INDONESIAONLINE – Belakangan ini, para pedagang dan pelaku usaha kecil dibuat pening dengan lonjakan harga plastik di pasaran. Kenaikan harga kemasan ini dilaporkan terjadi sangat cepat, bahkan dalam hitungan hari, dengan persentase yang cukup signifikan.
Kenaikan ini memberikan efek domino ke berbagai sektor. Mulai pedagang plastik kiloan, industri makanan dan minuman, jasa laundry, hingga usaha rumahan kini mulai merasakan dampaknya terhadap biaya operasional mereka.
Konflik Geopolitik Jadi Pemicu Utama
Melonjaknya harga plastik ternyata berakar dari gangguan distribusi energi di kawasan Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz. Sebagai jalur nadi pengiriman minyak mentah dan bahan baku petrokimia dunia, ketegangan di wilayah tersebut menghambat pasokan global.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik Plastik (Inaplas) Fajar Budiono menjelaskan bahwa 70 persen bahan baku utama plastik yang disebut nafta berasal dari Timur Tengah. Karena akses logistik terganggu, industri petrokimia kesulitan mendapatkan pasokan.
Sebagai turunan minyak bumi, harga nafta sangat bergantung pada harga minyak mentah dunia. Kelangkaan ini menyebabkan harga bahan dasar plastik seperti polietilen (PE) dan polipropilena (PP) melonjak drastis, bahkan menyentuh angka 30 persen hingga 50 persen di kategori tertentu.
“Sekarang akibat perang kan terus yang pertama Selat Hormuz kan ketutup sehingga bahan baku berupa nafta yang 70 persen itu datangnya dari Middle East (Timur Tengah) jadi tidak bisa terkirim ke para industri petrokimia,” kata Fajar.
Ketergantungan Global pada Selat Hormuz
Pentingnya jalur Selat Hormuz juga ditegaskan oleh Harrison Jacoby dari Independent Commodity Intelligence Services (ICIS). Ia menyebutkan bahwa sekitar 84 persen kapasitas ekspor polietilen Timur Tengah sangat bergantung pada jalur laut tersebut. Gangguan kecil di sana sudah cukup untuk mengguncang pasar plastik dunia secara instan.
Dampak Langsung ke Konsumen
Masyarakat perlu bersiap menghadapi kenaikan harga barang konsumsi dalam waktu dekat. Karena plastik merupakan komponen utama dalam pengemasan, kenaikan biaya produksi hampir pasti akan dibebankan kepada konsumen akhir.
Beberapa produk dan layanan yang diprediksi akan mengalami penyesuaian harga antara lain:
- Air minum dalam kemasan dan minuman botol.
- Peralatan makan sekali pakai (styrofoam dan sendok plastik).
- Produk makanan siap saji.
- Jasa laundry (plastik pembungkus pakaian).
- Kantong sampah dan plastik belanja.
Jika konflik di Timur Tengah tidak segera mereda, harga plastik diperkirakan masih akan bertahan di level tinggi. Kondisi ini menuntut para pelaku usaha untuk memutar otak agar tetap bisa bertahan di tengah biaya kemasan yang kian mencekik. (bn/hel)
