Beranda

Haji 2026 Dinilai Lebih Baik, Prof Ilfi Tetap Beri Catatan Masalah Toilet dan Sampah Plastik

Sekretaris Amirul Hajj Indonesia 2026 yang juga Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Prof Dr Hj Ilfi Nur Diana MSi (ist)

INDONESIAONLINE – Pelaksanaan ibadah haji 2026 mendapat apresiasi karena dinilai lebih baik dibandingkan musim-musim sebelumnya. Meski demikian, sejumlah evaluasi tetap disampaikan demi meningkatkan kenyamanan jemaah pada penyelenggaraan haji tahun berikutnya.

Sekretaris Amirul Hajj Indonesia 2026 yang juga Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Prof Dr Hj Ilfi Nur Diana MSi menyoroti masih terbatasnya fasilitas toilet perempuan di kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna). Selain itu, persoalan sampah plastik menjadi perhatian serius dalam evaluasi haji tahun ini.

Dalam media briefing di daerah kerja Madinah, Prof Ilfi mengungkapkan antrean toilet perempuan menjadi salah satu keluhan yang paling sering disampaikan jemaah selama berada di Armuzna. Menurut dia, kondisi tersebut dipengaruhi jumlah jemaah perempuan yang lebih banyak dibanding laki-laki pada musim haji tahun ini. Persentase jemaah perempuan mencapai 55,5 persen atau lebih banyak sekitar 11 ribu orang.

Prof Ilfi menilai kebutuhan fasilitas sanitasi perempuan memang lebih besar karena berkaitan dengan kesehatan reproduksi, masa haid, istihadah, hingga faktor usia. Karena itu, waktu penggunaan toilet oleh perempuan relatif lebih lama. “Kalau jumlah toilet disamakan dengan laki-laki, antreannya tentu lebih panjang. Perempuan memang membutuhkan fasilitas yang lebih banyak,” ujarnya.

Prof Ilfi mengatakan pihaknya telah mendorong Kementerian Haji dan Umrah untuk terus berkomunikasi dengan otoritas Arab Saudi agar penambahan toilet perempuan di kawasan Armuzna dapat direalisasikan pada musim haji mendatang.

Selain persoalan sanitasi, Prof Ilfi juga menyoroti tingginya penggunaan botol plastik sekali pakai selama penyelenggaraan haji. Menurut dia, kepedulian terhadap lingkungan perlu menjadi bagian penting dalam pelaksanaan ibadah.
Ia mengapresiasi langkah syarikah yang mulai membagikan tumbler kepada jemaah sebagai upaya mengurangi sampah plastik. Namun, penggunaan tumbler dinilai belum optimal karena belum tersedianya dispenser air minum secara merata di kawasan Armuzna.

Karena itu, Prof Ilfi mengusulkan agar syarikah menyediakan dispenser atau titik pengisian air minum di berbagai lokasi sehingga jemaah dapat memanfaatkan tumbler secara maksimal. Ia juga mengusulkan agar pembagian tumbler dilakukan sejak jemaah masih berada di hotel agar kebiasaan menggunakan wadah minum pribadi bisa terbentuk sejak awal.

Selain itu, edukasi mengenai budaya antre dan kepedulian terhadap lingkungan dinilai perlu diperkuat sejak masa manasik haji hingga pelaksanaan ibadah di Tanah Suci.

Prof Ilfi memperkirakan setiap jemaah mengonsumsi sedikitnya 10 botol air mineral ukuran 220 mililiter per hari. Dengan jumlah jemaah Indonesia mencapai sekitar 220 ribu orang, volume sampah plastik yang dihasilkan dinilai sangat besar jika tidak dikelola dengan baik. “Kita harus menunjukkan kepada dunia bahwa ajaran agama juga mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan,” kata rektor perempuan pertama di UIN Malang tersebut.

Meski memberikan sejumlah catatan evaluasi, Prof Ilfi tetap mengapresiasi pelayanan haji tahun ini. Ia menyebut banyak jemaah merasa puas terhadap layanan transportasi, akses menuju Masjidil Haram, hingga penyediaan makanan khas Nusantara. Menurut dia, berbagai layanan tersebut membuat jemaah merasa mendapatkan pelayanan yang lebih nyaman selama menjalankan ibadah haji. (hsa/hel)

Exit mobile version