Beranda

GAPEMBI Malang Raya Klaim Penolakan MBG Dipengaruhi Buzzer dan Mahasiswa

Ketua GAPEMBI Malang Raya klaim narasi penolakan MBG dipengaruhi buzzer medsos, sanggah demo mahasiswa dan keluhan harga bahan pokok (jtn/io)

Ketua GAPEMBI Malang Raya klaim narasi penolakan MBG dipengaruhi buzzer medsos, sanggah demo mahasiswa dan keluhan harga bahan pokok.

INDONESIAONLINE – Polemik pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Malang Raya kembali memanas. Setelah gelombang aksi demonstrasi mahasiswa yang menuntut evaluasi menyeluruh terhadap program unggulan pemerintah tersebut, Ketua Gabungan Pengusaha Makan Bergizi Indonesia (GAPEMBI) Malang Raya, R Djoni Sudjatmoko, melontarkan tudingan bahwa narasi penolakan MBG lebih banyak dipengaruhi oleh aktivitas buzzer di media sosial daripada kondisi riil yang terjadi di lapangan.

Tuding Penolakan MBG Hasil Endeavor Buzzer Medsos

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi respons langsung terhadap menguatnya kritik publik yang ramai beredar di platform digital, baik terkait efektivitas pelaksanaan MBG di lapangan maupun besaran anggaran yang digelontorkan pemerintah pusat untuk program tersebut.

Menurut Djoni, kritik yang viral di media sosial sama sekali tidak mencerminkan suara masyarakat yang terlibat langsung dalam rantai pelaksanaan MBG.

“Ternyata itu banyak buzzer-buzzer di sana. Oleh karena itu, kami tunjukkan, yang tadinya kami diam, kami tunjukkan bahwa MBG ini yang menyukai itu lebih banyak lagi,” kata Djoni saat ditemui di kantor GAPEMBI Malang Raya, Selasa (17/9/2024).

Ia menilai program MBG justru memberikan dampak ekonomi positif bagi pelaku usaha di sektor rantai pasok pangan, mulai dari petani, peternak, pelaku UMKM, hingga mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertanggung jawab menyiapkan makanan bergizi untuk penerima manfaat. Menurut data GAPEMBI, terdapat 297 mitra SPPG aktif di Malang Raya sejak program MBG diluncurkan pada awal 2024.

Namun klaim tersebut berbenturan dengan sejumlah fakta di lapangan yang menunjukkan adanya penolakan nyata terhadap MBG, tidak hanya di media sosial. Dalam dua pekan terakhir, puluhan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Malang Raya turun ke jalan menuntut evaluasi MBG.

Mereka mempertanyakan tata kelola anggaran program yang mencapai puluhan triliun rupiah, serta prioritas kebijakan yang dinilai tidak tepat sasaran. Tidak hanya itu, sejumlah ibu rumah tangga di Kota dan Kabupaten Malang mengeluhkan kenaikan harga bahan pokok seperti telur, beras, dan daging ayam sejak program MBG mulai berjalan masif.

Saat ditanya soal keluhan tersebut, Djoni justru berargumen bahwa kenaikan harga bahan pokok merupakan dampak positif karena menunjukkan pergerakan ekonomi di level akar rumput. “Karena menggerakkan ekonomi di bawah, terus kemudian para penerima manfaatnya juga sangat gembira,” kata Djoni.

Sanggah Keluhan Harga Pangan, Dukung Target 82 Juta Penerima

Djoni juga menyoroti kritik yang dilontarkan kalangan mahasiswa, yang menurutnya tidak didasarkan pada kondisi riil di lapangan melainkan hanya termakan narasi buzzer di media sosial. Ia mengklaim hampir seluruh penerima manfaat resmi MBG, yaitu peserta didik, ibu hamil, dan ibu menyusui, menyambut baik program tersebut.

“Jadi kalau ditanya di sekolah-sekolah, 99 persen setuju dengan MBG ini. Tetapi kenapa justru yang banyak pemberitaannya penolakan dari kampus. Anak-anak di kampus ini kan tidak turun ke bawah. Hanya melihat buzzer-buzzer yang terus menyuarakan terus-terusan,” ungkap Djoni.

Pernyataan Djoni tersebut langsung memicu reaksi dari kalangan mahasiswa. Koordinator aksi dari Himpunan Mahasiswa Malang Raya, Fajar Pratama, menyatakan kritik mahasiswa didasarkan pada hasil survei lapangan yang melibatkan 500 responden di 10 kecamatan di Malang Raya.

“Kami tidak hanya melihat medsos, kami turun langsung menemui warga, dan 62 persen mengaku merasakan kenaikan harga bahan pokok akibat MBG. Djoni jelas salah menyatakan kami hanya dengar buzzer,” ujar Fajar.

Menutup pernyataannya, Djoni menegaskan dukungan penuh GAPEMBI Malang Raya terhadap keberlanjutan program MBG dan target pemerintah untuk memperluas jumlah penerima manfaat hingga 82 juta orang di seluruh Indonesia. Target 82 juta penerima manfaat merupakan janji kampanye Presiden Prabowo Subianto.

“Ini yang kami mau luruskan, masyarakat itu sangat senang dengan MBG ini. Makanya target Pak Prabowo 82 juta penerima manfaat, ini harus bisa diwujudkan. Kami dukung,” tukas Djoni (hs/dnv).

Exit mobile version