INDONESIAONLINE – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Israel dan Iran terlibat aksi saling serang lagi meski sebelumnya telah diberlakukan gencatan senjata. Situasi ini terjadi di tengah seruan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar kedua negara menahan diri dan tidak memperluas konflik.
Televisi pemerintah Iran melaporkan ledakan terjadi di tiga kota, termasuk ibu kota Teheran. Di saat yang sama, militer Israel menyatakan telah melancarkan serangan ke sejumlah target di wilayah barat dan tengah Iran.
Israel menyebut serangan tersebut sebagai respons atas peluncuran 11 rudal Iran pada Minggu (7/6/2026). Menurut pihak Israel, seluruh rudal berhasil dicegat dan tidak menimbulkan korban jiwa.
Trump sebelumnya berupaya meredam eskalasi dengan menghubungi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Dalam pernyataannya yang dikutip jurnalis Axios Barak Ravid, Trump menegaskan tidak ingin ada serangan lanjutan antara kedua negara.
“Saya akan menelepon Bibi (Benjamin Netanyahu) sekarang dan mengatakan kepadanya untuk tidak membalas. Israel telah menyerang dan Iran juga telah menyerang. Kita tidak membutuhkan serangan tambahan,” ujar Trump.
Barak Ravid kemudian menyebut seorang pejabat Amerika Serikat membenarkan percakapan Trump dengan Netanyahu meski Gedung Putih belum memberikan keterangan resmi.
Seruan serupa juga datang dari Menteri Luar Negeri Inggris Yvette Cooper yang meminta kedua negara menahan diri dan mengedepankan jalur diplomasi. Menurut dia, konflik berkepanjangan antara Iran dan Israel tidak menguntungkan pihak mana pun.
Iran menegaskan bahwa upaya penghentian perang secara permanen juga harus mencakup penghentian konflik di Lebanon. Teheran sebelumnya memperingatkan bahwa serangan Israel ke Beirut dapat memicu kembali perang skala penuh.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Ali Safari mengatakan serangan yang dilakukan Teheran merupakan respons setelah berminggu-minggu menahan diri dari serangan Israel. Garda Revolusi Iran bahkan menyebut aksi tersebut sebagai “peringatan” atas serangan Israel ke pinggiran selatan Beirut.
Pada Senin (8/6/2026), media Iran melaporkan Israel menyerang fasilitas petrokimia Karoon di Mahshahr, Iran barat daya. Serangan udara itu disebut menghantam area perusahaan petrokimia tersebut.
Sebelumnya, sirene serangan udara sempat berbunyi di Israel saat militer negara itu berusaha mencegat rentetan rudal Iran. Ini menjadi serangan pertama sejak gencatan senjata April lalu diberlakukan.
Iran juga mengklaim telah menyerang dua pangkalan udara Israel, yakni Nevatim dan Tel Nof. Garda Revolusi Iran menyebut operasi tersebut sebagai balasan atas serangan rudal Israel ke sejumlah lokasi radar di Iran.
Di sisi lain, militer Israel atau IDF menyatakan seluruh rudal yang ditembakkan Iran berhasil dihancurkan sebelum mencapai target.
Meski kedua negara masih saling melontarkan ancaman, Israel dan Iran sama-sama menyatakan telah menghentikan operasi serangan untuk sementara waktu.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengatakan situasi di garis depan telah terkendali setelah Israel melakukan serangan terhadap Teheran. Namun, ia memperingatkan Iran agar tidak kembali melancarkan serangan. “Jika Iran kembali menyerang, kami akan membalas dengan kekuatan penuh,” kata Netanyahu.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan Teheran tetap membuka ruang diplomasi sekaligus siap mempertahankan diri dari ancaman apa pun. “Diplomasi dan pertahanan adalah dua sayap kekuatan nasional. Kami tidak meninggalkan medan perang maupun meja perundingan,” ujar Pezeshkian.
Komando militer Iran Khatam al-Anbiya juga menyatakan operasi terhadap Israel telah dihentikan. Meski demikian, Iran memperingatkan akan melakukan serangan yang lebih besar apabila agresi Israel terus berlanjut, termasuk di Lebanon Selatan. (rds/hel)
