Beranda

Kerugian Ekonomi akibat Karhutla 2026 Capai Rp 167 Triliun, Ini Rinciannya

Kebakaran hutan di Kalimantan Barat. (afuid)

INDONESIAONLINE  – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda Indonesia sepanjang 2026 diperkirakan telah menyebabkan kerugian ekonomi mencapai Rp 167 triliun hingga pertengahan Oktober. Nilai tersebut bahkan berpotensi membengkak menjadi Rp 204 triliun apabila pola kebakaran pada sisa musim ini menyerupai kejadian pada 2015 dan 2019.

Perkiraan tersebut disampaikan Teguh Yudo Wicaksono, pakar ekonomi makro, analis kebijakan, sekaligus dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).
Teguh menjelaskan, angka kerugian itu berasal dari kajian yang menggunakan data dan metode penghitungan dengan merujuk pada studi Bank Dunia. Karena itu, hasil tersebut bukan merupakan angka resmi kerugian karhutla yang dikeluarkan pemerintah.

“Estimasi itu merupakan hasil kajian yang menggunakan data dan metode perhitungan berbasis studi Bank Dunia, bukan angka resmi kerugian yang diterbitkan pemerintah,” kata Teguh.

Berdasarkan kajian tersebut, kerugian sebesar Rp 167 triliun setara dengan sekitar 0,65 persen dari produk domestik bruto (PDB) nominal Indonesia pada 2026. Sementara itu, jika kerugian meningkat menjadi Rp 204 triliun hingga akhir musim kebakaran, nilainya diperkirakan setara dengan 0,79 persen PDB.

Meski demikian, hasil penghitungan tersebut masih memiliki rentang ketidakpastian. Estimasi kerugian ekonomi hingga pertengahan Oktober diperkirakan berada pada kisaran Rp 136 triliun hingga Rp 234 triliun.

Mengacu pada Kerugian Karhutla 2015

Dalam menyusun perkiraan tersebut, Teguh menggunakan metode benefit transfer, yakni pendekatan yang mengadaptasi hasil penilaian ekonomi dari studi terdahulu untuk memperkirakan dampak pada kondisi berbeda.
Acuan utamanya adalah kajian Bank Dunia mengenai kerusakan dan kerugian akibat kebakaran hutan dan lahan pada 2015. Ketika itu, total kerugian diperkirakan mencapai Rp 221,4 triliun dengan luas lahan terbakar sekitar 2,61 juta hektare.

Nilai kerugian tersebut kemudian disesuaikan dengan perubahan tingkat harga hingga 2026. Hasilnya, estimasi kerugian mencapai sekitar Rp 119,7 juta per hektare lahan terbakar.

Angka tersebut selanjutnya dikalikan dengan perkiraan luas kebakaran pada 2026 yang mencapai sekitar 1,39 juta hektare. Perkiraan luas itu disusun dengan memanfaatkan data satelit mengenai emisi karbon dan area terbakar, serta membandingkan pola musim kebakaran tahun ini dengan kejadian pada 2015 dan 2019.

Sementara itu, data resmi luas lahan terbakar yang digunakan dalam kajian tersebut baru mencapai 202.011 hektare hingga Juli 2026.

Pertanian Jadi Salah Satu Sektor dengan Kerugian Terbesar

Dari sisi sektoral, sektor pertanian diperkirakan menanggung kerugian sekitar Rp 50 triliun akibat karhutla.
Adapun kerugian pada sektor kehutanan diperkirakan mencapai Rp 41 triliun. Nilai kerugian yang dikaitkan dengan emisi karbon juga diperkirakan berada pada angka yang sama, yakni sekitar Rp 41 triliun.

Teguh menyebut, penghitungan kerugian akibat emisi karbon tersebut menggunakan asumsi harga karbon sebesar 5 dollar AS per ton.

Dampak ekonomi kebakaran hutan dan lahan tidak hanya berupa kerusakan kawasan hutan, lahan, maupun hilangnya hasil produksi. Kabut asap yang ditimbulkan juga dapat menghambat aktivitas ekonomi masyarakat, mengganggu perjalanan dan sektor pariwisata, serta merusak keanekaragaman hayati.

Selain dampak tersebut, masih terdapat sejumlah komponen kerugian yang belum dimasukkan ke dalam penghitungan. Di antaranya adalah dampak kesehatan dalam jangka panjang dan kerugian yang dialami negara-negara tetangga akibat asap lintas batas.

Jutaan Siswa Terdampak, Kasus ISPA Meningkat

Dampak karhutla juga terlihat dari terganggunya kehidupan sosial masyarakat di wilayah terdampak. Berdasarkan data yang dicantumkan dalam kajian tersebut, sekitar 1,43 juta siswa dilaporkan harus mengikuti pembelajaran dari rumah per 1 September 2026.
Selain itu, jumlah kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di daerah terdampak tercatat mencapai 283.270 kasus hingga 13 Oktober 2026.

Sementara itu, model Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) memperkirakan asap kebakaran pada Agustus 2026 berkaitan dengan sekitar 1.700 kematian. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak terbatas pada kerugian ekonomi secara langsung, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan dan kegiatan sehari-hari masyarakat.

Musim Kebakaran Belum Berakhir

Teguh mengingatkan bahwa potensi kerugian masih dapat berubah karena musim kebakaran pada 2026 belum sepenuhnya berakhir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim hujan mulai berlangsung pada November hingga Desember 2026. Perkembangan cuaca pada periode tersebut dapat memengaruhi kondisi kebakaran di berbagai wilayah.

Selain itu, proporsi lahan gambut yang terbakar hingga saat ini belum diketahui secara pasti. Kondisi tersebut menambah ketidakpastian dalam memperkirakan besarnya dampak akhir karhutla tahun ini.

Dengan demikian, angka kerugian Rp 167 triliun hingga pertengahan Oktober masih merupakan estimasi berdasarkan metode dan asumsi tertentu. Nilai akhirnya berpotensi berubah mengikuti perkembangan luas kebakaran, kondisi musim, serta komponen dampak yang dapat dihitung lebih lanjut. (rds/hel)

Exit mobile version