INDONESIAONLINE – Pemerintah Iran melayangkan peringatan keras kepada negara-negara di sekitarnya agar tidak mengizinkan wilayah mereka digunakan sebagai basis serangan terhadap Teheran. Iran menegaskan akan menganggap negara mana pun sebagai pihak musuh jika terlibat dalam serangan terhadap wilayahnya.
Peringatan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah menyusul potensi aksi militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran. Situasi memanas setelah militer AS mengumumkan masuknya kapal induk USS Abraham Lincoln ke wilayah operasi Komando Pusat AS (CENTCOM), didampingi tiga kapal perang yang dipersenjatai rudal jelajah Tomahawk, pada Senin (26/1) waktu setempat.
Presiden AS Donald Trump turut menegaskan kehadiran kekuatan militer tersebut dengan menyebut adanya “armada besar di dekat Iran”, sebuah pernyataan yang semakin meningkatkan kekhawatiran akan eskalasi konflik.
Merespons perkembangan tersebut, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan pernyataan tegas kepada negara-negara tetangga, khususnya yang memiliki kerja sama militer dengan AS. Deputi Politik Angkatan Laut IRGC Mohammad Akbarzadeh menegaskan bahwa Iran tetap menganggap negara-negara di kawasan sebagai sahabat selama wilayah mereka tidak dimanfaatkan untuk menyerang Iran. “Jika wilayah darat, udara, atau perairan negara tetangga digunakan untuk melawan Iran, maka negara tersebut akan diperlakukan sebagai pihak yang bermusuhan,” ujar Akbarzadeh, dikutip kantor berita Fars.
Pernyataan tersebut disampaikan setelah Uni Emirat Arab dan Arab Saudi secara terbuka menyatakan tidak akan mengizinkan wilayah mereka digunakan untuk melancarkan serangan terhadap Iran.
Ketegangan antara Teheran dan Washington kian meningkat setelah gelombang unjuk rasa antipemerintah melanda berbagai wilayah Iran. Ribuan demonstran dilaporkan tewas akibat tindakan keras aparat keamanan.
Awal bulan ini, Presiden Trump disebut hampir mengeluarkan perintah serangan militer terhadap target rezim Iran. Namun keputusan tersebut akhirnya ditunda, bersamaan dengan pengerahan tambahan aset militer AS ke kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, Akbarzadeh menegaskan bahwa Iran tidak menginginkan pecahnya perang. Namun, ia menekankan bahwa negaranya berada dalam kondisi siap menghadapi segala kemungkinan dan tidak akan mundur jika konflik benar-benar terjadi.
Selain itu, Iran kembali melontarkan ancaman penutupan Selat Hormuz apabila perang pecah. Jalur perairan strategis tersebut diketahui menjadi lintasan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
“Iran memiliki kemampuan intelijen secara real-time di Selat Hormuz, baik di atas maupun di bawah permukaan laut. Keamanan jalur ini sepenuhnya bergantung pada keputusan Teheran,” kata Akbarzadeh.
Ia menambahkan bahwa Iran tidak berniat merugikan perekonomian global, namun menegaskan bahwa Amerika Serikat dan sekutunya tidak akan memperoleh keuntungan dari konflik yang mereka picu. (rds/hel)
