Beranda

Jelajah Warisan Nusantara: Saat Ratusan Motor Antik Menduniakan Malang

Jelajah Warisan Nusantara: Saat Ratusan Motor Antik Menduniakan Malang
Reli JAWARA 2026 resmi dimulai dari Malang Dan secara Langsung diberangkatkan Wali Kota Malang Wahyu Hidayat. 500 motor antik lintas negara jelajahi 550 KM ke Solo (jtn/io)

Reli JAWARA 2026 resmi dimulai dari Malang. 500 motor antik lintas negara jelajahi 550 KM ke Solo, bangkitkan ekonomi kreatif & pariwisata heritage.

INDONESIAONLINE – Udara pagi di depan Balai Kota Malang, Jumat (15/5/2026), tidak seperti biasanya. Deru mesin boxer dan dentuman silinder tunggal dari dekade 1920-an memecah keheningan “Paris van Oost-Java”. Ratusan pengendara dengan jaket kulit kusam dan helm retro bersiap mencatatkan sejarah dalam gelaran Jelajah Warisan Nusantara (JAWARA).

Bukan sekadar touring biasa, reli ini merupakan manifestasi dari kerinduan akan nilai-nilai historis. Sedikitnya 500 unit motor klasik, dengan rentang tahun produksi 1927 hingga 1976, berbaris rapi sebelum mengaspal sejauh 550 kilometer menuju Benteng Vastenburg, Solo.

Sinergi Dua Simpul Sejarah: Malang dan Solo

Pemilihan Kota Malang sebagai titik start bukanlah tanpa alasan teknis dan filosofis. Pembina Motor Antique Club Indonesia (MACI), Nanan Soekarna, menegaskan bahwa ada resonansi frekuensi antara kendaraan yang mereka kendarai dengan arsitektur kota yang mereka tinggalkan.

“Dari Malang-lah, kota heritage, sama dengan motornya. Motornya heritage semua,” ujar Nanan di sela-sela pelepasan peserta.

Secara historis, Malang merupakan kota yang dirancang oleh Thomas Karsten dengan konsep Garden City, dipenuhi bangunan kolonial yang masih kokoh berdiri.

Sementara itu, titik finis di Benteng Vastenburg Solo adalah saksi bisu kejayaan militer Belanda di Jawa Tengah. Menghubungkan keduanya dengan kendaraan dari era yang sama menciptakan sebuah narasi perjalanan melintasi waktu.

Reli JAWARA 2026 mencatatkan tinta emas sebagai reli internasional perdana berskala nasional yang diinisiasi oleh MACI. Daya tariknya tak hanya memikat kolektor domestik dari Aceh hingga Papua, tetapi juga peserta mancanegara. Biker dari Brunei Darussalam, Malaysia, hingga Australia terlihat antusias memacu tunggangan legendaris mereka di jalur selatan Jawa.

Kehadiran peserta asing ini menjadi validasi bahwa komunitas motor antik Indonesia, khususnya MACI yang berdiri sejak era 1970-an, telah masuk dalam peta otomotif global. Indonesia kini bukan lagi sekadar pasar, melainkan destinasi “Sport Tourism” dan “Automotive Tourism” yang diperhitungkan.

Dampak Multiplier: Lebih dari Sekadar Hobi

Narasi otomotif seringkali terjebak pada gaya hidup mewah, namun Nanan Soekarna membedah sisi lain yang lebih substansial: ekonomi kreatif. Restorasi motor tua adalah industri padat karya yang melibatkan ribuan tangan terampil.

“Motor tua ini menghidupi bengkel, montir, tukang cat, tukang las, dan sebagainya. Itu membantu pemerintah dalam konteks ekonomi kreatif,” ungkap mantan Wakapolri tersebut.

Data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) menunjukkan bahwa sektor otomotif menyumbang signifikan pada pertumbuhan PDB ekonomi kreatif. Aktivitas komunitas seperti JAWARA 2026 memberikan dampak langsung (direct impact) pada Sektor Perhotelan: Okupansi hotel di Malang melonjak tajam menjelang hari keberangkatan. Sektor Kuliner: UMKM lokal di sepanjang rute perjalanan mendapatkan limpahan omzet dari ribuan kru dan pendukung reli dan Sektor Jasa: Bengkel spesialis motor tua mendapatkan panggung untuk memamerkan kualitas restorasi Indonesia kepada dunia.

Malang: Titik Kumpul Otomotif Nasional

Fenomena JAWARA 2026 mempertegas posisi Kota Malang sebagai pusat gravitasi baru bagi komunitas otomotif. Karakter kota yang dingin, lanskap jalanan yang beragam, serta ketersediaan fasilitas penunjang membuat kota ini menjadi favorit.

“Hotel penuh, kulinernya laku, semuanya hidup. Ada multiplier effect-nya,” tambah Nanan.

Ia juga membocorkan bahwa dalam waktu dekat, komunitas Harley-Davidson hingga komunitas motor polisi juga akan menjadikan Malang sebagai titik tolak perjalanan panjang mereka menuju Bali dan wilayah timur Indonesia.

Bahkan, komunitas kendaraan roda empat klasik seperti VW Club Indonesia dikabarkan sedang menggodok agenda serupa. Transformasi Malang menjadi “Hub Otomotif Heritage” ini menjadi angin segar bagi upaya pemulihan ekonomi pasca-pandemi yang berkelanjutan.

Di balik kebisingan knalpot dan aroma oli samping, ada nilai persaudaraan (brotherhood) yang menjadi perekat. Di tengah polarisasi zaman, komunitas motor antik tetap konsisten menjaga soliditas tanpa memandang status sosial.

“Komunitas otomotif menjadi ruang mempererat persaudaraan dan memperkuat rasa kebersamaan. Ini modal penting menjaga soliditas di tengah perkembangan zaman,” tegas Nanan.

Saat bendera start dikibarkan, ke-500 motor tersebut bergerak beriringan. Dari Norton, BSA, BMW, hingga Harley-Davidson lawas, semuanya menyatu dengan aspal. Mereka bukan sekadar pindah dari satu titik ke titik lain, melainkan sedang merayakan warisan budaya yang tak lekang oleh waktu.

 

Exit mobile version