut membagikan slip taruhannya yang bekerja sama dengan platform judi daring Stake, memperlihatkan kepada jutaan pengikutnya bahwa ia memasang taruhan pada kemenangan Argentina atas Spanyol dalam waktu normal 90 menit, tanpa memperhitungkan babak perpanjangan waktu maupun adu penalti. Jika prediksinya tepat, Drake diperkirakan bakal meraup keuntungan hingga 5,1 juta dollar AS.
“What’s that saying??? Better luck next time…say less,” tulis Drake dikutip Kompas.com, Minggu (19/7/2026).
Laga final antara Argentina dan Spanyol dijadwalkan berlangsung di MetLife Stadium pada Minggu, 19 Juli 2026 waktu setempat. Argentina melaju ke partai puncak usai menundukkan Inggris dengan skor 2-1, dengan Lionel Messi turut menyumbang dua asis krusial di laga tersebut.
Sementara itu, Spanyol melangkah ke final setelah mengalahkan Perancis 2-0 di semifinal. Dengan skuad bertabur bintang di kedua sisi, partai puncak ini diprediksi memecahkan rekor tayangan. Namun, sorotan tidak hanya tertuju pada strategi taktis pelatih, tetapi juga pada angka spektakuler yang dipertaruhkan oleh seorang ikon musik.
Anatomi Taruhan Raksasa dan ‘Kutukan Drake’
Taruhan besar Drake pada laga final kali ini kembali memunculkan perbincangan seputar fenomena “kutukan Drake” atau Drake curse. Istilah itu muncul di kalangan penggemar olahraga untuk menggambarkan tim atau atlet yang justru kalah setelah didukung secara terbuka oleh sang rapper.
Reputasi ini semakin santer setelah performa taruhan Drake belakangan ini kurang moncer. Pekan lalu, ia dilaporkan merugi 1 juta dollar AS setelah bertaruh pada kemenangan Conor McGregor atas Max Holloway di ajang UFC 329, yang berakhir dengan kekalahan cepat McGregor lewat teknik TKO.
Sejarah juga mencatat, pada final Piala Dunia 2022, Drake sempat memasang taruhan serupa untuk kemenangan Argentina melawan Perancis dalam waktu normal. Meski Argentina akhirnya keluar sebagai juara lewat adu penalti, Drake tetap merugi karena jenis taruhan yang ia pilih hanya menghitung hasil pada 90 menit waktu normal, sementara laga tersebut berlanjut hingga babak tambahan.
Meskipun demikian, Drake tidak selalu menjadi sasaran kutukan. Ia juga beberapa kali meraih keberuntungan, termasuk kemenangan senilai 30 juta dollar AS yang baru-baru ini ia dapatkan di platform Stake.
Namun, dari kacamata sosiologi olahraga, fenomena ini mencerminkan bagaimana algoritma media sosial membesar-besarkan kegagalan selebritas demi engagement. Laporan Asosiasi Gaming Amerika (AGA) pada 2025 menunjukkan bahwa nilai pasar taruhan olahraga legal di Amerika Utara meroket melebihi 13 miliar dollar AS, di mana konten influencer berkontribusi pada 25% akuisisi pengguna baru platform seperti Stake.
Sementara itu, studi Universitas Massachusetts di tahun yang sama mengungkap bahwa “kutukan selebritas” memiliki dampak psikologis confirmation bias, di mana netizen cenderung mengingat kekalahan yang didukung publik figur dan melupakan kemenangan mereka.
Ekonomi Judi Daring dan Risiko Reputasi
Keterlibatan Drake dengan Stake juga membuka dialog mengenai regulasi judi daring di era digital. Stake, yang berbasis kripto, telah menghadapi berbagai penyelidikan di beberapa yurisdiksi Eropa terkait promosi oleh influencer.
Laporan GamCare UK pada awal 2026 menyoroti bahwa promosi judi oleh selebritas tanpa disclaimers risiko memicu peningkatan kecanduan judi di kalangan remaja sebesar 18% dalam dua tahun terakhir. Hal ini membuat federasi sepak bola dan penyelenggara turnamen seperti FIFA semakin waspada.
Menjelang Piala Dunia 2026 yang untuk pertama kalinya diselenggarakan di tiga negara (AS, Kanada, Meksiko), FIFA merilis laporan integritas yang menyatakan bahwa pemantauan pola taruhan mencurigakan telah ditingkatkan tiga kali lipat dibandingkan edisi Qatar 2022.
Bagi Drake, taruhan Rp26,8 miliar mungkin hanya secuil dari kekayaan bersihnya yang mencapai ratusan juta dollar. Namun, bagi ekosistem sepak bola global, tindakan ini menormalisasi pertaruhan berisiko tinggi sebagai hiburan elit.
Argentina dan Spanyol akan bertanding di MetLife Stadium dengan beban ekspektasi yang tinggi, namun bagi penggemar di seluruh dunia, nama Drake kini menjadi variabel tak kasat mata yang memperumit prediksi. Apakah La Albiceleste akan kembali menggagalkan harapan sang rapper di waktu normal, atau akankah ia memecahkan kutukan tersebut dan meraup 5,1 juta dollar AS?
Yang pasti, pertandingan ini bukan sekadar perebutan trofi Jules Rimet, melainkan panggung spektakuler di mana uang, teknologi, dan mitos bertemu dalam satu titik tolak sejarah. Di tengah derasnya arus kapitalisasi olahraga, publik diajak untuk melihat lebih kritis bagaimana propaganda judi daring memanfaatkan figur publik demi legitimasi pasar.
