INDONESIAONLINE – Penutupan Selat Hormuz oleh Iran mulai memicu melonjaknya harga minyak mentah dunia.
Kawasan Hormuz memang merupakan jalur strategis yang dilalui hampir seperlima distribusi energi dunia. Gangguan selama beberapa hari terakhir memicu lonjakan harga di pasar komoditas global.
Mengutip data perdagangan, minyak Brent tercatat naik US$1,67 atau sekitar 2,05 persen ke posisi US$83,07 per barel. Sementara, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS menguat US$1,94 atau 2,6 persen menjadi US$76,60 per barel.
Ketegangan semakin meningkat setelah serangan AS dilaporkan menghantam kapal perang Iran di perairan lepas pantai Sri Lanka. Di dalam negeri AS, sejumlah senator Partai Republik menyatakan dukungan terhadap operasi militer Presiden Donald Trump dan menolak rancangan resolusi bipartisan yang bertujuan menghentikan serangan udara.
Dampak konflik mulai terasa pada sisi pasokan. Irak, produsen minyak terbesar kedua di OPEC, memangkas produksi hampir 1,5 juta barel per hari. Pengurangan ini dipicu keterbatasan kapasitas penyimpanan dan terganggunya jalur ekspor, menurut laporan Reuters yang mengutip pejabat terkait.
Di sisi lain, Qatar -salah satu eksportir utama gas alam cair (LNG) di kawasan Teluk- mengumumkan kondisi force majeure atas pengiriman gasnya. Sumber industri memperkirakan normalisasi produksi dapat memakan waktu setidaknya satu bulan.
Selama hampir lima hari terakhir, lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz dilaporkan terhenti. Otoritas operasi perdagangan maritim Inggris juga menerima laporan adanya ledakan besar yang terdengar oleh awak kapal tanker sekitar 30 mil laut tenggara Pelabuhan Mubarak Al Kabeer, Kuwait. Sebuah kapal kecil disebut terlihat meninggalkan lokasi tak lama setelah insiden.
Lembaga keuangan J.P. Morgan memperkirakan sekitar 329 kapal tanker minyak tertahan di kawasan Teluk. Meski Iran disebut belum secara langsung menargetkan sebagian besar infrastruktur energi vital, risiko terhadap aktivitas pelayaran dinilai tetap tinggi.
Menurut analisis bank tersebut, kapasitas penyimpanan energi di negara-negara Dewan Kerja Sama Teluk (GCC) serta level harga saat ini menjadi faktor yang dapat membatasi durasi kampanye militer AS. GCC sendiri beranggotakan Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Oman, dan Bahrain.
J.P. Morgan menambahkan, sebagian besar ladang minyak sebenarnya berpotensi kembali beroperasi dalam hitungan hari, sementara pemulihan kapasitas penuh umumnya membutuhkan waktu dua hingga tiga pekan. Namun, hambatan utama saat ini lebih bersifat logistik ketimbang geologis, termasuk kebutuhan membangun kembali tekanan reservoir secara bertahap, terutama di Irak yang bergantung pada injeksi air dalam proses produksinya. (rds/hel)
